Iskud’s Blog

Judul: Nikah dengan Niat Talaq (Syeikh Ustaimin)

Posted on: 15 May 2009

PertanyaanAssalamualaikum

saya penah mendengarkan mp3 ceramah ustadz yang membolehkan nikah dengan niat talaq tanpa waktu tertentu

contohnya pendapat syikh ustaimin berikut;

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada seorang lelaki yang ingin bepergian keluar negeri sebagai delegasi. Oleh karena itu ia ingin menyelamatkan dirinya (dari perbuatan haram) maka ia berniat akan menikah di luar negeri untuk masa waktu tertentu (dengan perempuan di negera yang ia tuju), kemudian ia akan menceraikannya tanpa ia memberitahukan terlebih dahulu kepada perempuan tersebut tentang rencana perceraiannya. Bagaimanakah hukumnya .?

Jawaban
Nikah dengan niat talak itu tidak akan lepad dari dua hal.

Pertama : Di dalam akan ada syarat bahwa ia akan menikahinya hanya untuk satu bulan, satu tahun atau hingga studinya selesai. Maka ini adalah nikah mut’ah da hukumnya haram.

Kedua : Nikah dengan niat talak namun tanpa ada syarat, maka hukumnya menurut madzhab yang masyhur dari Hanabilah adalah haram dan akadnya rusak (tidak sah), karena mereka mengatakan bahwa yang diniatkan itu sama dengan yang disyaratkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya segala amal perbuatan itu (diterima atau tidak) sangat tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang itu adalah apa yang ia niatkan”. [Muttafaq ‘Alaih]

Dan jika seseorang menikahi seorang perempuan yang telah talak tiga dari suaminya (dengan niat) agar perempuan itu menjadi halal lagi bagi suami yang pertama, lalu suami yang kedua akan menceraikannya, maka nikahnya (suami yang kedua) tidak sah, sekalipun akadnya dilakukan tanpa syarat. Sebab, apa yang diniatkan itu sama dengan apa yang disyaratkan. Maka jika niat nikahnya adalah untuk menghalalkan suami yang pertamanya kembali kepada mantan istrinya, maka akadnya rusak, dan demikian pula niat nikah mut’ah merusak akad. Inilah pendapat ulama madzhab Hanbali,

Pendapat kedua di kalangan para ulama dalam masalah di atas adalah sah saja seseorang menikahi perempuan dengan niat akan menceraikannya apa ia kembali ke negaranya, seperti para mahasiswa yang pergi keluar negeri untuk belajar atau lainnya. Alasan mereka adalah bahwa si laki-laki itu tidak memberi syarat (di dalam akad), sedangkan perbedaan nikah seperti ini dengan nikah mut’ah adalah bahwa apabila batas waktu dalam nikah mut’ah itu habis maka perceraian dengan sendirinya terjadi, dikehendaki oleh suami maupun tidak ; berbeda halnya nikah dengan niat talak. Nikah dengan niat talak itu memungkinkan bagi suami menjadikan istrinya untuk selama-lamanya. Ini adalah salah satu dari dua pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Menurut saya, ini shahih dan itu bukan mut’ah, sebab defenisi mut’ah tidak cocok untuk nikah dengan niat talak, akan tetapi hukumnya tetap haram karena merupakan penipuan terhadap istri dan keluarganya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkan perbuatan curang dan penipuan. Dan sekiranya si perempuan (istri) mengetahui bahwa si lelaki itu tidak ingin menikahinya kecuali untuk waktu tertentu saja, niscaya perempuan itu tidak mau menikah dengannya, demikian pula keluarganya.

dikatakan oleh syeikh ustaimin bahwa haram, jika terjadi penipuan

bagaimana jika tidak terjadi penipuan, misalnya telah disampaikan niat talaq tersebut walau niat tersebut dapat berubah.

Ustadz tersebut membolehkan nikah talaq tersebut..

bagaimana menurut pendapat dewan syariah

Wassalamualaikum Wr. Wb.


Jawaban

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Nikah dengan niat Talak sudah banyak dibahas oleh para ulama. maksud dari  menikah dengan niat talak tersebut adalah ketika seseorang ingin menikahi wanita namun dalam dirinya sudah ada niat untuk mentalaknya kapan saja di waktu yang akan datang. Hukum menikah dengan niat semacam ini memang disikapi berbeda oleh para ulama. Ada yang membolehkan, namun pendapat yang lebih kuat melarang, termasuk Syeikh Utsaymin sendiri seperti yang Anda sebutkan dengan alasan mengandung unsur penipuan.

Lalu bagaimana kalau tidak mengandung unsur penipuan dengan cara diberitahukan sebelumnya kepada calon isteri?

Sebenarnya adanya unsur penipuan hanya salah satu alasan mengapa nikah dengan niat talak ini dilarang. Masih banyak lagi alasan lain sebagaimana yang dikemukakan oleh sejumlah ulama, termasuk oleh Majma’ al-Fiqh al-Islami. Di antara alasan lain bahwa pernikahan semacam itu dilarang:

  1. Bahwa salah satu diantara syarat syahnya pernikahan adalah bersifat mu’abbadah, yaitu diniatkan untuk langgeng terus dan bukan untuk sementara saja. Kalau nantinya terjadi talak, maka sama sekali belum pernah terlintas dalam hati dan juga tidak pernah diniatkan. Karena itu, Imam an-Nawawi menegaskan, “Nikah dengan niat untuk sementara waktu adalah batil, entah waktunya ditentukan ataupun tidak ditentukan. Ia sama dengan nikah mut’ah” (Raudhatut Thalibin: 2/42)
  1. Bahwa tujuan dari nikah dalam Islam sesungguhnya adalah untuk mendapatkan sakinah, mawaddah dan rahmah. Sebagaimana firman Allah SWT : �Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir� (QS. Ar-Rum : 21)
  1. Menikah dengan niat untuk mentalaknya bertentangan dengan substansi iman seperti yang disebutkan oleh Rasulullah saw., “Tidak sempurna iman kalian sebelum mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
  1. Ia juga menodai hakikat akad nikah yang disebut oleh Allah sebagai perjanjian yang kuat (Mitsaqan ghalidzan)
  1. Lalu menikah dengan niat menceraikan menodai dan memperburuk citra Islam dan kaum muslimin terkait dengan sikapnya terhadap wanita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb.

Sharia Consulting Center (SCC)

http://www.syariahonline.com

Konsultan Ahli
Didalam SCC terhimpun para pakar :

  1. DR. Salim Segaf Al Jufri, MA
  2. DR. Surahman Hidayat, MA
  3. DR. Ahzami Sami’un Jazuli, MA
  4. DR. Muslih Abd. Karim, MA
  5. DR. M. Idris Abd. Somad, MA
  6. DR. Muhammad Muinuddin, MA
  7. DR. Daud Rasyid, MA
  8. DR. Ir. H. Nurmahmudi Isma’il, MSC
  9. Dr. Ir. H Anton Apriantono, MS
  10. KH. Abdul Hasib Hasan, LC
  11. H. Bukhori Yusuf, Lc. MA
  12. H. Iman Santoso, Lc
  13. Hj. Herlini Amran, MA
  14. Dra. Hj. Yoyoh Yusroh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIYAH

KATEGORI

ARSIP

ONLINE

Counter Powered by  RedCounter
%d bloggers like this: