Iskud’s Blog

Dampak Negatif Reformasi Terhadap Paham Keagamaan

Posted on: 21 March 2009

Oleh Daud Rasyid (Ketua Program Studi Hadits pada Pascasarjana IAIN Bandung)

Sudah lazim setiap kondisi membawa sejumlah implikasi terhadap lingkungan di sekitarnya. ‘Iklim tertutup’, misalnya, ada buruk dan ada baiknya. Begitu juga iklim yang ‘terbuka’, ada positif dan tidak kecil negatifnya. Apalagi jika munculnya suatu kondisi, tidak dipersiapkan sebelumnya, maka seringkali apa yang dibayangkan indah sebelumnya berubah menjadi suasana yang mengkhawatirkan. Lain halnya bila perubahan itu memang direncanakan jauh-jauh hari, sehingga segala implikasi negatif memang sudah diprediksi sebelumnya sehingga bisa dilakukan upaya-upaya antisipatif untuk mencegah atau paling tidak meminimalisir ekses yang timbul dari perubahan tersebut. Reformasi di negeri ini tampaknya merupakan suatu perubahan mendadak yang tidak direncanakan oleh seseorang atau sebuah kelompok. Sehingga ekses-ekses negatif yang merupakan konsekuensi dari reformasi tak sempat terfikirkan oleh pencetus-pencetus reformasi, tiba-tiba ia muncul sebagai suatu realita dan fenomena, yang seringkali justru lebih buruk dari kondisi sebelumnya.

Salah satu buah dari reformasi adalah keterbukaan. Setiap orang atau kelompok merasa bebas untuk menyampaikan pikiran dan pendapatnya di tengah alam reformasi ini seperti apapun pendapat itu. Lalu selanjutnya diserahkan ke pasar yang akan merespon ide tersebut, apakah ia diterima lalu mendapatkan dukungan. Atau sebaliknya ditolak sehingga ide itu hanya ibarat angin lalu dan tidak meninggalkan pengaruh. Hal ini berlaku untuk berbagai dataran, seperti politik, budaya, ekonomi, sampai kepada paham keagamaan. Bila kebebasan itu masih dalam dataran politik, barangkali masih dalam kawasan yang dapat diterima, apalagi mengingat munculnya reformasi berangkat dari politik dan kekuasaan. Tetapi bila kebebasan itu telah menerobos rambu-rambu keagamaan dan doktrin-doktrinnya, hal ini akan dapat membahayakan.

Akhir-akhir ini, banyak paham-paham keagamaan yang muncul di masyarakat dengan membawa simbol-simbol Islam. Paham-paham tersebut bila diukur dengan standar Islam yang baku (Al-Qur’an dan Sunnah) jelas-jelas bertentangan dan tidak boleh dibiarkan, karena dapat menyesatkan masyarakat yang masih awam. Sebagian dari paham itu tadinya pada masa orde baru, memang sudah muncul, tetapi tidak menampakkan kegiatannya, karena takut dianggap sebagai faham sesat dan meresahkan masyarakat. Alasan yang terakhir ini dapat mengundang aparat keamanan untuk campur tangan dalam mencegah keresahan masyarakat. Namun ada sebagian ajaran itu dari dulu tidak terdengar sama sekali, mungkin karena sangat rahasia (full secret), tetapi di era keterbukaan ini, dengan menunggangi iklim reformasi, faham-faham itu muncul, mendeklarasikan dirinya dan melaksanakan aktifitasnya dengan sangat terbuka bahkan sebagian diblow-up oleh media massa. Tetapi, pihak-pihak tertentu yang bertanggungjawab menjaga kemurnian ajaran Islam, seperti MUI, ormas-ormas Islam umpamanya, jarang terdengar suaranya dalam merespons faham-faham tersebut. Sehingga tak sedikit umat Islam yang kebingungan, apakah ajaran yang dibawa mereka itu masih tergolong benar atau sudah bertentangan dengan ajaran Islam yang murni.

1. Salah satu faham-faham itu ialah aliran Ahmadiyah. Aliran yang lahir pada tahun 1900 ini pada awalnya adalah rekayasa kolonial Inggris yang menjajah India. Dalam ‘Ensiklopedia Agama dan Aliran Modern’ terbitan WAMY, Riyadh, tahun 1989 disebutkan, bahwa target Inggris adalah untuk menjauhkan umat Islam dari ajarannya, khususnya mengenai konsep jihad yang oleh Inggris dirasakan sebagai sumber ancaman dalam agama Islam. Tokoh utama aliran ini ialah Mirza Ghulam Ahmad (1839-1908) yang diyakini pengikutnya sebagai Nabi yang mendapat wahyu dari Allah swt. Dia adalah al-Masih yang dijanjikan Allah. Kenabian (al-Nubuwwah), menurut mereka tidak berakhir dengan diutusnya Nabi Muhammad saw. Tetapi kenabian itu berlangsung terus, kapan saja Allah dapat mengutus Rasul-Nya dalam keadaan memaksa. Ghulam Ahmad adalah Nabi yang terbaik. Mereka mendakwakan kitab suci yang diturunkan kepada Ghulam Ahmad di luar al-Qur’an dengan sebuatan ‘al-Kitab al-Mubin’, yang di Indonesia populer dengan sebutan ‘tazkirah’. Kitab ini tak lebih dari pemotongan-pemotongan terhadap ayat al-Qur’an dan merubah-rubah isinya. Ketika umat Islam di Pakistan melakukan perlawanan keras terhadap pengikut Ahmadiyah, akhirnya mereka banyak yang menyingkir ke Inggris –negara induknya- dan mengembangkan ajarannya di sana. Untuk meredam kemarahan umat Islam dan sekaligus sebagai siasat mendekati umat, pimpinan-pimpinan Ahmadiyah merubah sebagian doktrinnya. Kalau tadinya, Ghulam Ahmad diyakini sebagai Nabi, maka sekarang dia diyakini mereka sebagai reformis saja. Akan tetapi, apapun predikat yang disandang oleh Ghulam Ahmad, pasti tidak akan merubah penilaian Ulama dan umat Islam terhadap anggota gerakan ini sebagai orang yang telah keluar dari ajaran pokok Islam. Sejumlah ulama berkaliber internasional yang bermukim di kawasan Asia Selatan itu ikut menghadapi faham ini, seperti Abul Hasan al-Nadawi, Abul A`la al-Maududui, dan ahli-ahli hadits India dan Pakistan.

Di Indonesia, Ahmadiyah sudah dilarang MUI sejak tahun 1980 dan dinyatakan sebagai ajaran sesat dan keluar dari Islam. Tampaknya di masa reformasi ini, ada upaya pihak-pihak tertentu yang ingin mencabut fatwa MUI itu dan menggiring publik opini untuk menganggap Ahmadiyah sebagai bagian dari umat Islam dan perbedaan faham Islam dengan Ahmadiyah hanya soal kecil saja. Oleh karenanya mereka perlu diterima di tengah masyarakat. Apalagi jika benar sinyalemen bahwa ada di antara pejabat tinggi pemerintah sekarang ini yang menganut faham Ahmadiyah.

Akhir-akhir ini sehubungan dengan acara ‘tasyakkuran 75 tahun’ Jema`at Ahmadiyah Indonesia (JAI), Mirza Thahir Ahmad, khalifah IV Ahmadiyah datang ke Indonesia dan menjadi pembicara dalam seminar yang diselenggarakan oleh International Forum on Islamic Studies (IFIS) yang dipimpin oleh Dawam Rahardjo. Lebih disayangkan lagi adanya upaya untuk menghubungkan antara Ahmadiyah dengan Muhammadiyah. Mirzat dalam kunjungannya ini berhasil menemui Amien Rais yang mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Presiden Gus Dur. Dalam laporan tabloid Tekad, dikatakan bahwa Ahmadiyah akan menjalin kerjasama positif dengan Muhammadiyah. Sulit dibayangkan secara rasional, mencari titik temu antara Ahmadiyyah dan Muhammadiyah, konon lagi mau menjalin kerjasama. Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini dikenal sebagai gerakan anti bid`ah, syirik dan khurafat, bagaimana mungkin bisa bertemu dengan faham yang bukan saja mempelopori bid`ah bahkan mengajarkan kekufuran dan kemurtadan.

Dalam wawancaranya, Mirzat mengatakan bahwa konsep negara dalam Islam lebih dekat dengan negara sekuler sekarang ini, karena menurut dia, Ahmadiyah lebih bisa hidup di Inggris yang sekuler ketimbang di Pakistan yang secara formal sebagai negara Islam. Ini tidak mengherankan. Sebab Inggrislah yang membidani lahirnya faham ini sejak awal. Dan Ahmadiyah memang tidak layak hidup di negara Islam, karena pemerintahan Islam tidak boleh mentolerir faham-faham yang akan merusak ajaran Islam yang murni.

1. Faham lain yang mulai terdengar di era keterbukaan ini ialah Baha’i. Baha’i sebagai suatu aliran di Timur Tengah memang sudah lama kedengaran. Tetapi di Indonesia, faham ini baru terdengar dalam bulan bulan terakhir ini. Lahir tahun 1844 didalangi oleh sejumlah kekuatan antara lain kolonial Rusia, Yahudi internasional dan Inggris dengan tujuan merusak akidah Islam serta memecahbelah persatuan umat Islam. Karena dengan munculnya faham baru pasti akan menimbulkan pro-kontra di tubuh umat. Yang pro dan kontra akan semakin meruncing sehingga pada saatnya akan menimbulkan konflik. Hal ini sangat menguntungkan bagi kaum kolonial barat. Sekarang ini pengikutnya tersebar di beberapa negara antara lain, yang terbesar ada di Iran, kemudian sebagian kecil di Iraq, Suriah, Libanon, dan Palestina. Pendiri gerakan ini adalah Mirza Ali Muhammad Reza al-Syirazi (1819-1849). Setelah meninggal dia digantikan oleh Mirza Husein `Ali yang digelari al-Baha’. Dari sinilah ajarannya disebut Baha’iyah. Buku karyanya yang dikenal adalah ‘Al-Aqdas’. Ajaran pokoknya antara lain bahwa Mirza Ali adalah al-Bab yang menciptakan segala sesuatu dan dengan ucapannya terjadi segala sesuatu di alam ini. Mereka juga meyakini kebenaran faham hulul dan ittihad (penyatuan antara Tuhan dan makhluk). Angka 19 adalah angka keramat. Mereka mengakui kenabian Budha, Konfuchius, Brahma, Zradasyt dan tokoh-tokoh Persia kuno. Membenarkan penyaliban Nabi Isa. Mengingkari adanya mukjizat para Nabi, Malaikat dan mengingkari adanya syurga dan Neraka. Masih banyak lagi ajaran Baha’i yang jelas-jelas keluar dari Islam.

Sumber ajarannya adalah ramuan dari sejumlah faham dan agama, antara lain : Syi`ah dan turats Persia pra-Islam, Budha, Brahma, Zradasyti, Manu, Mazdak. Juga ada unsur Yahudi, Nasrani dan faham-faham kebatinan lainnya. Di Indonesia faham ini mengklaim punya pengikut di berbagai daerah antara lain di Tasikmalaya dan menuntut agar pemerintah memberi mereka hak untuk tumbuh dan dalam KTP anggotanya agar diizinkan mengisi kolom agama dengan : Baha’i. Disinyalir ada keluarga produser film sinetron populer asal Pakistan adalah aktifis Baha’i.

1. Jika Ahmadiyah dan Baha’i adalah faham yang diimpor, maka nabi-nabi palsu juga bermunculan di Indonesia. Adalah Lia Aminuddin mengklaim dirinya mendapatkan wahyu dari Jibril melalui mimpi. Dan puteranya adalah al-Masih yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Faham ini mendeklarasikan dirinya sebagai agama ‘Salamullah’. Aliran ini menerima menjadi anggotanya semua penganut agama dan –katanya- mengajarkan hidup damai antar sesama pemeluk agama. Aliran ini mendapat reaksi keras dari umat Islam, namun ada tokoh-tokoh tertentu yang mencoba membela keyakinan Lia Aminuddin yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip dasar Islam.

2. Meditasi ala Anand Kreshna.

Tak kurang bahayanya bagi ajaran Islam, adalah faham yang akhir-akhir ini dikembangkan oleh Anand Kreshna. Faham ini terbilang baru dari segi baju dan nama, tetapi dari sisi substansi sudah kuno. Pusat aliran ini adalah di India dan pemimpinnya adalah seseorang yang dikenal dengan julukan Baba. Baba ini mempunyai ajaran yang ingin menyatukan semua agama, khususnya Yahudi, Kristen dan Islam. Tampaknya seruan untuk menyatukan tiga agama tersebut adalah sebuah rekayasa Zionis untuk merusak akidah kaum muslimin. Banyak keturunan etnis India di kota-kota besar di Indonesia menganut ajaran Baba ini. Anand Kreshna sendiri terbilang produktif dalam memasarkan ajaran dan faham Baba tersebut. Tak kurang dari tigapuluhan bukunya sudah terbit di Gramedia dan terbilang buku-buku yang laris terjual. Peminat ajaran meditasi ini kebanyakan dari kalangan elit, eksekutif, selebritis yang haus akan ketenangan batin. Tetapi tidak menemukan jalan yang benar melainkan harus menempuh meditasi di bawah bimbingan Anand Kreshna. Banyak dari mereka mengikuti pengajian Kreshna di Paramadina yang menjadi salah satu pos Kreshna.

Ajaran Kreshna bertumpu pada tiga pokok, yaitu : 1. Tuhan adalah aku, Aku adalah Tuhan. 2. Reinkarnasi, 3 Semua agama adalah sama. Dua ajaran pertama merupakan faham yang dianut sekelompok sufi yang sesat pada abad-abad yang silam. Sedangkan ajaran ketiga boleh dibilang baru karena muncul di tengah dominasi Yahudi dalam berbagai sektor kehidupan di dunia kontemporer.

Al-kisah, suatu hari salah satu buku Anand yang berisi ajaran ‘reinkarnasi’ dibedah di rumah ibadah umat Islam, di Masjid Syarif Hidayatullah, Ciputat. Buku dengan judul ‘AH! Mereguk Keindahan Tak Terkatakan’ itu dibedah oleh dua orang doktor filsafat, dosen IAIN Jakarta (Komaruddin Hidayat dan Kautsar), ditambah Lia Aminuddin dan Anand sendiri. Ketiga pembicara sepakat menerima dan membenarkan ajaran reinkarnasi yang ditulis oleh Anand dalam buku itu. Orang Islam yang benar imannya pasti akan terusik emosinya dengan pelecehan dan pelesetan Krishna terhadap hokum al-Qur’an. Krishna menulis di halaman 23: “Undang-undang Dasar yang disahkan pada tahun 1945, sudah terasa kadaluwarsa, sudah perlu disempurnakan. Apalagi undang-undang yang sudah berusia sekian abad.” Ungkapan ini tidak bisa dipahami selain pelecehan dan penghinaan terhadap Al-Qur’an yang menjadi undang-undang dalam kehidupan seorang muslim. Tapi Anand Krishna dengan leluasa mengembangkan ajaran meditasinya di berbagai tempat, termasuk di Paramadina. Dan hingga saat ini tak terdengar suara yang menantang kesesatan mereka.

Bila diperhatikan aliran-aliran sempalan yang sekarang ini mulai tumbuh di tengah alam kebebasan mempunyai titik temu yang perlu dicermati, yaitu 1. Bersumber dari faham mistisisme-sufi. 2. Ada upaya ke arah menyatukan semua agama dalam faham baru. Kedua unsur ini tak lepas dari pengaruh kuku-kuku Yahudi. Yahudi Zionis berambisi kuat untuk menggabungkan semua agama menjadi satu payung. Arah ini terlihat jelas dalam ajaran Anand Krishna, Baha’i, Lia Aminuddin dan lainnya. Demikian pula muara faham-faham sesat tersebut dari mistisisme sufi yang sejak dulu membuat masalah terus bagi kehidupan ummat Islam dan sikap para Ulama sangat tegas terhadap mereka (khuruj `an al-millah).

Di Indonesia akhir-akhir ini kajian tasawwuf mulai berkembang, setidak-tidaknya dalam dataran media massa. Fenomena ini bukanlah sesuatu yang menggembirakan dan sama sekali tidak terkait dengan fenomena shahwah islamiyah. Sangat boleh jadi acara-acara ini ditumpangi oleh gerakan tertentu yang memanfaatkan kehausan sebagian masyarakat muslim pada agama. Tujuan mereka adalah untuk semata-mata menanamkan pengkultusan kepada `Ali bin Abi Thalib dan menampakkan rasa permusuhan kepada sahabat-sahabat lainnya.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah mentang-mentang adanya keterbukaan dan kebebasan, lantas setiap orang atau kelompok bebas mendeklarasikan fahamnya kendatipun faham itu jelas-jelas menyimpangkan akidah dan ajaran Islam dari sumbernya yang asli. Mereka yang menyebarkan faham-faham aneh itu tidak bisa mengatakan tak ada hubungannya dengan Islam dan ummatnya. Yang mereka jadikan sebagai sasaran adalah kaum Muslimin khususnya yang lemah iman. Dan ajaran-ajaran mereka sedikit banyak menempel-nempel pada Islam atau menggunakan simbol-simbol Islam dengan tujuan buruk yaitu menyimpangkan ajaran Islam yang murni.

Maka dalam kondisi seperti inilah peran MUI justru lebih dirasakan mendesak untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa faham-faham itu adalah sesat dan agar umat islam berhati-hati dan tidak terpengaruh padanya. MUI juga harus mendesak kepada pemerintah untuk melarang penyebaran dan aktifitas faham dan aliran itu. Jika tidak, akan semakin banyak jumlah orang-orang yang tersesat di negeri ini dan ini sedikit banyak merupakan tanggungjawab alim ulama di hari kemudian kelak. Reformasi harus didudukkan pada proporsinya. Bukan mentang-mentang reformasi segala sesuatunya serba boleh dan semua rambu, bebas untuk dilanggar.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIYAH

KATEGORI

ARSIP

ONLINE

Counter Powered by  RedCounter
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: