Iskud’s Blog

Archive for the ‘TANYA JAWAB’ Category

Pertanyaan:
Bolehkah melakukan satu ibadah dengan beberapa niat? Apa dalilnya?
Jawaban:
Soal serupa pernah ditanyakan kepada Syekh Shalih al-Fauzan dengan redaksi, “Bolehkah shalat dua raka’at dengan niat shalat sunnah wudhu, tahiyatul masjid, dan sunnah zuhur secara bersamaan? Apakah cukup dua raka’at saja untuk semuanya?”
Beliau menjawab, “Ya, boleh bagi seseorang untuk shalat sunnah zuhur dan mencukupi dia dua raka’at untuk tahiyatul masjid dan sunnah wudhu. Namun, jika dilakukan satu persatu, maka lebih afdhal dan lebih banyak pahalanya.” (Al-Muntaqa, 5/41)
Al-Hafizh Ibnu Mulaqqin menerangkan hadits pertama dalam Umdatul Ahkam, beliau berkata, “Dalam riwayat pertama, ‘niat’ dimufradkan (dijadikan bentuk tunggal) dan ‘amal-amal’ dijamakkan karena mufrad yang ma’rifat dengan ‘al’ menunjukkan keumuman. Maksudnya, semua amal, jika dilihat dari individunya, maka membutuhkan satu niat saja. Ada pula kemungkinan bahwa satu amalan membutuhkan beberapa niat jika ditujukan untuk kesempurnaan amal, sebagaimana orang yang berniat makan untuk menghilangkan lapar, menjaga kesehatan, dan menambah kekuatan dalam beribadah, atau yang lainnya. Dengan berbilangnya niat maka berbilang pula pahalanya.’”
Sumber: Majalah Mawaddah, Edisi 12, Tahun Ke-1, Jumadits Tsaniyah-Rajab 1429 H/Juli 2008.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi http://www.konsultasisyariah.com)

Assalamu’alaikum wr. wb.
Pak Ustadz yang saya hormati dan semoga selalu dalam lindungan Allah SWT, sekarang ini tidak sedikit kasus orang menikah pada saat sang wanita sudah terlanjur hamil. Apakah pernikahan tersebut sah? Apakah mereka harus dinikahkan kembali setelah anak mereka lahir?
Terima kasih atas jawabannya.
Wassalamualaikum
ujang
Jawaban
Waaalakumussalam Wr Wb
Saudara Ujang yang dimuliakan Allah swt.
Memang muncul banyak pertanyaan di masyarakat—juga di rubrik ini—tentang pernikahan yang dilakukan seorang wanita yang terlanjur hamil sebelum menikah yang pada umumnya dikarenakan perzinahan yang dilakukannya.
Pergaulan yang serba bebas tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya yang jauh dari rambu-rambu syariah terlebih lagi didukung oleh berbagai sarana yang mudah diakses dan digunakan dalam kemaksiatan maka menjadikan perzinahan sering terjadi dan tidak jarang menghiasi berita-berita di kota-kota besar.
Perzinahan merupakan perbuatan yang sangat buruk dan pelakunya diancam dosa besar oleh Allah swt, firman-Nya,”Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa : 32) Hal itu dikarenakan terlalu banyaknya efek yang ditimbulkan dari perzinahan, baik efek psikologi, sosial maupun moral.
Dilain sisi islam memuliakan pernikahan dan menjadikannya halal dilakukan oleh manusia. Pernikahan adalah sarana bagi seseorang untuk mendapat ketenangan dan ketentraman hidup yang dibutuhkan oleh setiap orang, sebagaimana firman Allah swt :
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ruum : 21)
Para ulama telah berbeda pendapat dalam masalah sah tidaknya prnikahan seorang wanita yang sedang hamil dikarenakan zina :
1. Para ulama Maliki, Hambali dan Abu Yusuf dari madzhab Hanafi mengatakan tidak diperbolehkan pernikahannya sebelum dia melahirkan, tidak dengan lelaki yang menzinahinya atau dengan lelaki yang lainnya. Hal ini dikarenakan keumuman sabda Rasulullah saw,”Seorang wanita yang sedang hamil tidak boleh digauli sehingga dia melahirkan..” (HR. Abu Daud) dan sebagaimana riwayat dari Said al Musayyib bahwa seorang laki-laki telah menikahi seorang wanita dan ketika diketahui bahwa wanita itu sedang hamil dan diberitahukanlah hal ini kepada Nabi saw maka beliau saw pun memisahkan mereka berdua.” (HR. Baihaqi)
2. Para ulama Syafi’i, Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat bahwa dibolehkan pernikahan seorang wanita yang sedang hamil karena perzinahan dikarenakan belum terkukuhkannya nasab, sebagaimana sabda Nabi saw,” Anak itu bagi yang memiliki tempat tidur sedang bagi yang berzina tidak memiliki apa-apa.” (HR. Jama’ah kecuali Abu Daud). Tidak disyaratkan taubat untuk kesahan pernikahan seorang wanita pezina menurut jumhur ulama, sebagaimana yang diriwayatkan dari Umar yang pernah memukul seorang laki-laki dan perempuan pezina dan dia menganjurkan untuk mengumpulkan keduanya.
Para ulama Hambali mensyaratkan kesahan akad seorang wanita zina dengan adanya pertaubatan dari wanita itu atas zina yang dilakukannya, sebagimana firman Allah swt :
الزَّانِي لَا يَنكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Artinya : “atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An Nuur : 3)
Seorang wanita yang belum bertaubat dari perbuatan itu maka ia masih terdeskreditkan oleh perzinahan dan apabila ia telah bertaubat maka hilanglah pendeskreditan itu, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Seorang yang bertaubat bagai orang yang tidak ada baginya dosa.” (HR. Ibnu majah, Baihaqi)
Didalam fiqih Syafi’i hanya ada satu pendapat bahwa tidak ada mahram pada mani hasil dari zina, hal itu dibuktikan dengan tidak adanya hukum nasab didalam warisan maupun yang lainnya. Maka dari itu akad nikah dari seorang wanita hamil dari berzina adalah sah baik dengan orang yang menzinahinya atau yang lainnya namun dimakruhkan untuk menggaulinya demi menghindari perselisihan dalam hal keharamannya. Ini juga pendapat yang masyhur dari Imam Malik dan salah satu dari dua riwayat Imam Abu Hanifah dan pendapat dari Imam Muhammad bin al Hasan.
Dengan demikian maka akad seorang wanita hamil karena zina adalah sah namun dimakruhkan untuk menggaulinya hingga dia melahirkan apa yang dikandungnya dari hasil perzinahan tersebut, menurut para ulama Syafi’i. Diharamkan menggaulinya, menurut Abu Hanifah dan Muhammad. Sedangkan didalam madzhab Maliki terdapat beberapa pendapat , ada yang mengatakan : diharamkan, ada yang mengatakan : makruh, ada yang mengatakan : boleh dan ada juga yang mengatakan : dianjurkan. Kemudian bayi yang dilahirkan dari hasil zina ini hanya dinasabkan kepada ibunya saja dikarenakan dialah yang mengandungnya dari zina itu dan tidak kepada suaminya. (Buhuts wa Fatawa Islamiyah juz II hal 220 – 221)
Dengan demikian pernikahan seorang wanita yang sedang hamil karena zina ketika seluruh persyaratannya terpenuhi maka ia dianggap sah dan tidak perlu lagi diulangi setelah anak yang dikandung dari hasil perzinahan tersebut terlahir.
Wallahu A’lam
Ustadz Sigit Pranowo, Lc. al-Hafidz
eramuslim.com

PERTANYAAN:
Assalamu’alaikum. Pak Kiyai, dalam khutbah Jum’at di sebuah Masjid  yang berada di Kawasan Kalibata, seorang Khotib menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Beliau mengatakan (tanpa menyebut teks hadits yang dimaksud) bahwa tidur di siang hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah, sementara diamnya adalah dzikir. Apa itu benar?. Syukran

Pak Nur, Kalibata, Jakarta Selatan

Waalaikumussalam Wr Wb

Pak Nur yang dirahmati Allah

Memang ada beberapa hadits populer seputar Ramadhan yang sering dibacakan oleh pada da’i, khotib dan penceramah. Mereka bermaksud untuk memotivasi kaum muslimin untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Berkaitan dengan persoalan yang Bapak tanyakan juga demikian. Ungkapan “tidur di siang hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah” itu sudah demikian luas diketahui oleh banyak orang dan disampaikan secara terus-menerus setiap menyambut Ramadhan dan dalam bulan Ramadhan.

Betapa pentingnya mengenai permasalahan ini membuat seorang ulama ahli hadits Indonesia, KH. Musthofa Ali Ya’kub menulis secara khusus sebuah buku yang berjudul ”Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan”. Setelah dilakukan pengkajian ternyata hadits yang mengungkapkan hal itu bukanlah hadits yang tercantum dalam kitab-kitab hadits populer. Hadits itu diriwayatkan oleh Imam Al Baihaki dalam Kitab Syu’ab al Iman, kemudian dinukil oleh Imam As Suyuti dalam kitab Al Jami’ al Saghir.

Bunyi hadits itu adalah: ”Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan dan doanya diampuni” (Jami’ Al Saghir, karya Imam As Suyuti, juz II/678)

Menurut Imam Al Baihaki, di dalam sanad hadits itu terdapat nama-nama seperti Ma’ruf bin Hasan, seorang rawi yang dha’if dan Sulaiman bin Amr al Nakha’i, seorang rawi yang lebih dhaif dari pada Ma’ruf. Bahkan menurut Al Hafizh Al Iraqi, Sulaiman adalah seorang pendusta. Demikianlah perkataan Imam Al Baihaki sebagaimana dikutip oleh Al Minawi dalam Kitab Faidhul Qadir Juz VI/291.

Al Minawi sendiri kemudian menyebutkan beberapa nama rawi yang terdapat dalam sanad hadis di atas, yaitu Abdul Malik bin Umair, seorang yang dinilai sangat dha’if. Rawi yang paling parah adalah Sulaiman bin Amr al Nakha’, karena menurut para ahli hadits dia adalah pendusta dan pemalsu hadits. Demikian merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Imam Bukhari dan Yazid bin Harun. (lihat Mustofa Ali Ya’kub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan, hal. 42)

Sementara itu menurut Ibnu Hibban, Sulaiman bin Amr al Nakha’i adalah orang Baghdad, yang secara lahiriyah adalah orang shalih tetapi ia memalsu hadis. Imam Al Hakim yakin secara pasti bahwa Sulaiman Al Nakha’i adalah pemalsu hadis. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa status hadis di atas adalah palsu (mawdhu’). Hadis palsu jelas tidak bisa dijadikan sebagai hujah (dalil).

Dengan demikian tidurnya orang yang berpuasa bukanlah ibadah karena hadits itu tidak benar berasal dari Rasulullah saw.

Tingkatkan Amal Ibadah

Bagi setiap muslim, Ramadhan adalah bulan ibadah. Bulan yang didalamnya diperintahkan untuk berpuasa, shalat tarawih, membaca al Qur’an, bersedekah, iti’kaf pada sepuluh hari terakhirnya. Berbagai amal-amal ketaatan diperintahkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan ini sebagai sebab untuk mendapatkan surga Allah yang pintu-pintunya dibuka khusus di bulan ini dan hendaklah menjauhi berbagai pelanggaran dan kemaksiatan yang dapat mendorongnya kedalam neraka.

Untuk itu hendaklah setiap muslim bersabar di dalam melaksanakan amal-amal tersebut menjadikan waktu-waktunya penuh dengannya dan menyedikitkan waktu tidurnya. Tidaklah dibenarkan seorang yang berpuasa hanya menghabiskan sepanjang siangnya dengan tidur meskipun hal ini tidaklah diharamkan selama dirinya masih menunaikan kewajiban-kewajiban shalat pada waktu-waktunya.

Tidaklah banyak kebaikan dan keberkahan yang bisa diraih oleh orang yang mengisi waktunya hanya dengan tidur saja karena dirinya telah kehilangan banyak kesempatan beribadah. Jadi jangan sia-siakan waktu kita di bulan Ramadhan hanya dengan memperbanyak tidur. Allahuma Balighna Ramadhan…

Oleh: KH. A Cholil Ridwan, Lc (Ketua MUI Pusat)

Assalamu alaikum Wr.Wb.

Ustadz… saya mau bertanya bagaimana cara menghitung jumlah zakat yang harus kita keluarkan yang mana zakat yang mau dikeluarkan itu berasal dari penghasilan bulanan ( Gaji ).

Terima kasih.

Wassalam.

Nasir

Jawaban

Wa’alaikum salam wr. wb. Terima kasih atas pertanyaannya Bapak Nasir yang baik.

Zakat penghasilan gaji bulanan /zakat profesi adalah zakat yang dikenakan pada setiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun bersama dengan orang/lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) halal yang memenuhi nisab (batas minimum untuk wajib zakat). Para ulama kontemporer dalam menentukan tarif zakat profesi juga berbeda, pendapat yang masyhur adalah pendapat Muhammad Abu Zahrah, Abdurahman Hasan, Abdul Wahhab Khollaf, Yusuf Qaradhawi, Syauqy Shahatah dan yang lainnya sepakat bahwa tarif zakat penghasilan profesi adalah 2,5 %. Menurut Didin Hafiduddin Zakat penghasilan bulanan ( Gaji ) dianalogikakan dengan zakat pertanian dikeluarkan saat mendapatkan panen/hasil gajian. Jika seorang muslim memperoleh pendapatan dari hasil gaji atau profesi tertentu, maka dia boleh mengeluarkan zakatnya langsung 2.5 % pada saat penerimaan.

Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Umar bin Abdul Aziz dan ulama modern seperti Yusuf Qardhawi tidak mensyaratkan haul (satu tahun) mengeluarkan zakat profesi, tetapi zakat profesi dikeluarkan langsung ketika mendapatkan harta tersebut. Mereka mengqiyaskan dengan zakat pertanian yang dibayar pada setiap waktu panen. (haul: lama pengendapan harta).

Dalil atas wajibnya zakat profesi/penghasilan gajian adalah keumuman lafadz, Allah berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…” (QS. Al-Baqarah (2): 267) “dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak dapat bahagian”. (QS. Adz-Dzaariyaat (51): 19)

Zakat profesi oleh para ulama kontemporer dibedakan yaitu; Pertama, berdasarkan fatwa MUI 2003 tentang zakat profesi setelah diperhitungkan selama satu tahun dan ditunaikan setahun sekali atau boleh juga ditunaikan setiap bulan untuk tidak memberatkan. Model bentuk harta yang diterima ini sebagai penghasilan berupa uang, sehingga bentuk harta ini di-qiyas-kan dalam zakat harta (simpanan/ kekayaan). Nisabnya adalah jika pendapatan satu tahun lebih dari senilai 85gr emas (harga emas sekarang @se-gram Rp. 300.000) dan zakatnya dikeluarkan setahun sekali sebesar 2,5% setelah dikurangi kebutuhan pokok. Contohnya: minimal zakat profesi yaitu @se-gram Rp. 300.000 x 85 (gram) = 25.500.000. Adapun penghasilan total yang diterima oleh pak Nasir Rp. 30.000.000 (gaji perbulan Rp. 2.500.000) harta ini sudah melebihi nishab dan wajib zakat Rp. 30.000.000 x 2,5 %= sebesar Rp. 750.000,- (pertahun) Rp. 62.500 (perbulan)

Kedua, dikeluarkan langsung saat menerima pendapatan ini dianalogikan pada zakat tanaman. Model memperoleh harta penghasilan (profesi) mirip dengan panen (hasil pertanian), sehingga harta ini dapat dianalogikakan ke dalam zakat pertanian. Jika ini yang diikuti, maka besar nisabnya adalah senilai 653 kg gabah kering giling setara dengan 520 Kg beras dan dikeluarkan setiap menerima penghasilan/gaji sebesar 2,5% tanpa terlebih dahulu dipotong kebutuhan pokok (seperti petani ketika mengeluarkan zakat hasil panennya). Contoh: Pemasukan gaji pak Nasir Rp. 2.300.000/bulan, nishab (520 kg beras, @Rp. 4000/kg = Rp. 2.080.000). Dengan demikian maka pak Nasir wajib zakat Rp. 2.300.000 x 2,5% = sebesar Rp. 57.500,-

Al-hasil, jika Bapak Nasir memiliki penghasilan gaji perbulan: Rp 3.000.000,- asumsi nishab dengan 520 kg beras x @ Rp. 4000 = Rp 2.080.000, Berarti Bapak sudah melabihi nishab dan wajib zakat sebesar Rp. 3.000.000 x 2,5 % =Rp. 75.000,- (wajib zakat yang dikeluarkan per bulan) atau boleh juga menunaikannya sebesar Rp 900.000 per tahun). Sebaliknya, jika pendapatan gaji Pak Nasir kurang dari nishab (Rp 2.080.000), maka bapak tidak wajib membayar zakat dan dianjurkan bersedekah.

Demikian semoga dapat dipahami. Waallahu A’lam.

Muhammad Zen, MA

eramuslim.com

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz  yang saya hormati.
Saya mempunyai hobi main badminton. Dari beberapa perkumpulan (klub) badminton yang saya ikuti, ada suatu kebiasaan untuk mentraktir minuman (biasanya: pocari sweat) bagi lawan & wasit atau mengganti biaya pemakaian shuttle cock yang dipakai pada waktu bermain bagi yang kalah.
Pertanyaan saya adalah:
1. Apakah taruhan dalam bentuk mentraktir minuman atau mengganti biaya pembelian shuttle cock ini termasuk kategori judi (diharamkan)?
2. Seandainya saya mengikhlaskan sejumlah uang yang kemungkinan akan saya keluarkan seandainya saya kalah & tetap akan saya keluarkan sebagai sumbangan (sedekah) seandainya saya menang. Apakah yang seperti ini termasuk pula dalam kategori judi (diharamkan)?

Terima kasih atas jawaban yang diberikan.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba�d.

Sebaiknya urusan mengikhlaskan sejumlah uang untuk mentraktir itu sama sekali tidak dikaitkan dengan menang atau kalah main badminton. Dan niat ini haruslah sudah dicanangkan sejak awal kesepakatan. Maka niatnya bukanlah membayar harga kekalahan melainkan niat untuk berdekah atau memberi hadiah tanpa ada syarat apapun.

Maka niat anda itu akan melahirkan pahala, yaitu pahala memberi sedekah atau memberi hadiah. Sebaliknya, kalau niatnya membayar harga kekalahan, maka anda rugi dua kali. Pertama rugi uang dan kedua rugi karena berdosa.

Maka niatkanlah sejak awal bahwa anda inign bersedekah atau memberi hadiah. Dengan demikian anda dan teman-teman akan terhindar dari resiko melakukan perjudian terselubung.

Dan bila teman-teman anda terbiasa melakukan pola judi itu, sebaiknya anda mempelopori sistem sedekah atau hadiah anda itu. Anda bisa mempelopori hadiah bergiliran, yaitu yang mentraktir bukan yang kalah melainkan bergiliran tiap waktu tertentu. Memang agak kurang seru, tetap aman dan jauh dari dosa. Bukankah itu yang kita cari ?

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sumber: syariahonline.com

Konsultan Ahli :

  1. DR. Salim Segaf Al Jufri, MA
  2. DR. Surahman Hidayat, MA
  3. DR. Ahzami Sami’un Jazuli, MA
  4. DR. Muslih Abd. Karim, MA
  5. DR. M. Idris Abd. Somad, MA
  6. DR. Muhammad Muinuddin, MA
  7. DR. Daud Rasyid, MA
  8. DR. Ir. H. Nurmahmudi Isma’il, MSC
  9. Dr. Ir. H Anton Apriantono, MS
  10. KH. Abdul Hasib Hasan, LC
  11. H. Bukhori Yusuf. Lc. MA
  12. H. Iman Santoso, Lc
  13. Hj. Herlini Amran, MA
  14. Dra. Hj. Yoyoh Yusroh

assalamualaikum wr…
ustadz, skg saya tinggal di sebuah negara arab. Banyak supermarket disini yang menawarkan banyak hadiah, dengan cara memberikan ‘kupon hadiah’ setiap pembelian 50 riyal dan kelipatannya, kmdn kupon tsb dimasukkan dlm kotak, dan akan diundi setiap 3 bln sekali untuk mendapatkan hadiah berupa mobil dan uang. Bgm hukum mengikuti undian sprt itu.
terimakasih, wassalamualaikum wr…

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,
Bila prinsipnya undian itu adalah hadiah yang diberikan pihak penyelenggara undian yang dananya bersumber dari perusahaan tersebut, bukan dari iuran atau urunan para peserta undian, maka bukan termasuk judi.

Contoh: Sebuah perusahaan retail memberi kesempatan kepada para pembeli yang berbelanja dengan harga di atas Rp. 50.000 sekali belanja untuk bisa mengikuti undian dengan hadiah mobil, motor dan lainnya. Dana untuk hadiah diambilkan dari anggaran bidang promosi perusahaan itu, bukan dari setoran para peserta undian, maka ini bukanlah perjudian. Jadi undian ini hanya sebuah taktik dagang untuk menggenjot angka penjualan. Meski sumber awal dana itu dari para pembeli, namun tidak secara langsung untuk dijadikan hadiah. Tetapi sudah menjadu hak milik perusahaan sebagai bentuk keuntungan dan dijadikan biaya promosi.

Undian Yang Haram

Yaitu bila pihak penyelenggara undian mengambil dana iuran atau biaya yang dikenakan dari peserta undian sebagai sumber hadiah, maka jelas mengandung unsur judi.

Contoh: Sebuah program TV menyelenggarakan telekuis dengan hadiah mobil seharga 200 juta. Untuk bisa mengikutinya, para peserta diharuskan menelepon dengan biaya premium call (mahal) dengan harga tiap menit Rp. 5.000. Sehingga dari uang hasil pemasukan premium call itu terkumpul dana 250 juta bersih. Dari uang itu, 200 juta untuk membeli hadiah mobil dan 100 juta adalah keuntungan pihak penyelenggara.

Praktik ini merupakan bentuk perjudian karena hadiah itu semata-mata diambilkan dari iuran peserta lomba yang diambil melalui biaya telepon premium. Ini tidak beda dengan para penjudi yang duduk melingkari sebuah meja dan memainkan alat perjudian. Hanya saja bentuknya bervariasi.

Hukum Mengundi

Mengundi itu sering dijadikan sarana berjudi. Namun sesungguhnya, tidak semua undian itu identik dengan perjudian. Bahkan dahulu Rasulullah SAW sering melakukan pengundian, meski bukan dalam konteks judi.

Mengundi atau dalam bahasa arab disebut Qur�ah sering dilakukan oleh Rasulullah SAW. Biasanya dilakukan bila harus memutuskan siapa yang berhak atas suatu hal, namun tidak ada dasar yang mengharuskan nabi memilih salah satu di antara mereka.

Misalnya ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah dan para Anshar berebutan agar beliau tinggal di rumah masing-masing, maka dilakukan undian dengan melepas unta beliau dan dibiarkan berjalan sendiri di lorong-lorong kota Madinah. Ketentuannya, dimana nanti unta itu duduk, maka disitulah Nabi akan singgah dan tinggal. Praktek seperti ini sebenarnya sebuah undian, tapip bukan sebuah perjudian. Dan undian ini terima semua shahabat dari kalangan anshar saat itu karena dianggap yang paling adil.

Begitu juga saat beliau SAW akan berangkat perang, sering dilakukan undian diantara para istri beliau. Yang namanya keluar, dia berhak mendampingi beliau dalam perjalanan itu. Ini pun dianggap adil.

Lain halnya undian yang dimanfaatkan untuk judi, dimana tiap peserta judi itu datang membawa modal uang dan dikumpulkan jadi satu. Kemudian mereka membuat undian dan siapa yang memenangkan undian itu berhak atas uang yang terkumpul tadi. Paling tidak yang membedakannya adalah darimana asal uang/hadiah yang diperebutkan. Bila dari para peserta semata, maka jelas unsur judinya. Namun bila dari pihak penyelenggara atau dari pihak lain seperti sponsor, maka tidak termasuk judi. Karena itu hukumnya harus dikembalikan pada sistem undiannya, apakah mengandung hal-hal yang bertentangan dengan praktek yang Islami atau tidak.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sumber: syariahonline.com

Konsultan Ahli :

  1. DR. Salim Segaf Al Jufri, MA
  2. DR. Surahman Hidayat, MA
  3. DR. Ahzami Sami’un Jazuli, MA
  4. DR. Muslih Abd. Karim, MA
  5. DR. M. Idris Abd. Somad, MA
  6. DR. Muhammad Muinuddin, MA
  7. DR. Daud Rasyid, MA
  8. DR. Ir. H. Nurmahmudi Isma’il, MSC
  9. Dr. Ir. H Anton Apriantono, MS
  10. KH. Abdul Hasib Hasan, LC
  11. H. Bukhori Yusuf. Lc, MA
  12. H. Iman Santoso, Lc
  13. Hj. Herlini Amran, MA
  14. Dra. Hj. Yoyoh Yusroh

Assalamualaikum Pak Ustadz,

Saya ingin menanyakan mengenai hukumnya menggunakan ‘jimat’, berupa kertas yang bertuliskan ayat2 Al Quran. Apakah dibenarkan dalam Islam apabila penggunaannya untuk menolak / agar kebal terhadap santet dari orang-orang yang berniat jahat kepada kita? Perlu diketahui bahwa ‘jimat’ ini diberikan oleh seorang kiyai. Tetapi saya ragu apakah ini termasuk dalam kategori syirik atau tidak. terimakasih sebelumnya.

NH di Jakarta

Jawaban

Waalaikumussalm Wr Wb

Saudara NH yang dimuliakan Allah swt

Allah swt telah menurunkan Al Qur’an agar manusia berubadah didalam membaca dan mentadabburi makna-maknanya sehingga mereka mengetahui hukum-hukumnya serta mengamalkannya. Karena itulah Al Qur’an merupakan nasehat dan peringatan bagi mereka yang dapat melembutkan hati, membuat gemetar kulit, menjadi obat penyakit-penyakit hati seperti kebodohan dan kesesatan, mensucikan jiwa dari berbagai kotoran syirik, maksiat dan dosa-dosa.

Allah swt menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang hatinya terbuka, menggunakan pendengarannya dan dia menyaksikan, firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus : 57)

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء
Artinya : “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Az Zumar : 23)

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Artinya : “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya.” (QS. Qaff : 37)

Allah swt menjadikan Al Qur’an sebagai mu’jizat bagi Rasul-Nya, Muhammad saw dan sebagai sebuah tanda terbesar bahwa dirinya adalah seorang rasul dari sisi Allah swt kepada seluruh manusia agar beliau saw menyampaikan syariat-Nya kepada mereka, sebagai rahmat bagi mereka serta untuk menegakkan hujjah atas mereka.

Allah swt berfirman :

وَقَالُوا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِّن رَّبِّهِ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِندَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ ﴿٥٠﴾
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴿٥١﴾
Artinya : “Dan orang-orang kafir Mekah berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya mukjizat- mukjizat itu terserah kepada Allah. dan Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”. Dan Apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) sedang Dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al Ankabut : 50 – 51)
Artinya : “Ini adalah ayat-ayat kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).” (QS. Al Qashash : 2)
Artinya : “Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmat.” (QS. Luqman : 2)

Pada dasarnya Al Qur’an adalah Kitab tentang syariat dan penjelasan berbagai hukum. Ia adalah tanda yang faseh, mu’jizat yang luar biasa dan argumentasi yang tak terbantahkan yang dengannya Allah swt menguatkan Rasulul-Nya, Muhammad saw. Bersamaan dengan itu maka terdapat riwayat bahwa Rasulullah saw pernah meruqyah dirinya dengan Al Qur’an dengan membaca “al muawwidzat ats tsalatsah”, yaitu قل هو الله أحد dan قل أعوذ برب الفلق dan قل أعوذ برب الناس . Terdapat pula riwayat bahwa beliau saw mengizinkan ruqyah yang tidak mengandung kesyirikan didalamnya dari al Qur’an dan doa-doa yang disyariatkan. Beliau saw juga membolehkan praa sahabatnya meruqyah dengan Al Qur’an dan mengambil upah darinya.

Dari ‘Auf bin Malik berkata,”Pada masa jahiliyah kami pernah meruqyah. Lalu kami mengatakan,’Wahai Rasulullah apa pendapatmu tentang itu?’ beliau saw menjawab,’Tunjukanlah ruqyahmu dihadapanku, dan tidaklah mengapa dengan ruqyah selama tidak ada kesyirikan didalamnya.” (HR. Muslim didalam shahihnya)

Dari Abu Sa’id al Khudriy berkata,”Beberapa orang sahabat berangkat pada suatu perjalanan hingga mereka singgah di sebuah kampung dari perkampungan orang-orang Arab. Para sahabat pun berharap dijamu oleh mereka akan tetapi mereka enggan menjamunya. Tiba-tiba kepala kampung itu disengat binatang berbisa. Mereka pun berupaya untuk menyembuhkan dengan berbagai macam cara namun tak satu pun berhasil. Sebagian mereka berkata,’Cobalah kalian datangi rombongan yang mampir itu barangkali sebagian dari mereka memiliki sesuatu (untuk penyembuhan).’ Maka mereka pun mendatangi para sahabat dan berkata,’Wahai rombongan (tamu), sesungguhnya pemimpin kami telah disengat binatang dan kami telah berupaya sekuat tenaga akan tetapi tak satu pun yang berguna, maka apakah salah seorang diantara kalian memiliki sesuatu (untuk menyembuhkannya)?’ sebagian dari sahabat berkata,’Ya.. demi Allah sesungguhnya aku mencoba meruqyah akan tetapi, demi Allah, sungguh kami berharap dijamu kalian namun kalian enggan menjamu kami maka saya tidak akan meruqyah kalian sehingga kalian memberikan kami upah.’ Mereka pun bersepakat untuk memberikan sejumlah kambing. Sahabat itu pun berangkat dan meludahinya serta membaca الحمد لله رب العالمين dan pemimpin mereka pun sembuh lalu bangun dan berjalan seakan-akan tidak pernah sakitdan berkata,’Tunaikanlah upah mereka sebagaimana kesepakatan kalian.’ Sebagian mereka mengatakan,’Bagi-bagilah (antara kalian).’ Dan sahabat yang meruqyah berkata,’Janganlah kalian membagi-bagikannya sebelum kita bertemu Nabi saw.’ Lalu mereka pun menceritakan hal itu kepadanya dan Nabi saw bersabda,’Apa yang kamu lakukan itu adalah ruqyah.’ Lalu beliau saw bersabda,’Sungguh kalian telah berbuat yang benar. Bagi-bagilah dan sisakan bagian buatku.’ Maka Nabi saw pun tertawa.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dari Aisyah ra berkata,”Rasulullah saw apabila berbaring diatas tikarnya maka beliau saw meniupan di telapak tangannya dengan قل هو الله أحد dan al muawwidzatai (Al Falaq dan An Naas) seluruhnya lalu beliau saw mengusapkan kedua tangannya itu ke wajahnya dan bagian-bagian tubuhnya yang bisa dijangkau oleh kedua tangannya itu.’ Aisyah berkata,’Tatkala beliau sakit maka beliau memerintahkanku untuk melakukan itu padanya.” (HR. Bukhori)

Dari Aisyah berkata bahwa Nabi saw memohonkan perlindungan (kepada Allah) untuk sebagian keluarganya dan mengusap dengan tangan kanannya sambil berkata,”Wahai Allaih Tuhan manusia, hlangkanlah penyakit dan sembuhkanlah. Engkau adalah Yang Maha Menyembuhkan dan tidaklah ada penyembuhan kecuali penyembuhan-Mu yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Bukhori)

Banyak lagi hadits-hadits lainnya yang menegaskan bahwa ruqyah dengan Al Qur’an maupun yang lainnya dan beliau saw mengizinkan serta menetapkan ruqyah selama tidak ada kesyirikan didalamnya.

Tidak terdapat riwayat dari Nabi saw—padahal kepada beliau Al Qur’an diturunkan, beliau lah yang paling mengetahui tentang hukum-hukumnya serta paling mengetahui kedudukannya—bahwa beliau saw menggantungkan pada tubuhnya atau selainnya suatu jimat dari Al Qur’an maupun yang lainnya atau beliau saw mengambil Al Qur’an atau beberapa ayat darinya sebagai hijab yang menutupi tubuhnya atau selainnya dari berbagai kejahatan ataupun membawa Al Qur’an atau sesuatu dari Al Qur’an didalam bajunya atau perhiasannya diatas kendaraannya agar terlindung dari kejahatan para musuhnya atau mendapatkan kemenangan terhadap mereka atau agar dimudahkan perjalanannya sehingga berbagai rintangan ddidalam perjalanannya sirna atau lain-lainnya demi mendapatkan manfaat atau menghilangkan kemudharatan.

Dan seandainya hal itu disyariatkan pastilah beliau saw bersemangat untuk itu, melakukannya dan menyampaikannya kepada umatnya serta menerangkannya kepada mereka berdasarkan firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ
Artinya : “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al Maidah : 67)

Dan seandainya beliau saw melakukan hal itu atau menjelaskannya kepada para sahabatnya pastilah mereka akan meriwayatkannya kepada kita dan mengamalkannya. Sesungguhnya para sahabat adalah orang-orang yang paling semangat untuk menyampaikan dan memberikan penjelasan dan mereka adalah orang-orang yang paling memeliharan syariat baik berupa perkataan maupun perbuatan dan yang paling ittiba (mengikuti) Rasulullah saw. Akan tetapi tidaklah ada sedikit pun riwayat dari seorang pun dari mereka.

Hal itu merupakan dalil bahwa membawa mushaf, meletakkannya di mobil, perhiasan rumah atau lemari uang dengan tujuan mencegah kedengkian, melindunginya, mendapatkan manfaat atau mencegah kemudharatan maka ia tidaklah dibolehkan.

Begitu juga dengan menjadikan Al Qur’an sebagai hijab, menuliskannya diatasnya atau menuliskan ayat-ayat dari Al Qur’an pada rantai emas atau perak atau yang lainnya untuk digantungkan sebagai jampi dan sejenisnya maka tidaklah diperbolehkan karena bertentangan dengan petunjuk Rasulullah saw dan para sahabatnya berdasarkan keumuman hadits,”Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka Allah tidak akan menyempurnakan baginya..” didalam riwayat lain,”Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka ia telah berbuat syirik” keduanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Serta keumuman sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya jampi, jimat dan tiwalah adalah syirik.”

Namun Nabi saw mengecualikan jampi yang tidak terdapat kesyirikan didalamnya maka ia dibolehkan, sebagaimana penjelasan diatas. Dan beliau saw tidaklah memberikan pengecualian terhadap jimat sehingga ia tetaplah dilarang, demikianlah pendapat Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, sekelompok dari sahabat dan sekelompok dari tabi’in diantaranya adalah para sahabat Abdullah bin Mas’ud seperti Ibrahim bin Yazid an Nakh’i.

Ada sekelompok ulama yang memberikan rukhshah (keringanan) menggantungkan jimat-jimat dari Al Qur’an, Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah untuk tujuan memberikan perlindungan dan lainnya. Mereka mengecualikan hal itu dari hadits Nabi saw tentang jimat-jimat diatas sebagaimana dikecualikannya jampi yang tidak terdapat kesyrikan didalamnya karena Al Qur’am adalah firman Allah swt maka meyakini keberkahan dan manfaat didalamnya maupun didalam nama-nama dan sifat-sifat Allah bukanlah sebuah kesyirikan sehingga tidaklah dilarang mengambil darinya sebagai jimat, mengamalkan sesuatu darinya, menyertakannya atau menggantungkannya dengan berharap keberkahan dan menfaatnya.

Pendapat ini disandarkan kepada perkataan sekelompok orang diantaranya Amr bin al ‘Ash akan tetapi riwayatnya tidaklah teguh karena didalam sanadnya terdapat Muhammad bin Ishaq dan ia adalah salah seorang ‘penipu’.. dan andaikan riwayat itu teguh maka ia bukanlah dalil dibolehkannya menggantungkan jimat-jimat dari itu semua (Al Qur’an, Asmaul Husna) karena yang dimaksudkan di situ adalah menghafalkan Al Qur’an untuk anak-anak yang sudah besar dan menuliskannya untuk anak-anak kecil pada lembaran-lembaran lalu menggantungkannya di leher-leher mereka. Memang secara lahiriyah dia melakukan itu bersama anak-anak untuk mengulang-ulang bacaan yang telah dituliskannya sehingga mereka dapat menghafalkannya dan dia melakukan itu bukanlah untuk menjaga diri anaka-anak dari kedengkian atau kejahatan lainnya, maka ini tidaklah bisa disamakan dengan jimat sedikit pun.

Asy Syeikh Abdurrahman bin Hasan didalam kitabnya “Fathul Majid” memilih pendapat Abdullah bin Mas’ud serta para sahabatnya yang melarang berbagai jimat dengan menggunakan Al Qur’an serta yang lainnya. Dia mengatakan bahwa ini adalah pendapat yang benar ditinjau dari tiga sisi :
1. Keumuman larangan dan tidak ada pengkhususan terhadap yang umum.

2. Sebagai tindakan preventif karena bisa mengarah kepada menggantung yang lainnya.
3. Bahwa apabila digantungkan maka ia akan mengalami pelecehan oleh orang yang menggantungkannya ketika dirinya masuk ke WC atau kamar kecil. (Fatawa al Lajnah Li al Buhts al Ilmiyah wa al Ifta’ juz I hal 324 – 330)

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Assalamu’alaikum ustaz,  Saya ada 2 pertanyaan:

1. Pada ‘idul adha yang akan datang, saya akan melaksanakan aqikah anak saya (laki-laki) juga anak saudara saya (laki-laki), lalu jumlah kambingnya empat ekor, rencana akan saya tambah tiga ekor kambing lagi utk kurban agar menjadi 7 ekor (setara dgn seekor sapi). Bagaimana hukumnya kalau saya gabungkan ‘aqikah ini dengan kurban, dan saya ganti 7 ekor kambing tadi menjadi seekor sapi?

2. Saya menyaksikan banyak masyarakat kita yang dalam pelaksanaan berkurban membentuk panitia, nah,, panitia itu mengambil daging kurban untuk dimasak dan dimakan oleh semua panitia yang bekerja yang jumlahnya juga banyak. Kadang daging yang diambil mencapai 25kg lebih, setelah itu juga panitia mendapat jatah sendiri-sendiri dari daging mentah kurban. Bagaimana persoalan ini dalam hukum Islam.

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Abu Syarif yang dimuliakan Allah swt

Menggabungkan Aqiqah Anak-anak Dengan Sapi

Didalam permasalahan ini, seperti keinginan anda untuk menggabung kan aqiqah anak anda dengan anak saudara laki-laki anda dan menjadikannya satu ekor sapi maka para ulama berselisih pendapat didalam membolehkannya.

Diantara mereka ada yang melarangnya, yaitu dari kalangan para ulama Hambali sebagaimana tertera didalam kitab-kitab mereka. Al Mardawi didalam kitabnya “al Inshaf” mengataan bahwa sandainya seseorang beraqiqah dengan seekor onta atau sapi maka tidaklah diperbolehkan kecuali seluruhnya. Terdapat nash dari Ahmad bin Hambal bahwa dirinya melarang hal ini.

Sedangkan para ulama Syafi’i membolehkan bergabung dalam satu ekor onta atau sapi, demikian disebutkan Nawawi didalam kitab “Al Majmu’”

Jadi sebagai bentuk kehati-hatian didalam hal ini adalah meninggalkan penggabung tersebut karena tidak terdapat nash-nash yang menyebutkan penggabungan didalam permasalahan ini (aqiqah, pen). Dan sesungguhnya ibadah ditegakkan diatas tauqif, artinya berdiri diatas nash-nash yang terdapat didalam al Qur’an dan Sunnah.

Kemudian orang-orang yang membolehkan penggabung—kalangan Syafi’iyah—mengqiyaskan aqiqah dengan ibadah kurban dan daging sembelihan pada saat haji. (Fatawa Syabakah Islamiyah 2/1006)

Niat Menggabungkan Aqiqah dengan Kurban

Adapun tentang niat menggabungkan antara aqiqah dengan kurban didalam hari raya kurban maka terjadi perselisihan dikalangan ulama menjadi dua pendapat. Sebagian dari mereka ada yang membolehkan, yaitu madzhab Ahmad dan orang-orang yang sepakat dengannya.

Sementara sebagian lainnya melarangnya karena tujuannya berbeda. Tujuan dari kurban adalah sebagai tebusan atas diri sedangkan tujuan dari aqiqah adalah tebusan atas anak karena itu tidak bisa keduanya digabungkan.

Tidak diragukan lagi bahwa mengambil pendapat ini (yang kedua) adalah lebih utama bagi orang yang memiliki kelapangan rezeki dan memiliki kemampuan untuk melakukannya. Dan bagi orang yang tidak memiliki kelapangan rezeki maka mengambil pendapat Imam Ahmad lebih utama. (www.islamweb.net)

Daging Untuk Panitia Qurban

DR. Wahbah mengatakan bahwa tidak diperbolehkan memberikan kulit kurban atau sesuatu yang lainnya kepada orang yang menyembelihnya bagai sebuah bayaran atas sembelihannya, sebagaimana riwayat dari Ali berkata,”Rasulullah saw telah memerintahkanku untuk mengurus tentang onta-onta (sembelihan) dan aku membagi-bagikan kulit dan dagingnya dan aku tidaklah memberikan kepada orang yang menyembelihnya sesuatu pun darinya (dari sembelihan itu, pen).” Dia mengatakan,”Kami memberikannya dari milik kami sendiri.” (Muttafa Alaihi)

Akan tetapi jika seorang penyembelih diberikan sesuatu dari daging sembelihannya itu dikarenakan kefakirannya atau atas dasar hadiah maka hal itu dibolehkan karena orang itu berhak untuk mengambilnya sebagaimana orang lain bahkan orang itu lebih utama karena dia adalah orang yang terlibat secara langsung dan telah mengucurkan keringatnya untuk itu (penyembelihan). (Al Fiqhul Islam wa Adillatuhu juz IV hal 2741)

Memang keberadaan panitia kurban sangat dibutuhkan untuk kelancaran pelaksanaan ibadah kurban ini. Namun demikian tidak diperbolehkan bagi panitia ini untuk mengambil sebagian dari daging-daging sembelihan itu untuk kemudian dimasak dan dimakan bersama-sama kecuali apabila mereka semua termasuk kedalam golongan orang-orang faqir atau setelah mendapatkan izin sebelumnya dari orang-orang yang berkurban sebagai suatu hadiah dari mereka.

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Ustazd yang dirahmati Allah, apakakah maksud dari ayat 113 pada surat Attaubah atau surat ke 9.?

Apa kriteria musyrik pada ayat tersebut ? Demikian pertanyaan dari ana. Abqokumullahu fi sabiili naili ridlohu.

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Aep Saefullah yang dimuliakan Allah swt

Firman Allah swt :

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (١١٣)

Artinya : “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At Taubah : 113)

Imam Bukhori meriwayatkan dari Ibnu al Musayyib dari ayahnya tentang sebab nuzul ayat ini bahwa tatkala Abu Thalib berada dalam sakaratul mautnya masuklah Nabi saw dan di sisi Abu Thalib terdapat Abu Jahal. Rasulullah saw berkata,”Wahai paman, katakanlah “Laa Ilaha Illallah, suatu kalimat yang aku bisa beralasan untukmu dihadapan Allah.” Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata,”Wahai Abu Thalib, (Apakah) engkau membenci agama Abdul Muthallib.”

Keduanya terus berbicara hingga kalimat terakhir yang dikatakan Abu Thalib adalah berada diatas agama Abdul Muthallib. Lalu Nabi saw pun bersabda,”Aku betul-betul akan memohon ampunan buatmu selama aku tidak dilarang untuk itu.” Maka turunlah ayat :

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (١١٣)

Artinya : “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At Taubah : 113)

Serta ayat-Nya :

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (٥٦)

Artinya : “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash : 56)

Al Qurthubi mengatakan bahwa ayat ini menyebutkan tidak diperbolehkannya memberikan loyalitasnya kepada orang-orang kafir baik semasa orang itu masih hidup atau setelah matinya. Sesungguhnya Allah swt tidak memperkenankan orang-orang beriman untuk memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik.

Ada yang mengatakan bahwa terdapat riwayat shahih bahwa Nabi saw bersabda pada peperangan Uhud tatkala giginya patah dan wajahnya terluka,”Wahai Allah ampunkanlah kaumku sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui.” Lalu bagaimana menggabung antara riwayat ini dengan larangan Allah kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman untuk memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik ?

Permasalahan itu dijawab,”Sesungguhnya perkataan Nabi saw itu hanya merupakan sebuah kisah dari para Nabi sebelumnya dan bukti dari itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah berkata,”Seakan-akan aku melihat Nabi saw menceritakan salah seorang Nabi yang dipukuli oleh kaumnya lalu Nabi itu mengusap darah yang mengalir dari wajahnya sambil berkata,”Wahai Allah, ampunilah kaumku sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui.”

Didalam riwayat Bukhori disebutkan bahwa Nabi saw pernah menyebutkan seorang nabi sebelum beliau saw yang telah dilukai oleh kaumnya lalu Nabi saw memberitahukan bahwa Nabi itu berkata,” Wahai Allah, ampunilah kaumku sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui.”

Al Qurthubi berkata,”Di sini jelas bahwa ia merupakan kisah dari Nabi sebelumnya, perkataan itu bukanlah pertama kali berasal dari dirinya saw sebagaimana dikira sebagian orang.” Wallahu A’lam
Dan Nabi yang dikisahkan itu adalah Nuh as.

Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan istitighfar (memohon ampunan) didalam ayat itu adalah shalat (doa).

Sebagian mereka berkata,”Aku tidak akan meninggalkan berdoa bagi seorang pun dari ahli kiblat walaupun ia seorang wanita yang hamil dikarenakan berzina karena aku tidak pernah mendengar bahwa Allah swt mendinding doa kecuali terhadap orang-orang musyrik, melalui firman-Nya :
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ (١١٣)

Artinya : “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” (QS. At Taubah : 113)

Atho’ bin Abi Rabah berkata bahwa ayat ini berisi larangan tentang doa terhadap orang-orang musyrik. Dan memohon ampunan di sini maksudnya adalah shalat (doa)

Jawaban Ketiga : Maksudnya adalah memohon ampunan bagi orang-orang yang masih hidup adalah boleh karena masih diharapkan keimanan dari mereka yang mungkin dengan perkataan yang lembut bisa melunakan mereka serta menjadikan diri mereka terpikat dengan agama (islam).

Kebanyakan ulama mengatakan bahwa diperbolehkan bagi seseorang berdoa bagi kedua orang tuanya yang masih kafir serta memintakan ampunan bagi mereka selama keduanya masih hidup. Adapun apabila orang itu telah mati maka terputuslah harapan itu semua darinya dan tidaklah diperbolehkan memohon ampunan baginya. Ibnu Abbas berkata bahwa mereka dahulu memintakan ampunan kepada orang-orang yang telah meninggal dari mereka (orang-orang musyrik, pen) lalu turunlah ayat ini (At taubah : 113) dan mereka pun menghentikan permohonan ampun itu namun mereka tidak dilarang dari memohon ampunan bagi mereka yang masih hidup hingga mereka meninggal dunia. (al Jami’ Li Ahkamil Qur’an jilid IV hal 587 – 588)

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Assalamu ‘alaikum.

Ustadz, saya pernah mendengar ada hadits yang berbunyi:

Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan). (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)

Bagaimana derajat keshohihan hadits ini?

Ditunggu jawabannya Ustadz. Syukran.

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Rijal dimuliakan Allah swt

Hadits yang tercantum didalam kitab “al Kamil” itu diriwayatkan dari Abu Hurairoh : Rasulullah saw bersabda,”Orang yang buruk dari kalian adalah orang yang perjaka dari kalian. Dua rakaat dari orang yang telah berkeluarga lebih baik daripada 70 rakaat dari orang yang perjaka (belum keluarga).”

Hadits Abu Hurairoh memiliki dua jalan :

Jalan pertama : Ismail bin Ahmad telah memberitakan kepada kami : Ibnu Mas’adah telah memberitakan kepada kami : Hamzah bin Yusuf telah memberitakan kepada kami : Abu Ahmad bin Adiy telah memberitakan kepada kami : Umar bin Sinan telah memberitakan kepada kami : Yusuf Muhammad bin Ahmad ar Ruqo telah memberitakan kepada kami Kholid bin Ismail dari Abdullah dari Sholih dari Abu Hurairoh berkata,”Kalaulah tidak tersisa dari diriku kecuali hanya satu hari saja pastilah aku akan bertemu Allah dengan seorang istri. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda,’Orang yang buruk dari kalian adalah orang perjaka dari kalian.”

Ini adalah hadits tidak sah dan Sholeh Maula at Tauamah adalah cacat. Ibnu Adiy berkata bahwa Kholid bin Ismail haditsnya adalah maudhu’.

Jalan Kedua : Yusuf bin as Safar dari al Auza’iy dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairoh dari Rasulullah saw,” bersabda,”Orang yang buruk dari kalian adalah orang yang perjaka dari kalian. Dua rakaat dari orang yang telah berkeluarga lebih baik daripada 70 rakaat dari orang yang perjaka (belum keluarga).”

Ibnu Adiy berkata,”Ini adalah hadits maudhu’ (palsu).” Abu Zar’ah dan An Nasai mengatakan bahwa Yusuf adalah orang yang haditsnya ditinggalkan. Abu Hatim bin Hibban mengatakan,”Telah diriwayatkan dari al Auza’iy yang bukan berasal dari haditsnya. Orang yang mendengar tidaklah meragukan bahwa hadits ini adalah maudhu’ dan tidak diperbolehkan berargumetasi dengannya dalam keadaan apapun.” Ad Daruquthniy mengatakan,”Hadits ini ditinggalkan dan dusta.” (al Maudhu’at jilid II hal 257 – 258)

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo, Lc.


KALENDER HIJRIYAH

KATEGORI

ARSIP

ONLINE

Counter Powered by  RedCounter
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.