Iskud’s Blog

Hadis Ahad sebagai Hujah dalam Masalah Akidah dan Fikih

Posted on: 24 June 2009

Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
Sesungguhnya orang-orang yang beranggapan bahwa hadits ahad bahkan merupakan hajjah di dalam masalah akidah, mereka justru mengatakan bahwa hadits ahad itu hujjah pada masalah-masalah hukum fikih. Mereka membedakan antara masalah akidah dan masalah hukum, namun pernahkah kalian mendapati perbedaan keduanya di dalam al-Qur’an maupun as-sunnah? Sungguh hal ini tidak akan pernah dijumpai, bahkan seluruh ayat maupun hadits-hadits yang telah dikemukakan pada awal buku ini, secara umum mencakup juga masalah akidah.

Allah Ta’ala berfirman, Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka (Q.S. al-Ahdzab (33): 36)

Dalam ayat ini, Allah berfirman (menetapkan suatu perkara) dan firman-Nya ini tidak diragukan lagi meliputi suatu yang umum, baik menyangkut masalah akidah maupun yang lainnya.

Demikian halnya, terhadap setiap perintah Allah untuk mentaati Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan larangannya untuk mendurhakai beliau, ancamannya kepada orang-orang yang menyelisihinya dan pujian terhadap orang-orang yang taat dan berkata tatkala mereka diseru untuk berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya, “Kami dengar dan kami ta’at”. Seluruh dalil-dalil tersebut menunjukkan perintah yang umum untuk taat dan patuh terhadap segala ajaran beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menyangkut masalah akidah maupun fikih. Juga firman-Nya, Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah (Q.S. al-Hasyr (59): 7), menunjukkan perintah-perintah yang umum.

Kemudian jika kalian bertanya kepada orang-orang yang menjadikan hadits ahad sebagai hujjah dalam masalah-masalah fikih belaka, maka dalil apa yang kalian pakai? Niscaya mereka juga akan berdalil dengan ayat-ayat yang telah disebutkan secara ringkas tadi dan juga telah disebutkan oleh imam asy-Syafi’i di dalam kitab ar-Risalah. Kalau demikian, apakah yang menyebabkan mereka mengkhususkan keautentikan hadits ahad pada masalah-masalah hukum dan tidak pada masalah-masalah akidah?

Syubhat dan Jawabannya

Syubhat (keragu-raguan) telah merasuk ke dalam benak mereka sehingga tertanam menjadi sebuah fanatisme terhadap pendapat! Syubhat yang dimaksud adalah persangkaan mereka bahwasanya hadits ahad tidak memberi faidah melainkan azh-Zhannul Ghalib (persangkaan yang kuat), sedangkan yang dimaksud dengan azh-Zhannul Ghalib (persangkaan yang kuat akan keabsahan hadits ahad tersebut) adalah hal yang wajib diamalkan di dalam masalah-masalah hukum. Demikianlah telah menjadi konsensus (kesepakatan) mereka. Adapun pada masalah-masalah ghaib dan yang berkaitan dengan akidah, maka menurut mereka tidak dibolehkan untuk menjadikan azh-Zhannul Ghalib ini sebagai dalil padanya.

Namun, jika kita terima saja perkataan mereka, maka kami bertanya, “Bagaimana kalian membedakan antara masalah-masalah hukum dan masalah-masalah yang berkaitan dengan aqidah? Dalil-dalil apa yang kalian jadikan pegangan, sehingga kalian menjadikan hadits ahad ini sebagai dalil di dalam masalah hukum tetapi tidak pada masalah akidah?”

Beberapa ulama kontemporer telah berdalih akan hal ini dengan firman Allah terhadap kaum musyrikin, “Tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka” (Q.S. an-Najm (53): 3). Firman-Nya, “Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaidah sedikitpun terhadap kebenaran” (Q.S. an-Najm (53): 28), dan ayat-ayat lain yang di dalamnya terdapat celaan terhadap kaum musyrikin yang hanya mengikuti persangkaan-persangkaan mereka belaka.

Tetapi, sungguh mereka telah lupa bahwa yang dimaksud dengan azh-zhannu (persangkaan) pada ayat-ayat tersebut bukanlah persangkaan yang kuat azh-zhannul ghalib sebagaimana yang dimiliki oleh hadits ahad, sehingga para ulama bersepakat untuk menjadikannya hujjah (dalil) di dalam masalah agama. Namun, yang dimaksud dengan azh-zhannu di dalam ayat-ayat yang telah disebutkan tadi adalah persangkaan yang tidak dibuktikan oleh dalil apapun.

Disebutkan di dalam an-Nihaya, al-Lisan dan kamus-kamus bahasa yang lain, azh-zhannu adalah keragu-raguan yang menghinggapi seseorang akan suatu masalah hingga ia dapat membuktikannya. Pengertian ini yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala tatkala mencela kaum musyrikin. Diantara yang menguatkan hal itu adalah firman-Nya, Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (Q.S. al-An’aam (6): 116)[1]

Kalau saja yang dimaksud dengan “azh-zhannu” dalam ayat ini adalah azh-zhannul ghalib (persangkaan yang kuat) sebagaimana yang mereka perkirakan, maka tidak dibolehkan bagi seseorang untuk menjadikannya sebagai dalil (hujjah) di dalam masalah hukum sebagaimana tidak dibolehkan menjadikannya sebagai dalil di dalam masalah akidah, karena dua sebab yaitu:

Pertama, Allah Ta’ala telah mengingkari perbuatan orang-orang musyrik tersebut dengan pengingkaran dalam masalah-masalah yang umum dan tidak terfokus pada masalah-masalah akidah,

Kedua, Allah Ta’ala telah menyatakan secara jelas bahwa pengingkaran-Nya terhadap azh-zhannu yang dibuat oleh kaum musyrikin juga mencakup masalah-masalah hukum. Allah Ta’ala berfirman di dalam surah al-An’aam (6): 148, Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya …

Ini menunjukkan akan pengingkaran Allah terhadap persangkaan mereka yang batil di dalam masalah akidah, kemudian Allah berfirman, “Dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu apapun” (kelanjutan dari ayat diatas –red). Firman-Nya ini menunjukkan akan pengingkaran-Nya terhadap persangkaan mereka dalam masalah hukum, kemudian Allah melanjutkan firman-Nya,

Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka Telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.

Dapat diketahui dari ayat ini bahwa yang dimaksud dengan azh-zhannu yang tidak boleh dijadikan hujjah dalam masalah apapun menyangkut agama (baik dalam masalah akidah maupun hukum) adalah azh-Zhannu menurut definisi bahasa yang telah disebutkan, yaitu sangkaan dan perkiraan-perkiraan yang tidak didasari oleh ilmu.

Kalau demikian halnya, maka benarlah perkataan kami: Bahwa seluruh ayat maupun hadits-hadits yang menunjukkan kewajiban seorang muslim untuk menjadikan hadits ahad sebagai hujjah di dalam masalah hukum juga menunjukkan –secara umum- untuk menjadikannya hujjah di dalam masalah akidah.

Jika dicermati, maka sesungguhnya pemisahan antara masalah hukum dan akidah ditujukan dari sisi kehujjahan hadits ahad terhadap keduanya adalah merupakan suatu falsafah baru di dalam Islam. Hal tersebut tidak pernah dikenal sebelumnya oleh para ulama salaf, imam yang empat maupun ulama-ulama yang lain di seluruh penjuru dunia (yang diikuti oleh para ulama sekarang ini).

Dasar dari pendapat mereka hanya persangkaan dan khayalan

Sungguh sesuatu yang ajaib dan mengherankan bahwa kalimat yang terdengar oleh seorang muslim sejati dari lisan para khathib dan dari pena-pena para penulis –dikala keimanan mereka terhadap hadits semakin melemah-, mereka menolak sebuah hadits mutawatir yang telah dijelaskan oleh para ahli hadits, seperti hadits turunnya Nabi Isa alaihis salam di akhir zaman dengan dalil, “Hadits ahad bukan merupakan standar di dalam masalah akidah”. Sebenarnya yang mengherankan adalah perkataan mereka ketika menjadikannya sebuah akidah, maka jika demikian selayaknya mereka mendatangkan sebuah dalil yang kuat untuk membuktikan kebenaran dari perkataan mereka itu. Tetapi sungguh hal itu merupakan sesuatu yang sangat mustahil, karena tidak ada satu dalilpun yang benar untuk dijadikan sandaran oleh mereka.

Kalau demikian, persangkaan mereka itu hanyalah sebuah khayalan yang tidak boleh dijadikan standar di dalam masalah hukum. Jika demikian, maka bagaimana mungkin dapat dijadikan standar hukum dalam masalah-masalah akidah? Dengan kata lain mereka berusaha untuk tidak berdalil dengan menggunakan azh-zhannul ghalib, namun secara tidak sadar mereka terjatuh kepada sesuatu yang lebih buruk dari hal itu, yaitu berdalil dengan menggunakan azh-zhannul marjuh (persangkaan yang lemah). Untuk itu ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berakal!.

Disalin dari : “Hadits sebagai landasan akidah dan hukum” oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Penerjemah: Mohammad Irfan Zein. Terbitan Pustaka Azzam. Jakarta. Cet-1/September 2002.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIYAH

KATEGORI

ARSIP

ONLINE

Counter Powered by  RedCounter
%d bloggers like this: