Iskud’s Blog

Sayyid Qutb teroris ?

Posted on: 22 April 2010

Di  sini akan dipaparkan kesaksian positif para ulama dunia kepadanya, di tengah fitnah terorisme yang diarahkan ke Islam oleh barat, namun justru diaminkan oleh segelintir da’i Islam yang juga ikut menuduh aktifis Islam dan ulamanya ,sebagai teroris, termasuk Sayyid Quthb -rahmatullah ‘alaih. Bahkan begitu tega mereka katakan bahwa Sayyid Quthb merupakan investor dan kontributor terbesar secara fikrah, atas berbagai aksi kekerasan atas nama Islam pada hari ini.

Berikut ini paparan para Ulama yang memberikan kesaksian positif tersebut, dan pembaca akan dapatkan betapa jauh berbeda antara para ulama ini dengan pandangan sinis dan skeptis dari kalangan bukan ulama. Sehingga layak kita bertanya, ulama mana yang diikutinya?

1.Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin -rahimahullah.

Anggota Hai’ah Kibar al Ulama di Saudi Arabia. Silahkan lihat kesaksian dan pembelaan beliau terhadap Sayyid Quthb dan Hasan al Banna dalam rubrik Tsaqafah edisi 17, atau lihat kitab Al Ikhwan Al Muslimun Kubra Al Harakat Al Islamiyah Syubhat wa,Rudud karya Al Ustadz Dr. Taufiq al Wa’iy,hal. 515-516. Cet.1, 2001M/1421H. Maktabah Al Manar Al Islamiyah, Kuwait.

2.Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah.

Juga anggota Hai’ah Kibar al Ulama. Ia telah membela Sayyid Quthb -rahimahullah- dari serangan Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhaly. Ia mengirim surat kepada Syaikh Rabi’ sebagai nasehat untuknya. Silakan lihat surat tersebut – sangat panjang- yang sebagiannya telah kami terjemahkan dari kitab berjudul Sayyid Quthb karya Shalah Abdul Fattah al Khalidi, hal. 593-600, penerbit Darul Qalam, Damaskus, yang kami lampirkan dalam buku Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, hal. 411-418 (edisi lengkap). Lihat juga Al Ikhwan Al Muslimun Kubra Al Harakat Al Islamiyah Syubaht wa Rudud, hal. 508- 514.

3.Syaikh Abdullah bin Al Hasan al Qu’ud -rahimahullah.

Seorang ulama Saudi Arabia yang juga menjadi rujukan kaum Salafiyyin. Syaikh Ibnu Qu’ud telah menasehati Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhali.

Ia berkata, “Telah membawa berita kepadaku lebih dari seorang, tentang perkataanmu di suatu pertemuan baik-baik -semoga demikian adanya- bahwa engkau mengatakan buku Ma’alim fi Ath Thariq adalah buku terlaknat. Subhanallah!! Sebuah buku yang dibayar mahal oleh penulisnya (yakni Sayyiq Quthb) dengan mati di jalan Allah karena menentang penguasa komunis Jamal Abdul Nashir, sebagaimana diketahui oleh orang-orang pada masa itu. Padahal buku tersebut telah diedarkan oleh banyak pihak di Kerajaan Saudi ini selama bertahun¬tahun, di mana mereka adalah orang-orang berilmu dan berdakwah kepada Allah. Bahkan, banyak di antara mereka adalah para syaikh dari syaikh-syaikhmu. Dan, tidak ada seorang pun di antara mereka mengatakan seperti yang engkau katakan.

Akan tetapi, engkau ini -wallahu a’lam- tidak mau memahami lebih mendalam apa yang engkau bicarakan sebelum marah, terutama untuk tema-tema semacam: Jail Qur’ani Farid (Satu-satunya Generasi Da’wah), Jihad, Laa Ilaaha Illallah manhaj kehidupan, Jinsiyyatu Al Muslim Aqidatuhu (Warga negara/Identitas seorang Muslim adalah Aqidahnya), Isti’la Al Iman (Kesombongan/ Ketinggian Iman), Hadza Huwa Ath Tharid (Inilah Dia Jalan -yang benar), …. Dan lain-lain dimana maknanya secara keseluruhan adalah keberagamaanmu kepada Allah? Bagaimana engkau nanti jika berdiri di hadapan Allah ketika orang ini (Sayyid Quthb) mendebatmu? Padahal, orang ini telah bertahun-tahun lamanya secara berturut¬turut disifati oleh media massa Saudi sebagai syahidul Islam?” (Abduh Zlfidar Akaha, Siapa Teroris? Siapa Khawarij?, hal. 325-326)

4.Syaikh al ‘Allamah Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh -hafizhahullah.

Mufti Kerajaan Saudi Arabia saat ini, pemgganti Syaikh bin Baz. Syaikh ini mengkritik balik orang-orang yang mengkritik Sayyid Quthb.

Beliau berkata, “Kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an adalah kitab yang bermanfaat. Penulisnya menuliskannya agar Al Qur’an ini dijadikan sebagai undang-undang kehidupan. Kitab ini bukanlah tafsir dalam arti kata harfiyah, tetapi penulisnya banyak menampilkan ayat-ayat Al Qur’an yang dibutuhkan oleh seorang muslim dalam hidupnya … Di sana ada orang yang mengkritik sebagian istikah yang terdapat dalam kitab ini. Namun, sesungguhnya hal-hal yang dianggap kesalahan ini adalah dikarenakan indahnya perkataan Sayyid Quthb dan tingginya gaya bahasa yang beliau pergunakan di atas gaya bahasa pembaca. Inilah sebetulnya yang tidak dipahami oleh sebagian orang yang mengkritiknya. Kalau saja mereka mau menyelaminya lebih dalam dan mengulangi bacaannya, sungguh akan jelas bagi mereka kesalahan mereka, dan kebenaran Sayyid Quthb.” (Ibid, hal. 326)

Ucapan Syaikh ini mengingatkan kami kepada Andi Abu Thalib al Atsary (nama aslinya Andi Bangkit), penulis Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwahul Muslimin, Penerbit Darul Qalam, pada hal. 73 catatan kaki no. 56 yang begitu tega menyebut Sayyid Quthb tidak mengetahui seluk beluk bahasa Arab.

Kami tidak tahu, kira-kira apa yang akan dikatakan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh kepada Andi Abu Thalib, kalau dia tahu ada omongan pemuda Indonesia -tentu tidak menjadikan bahasa Arab sebagai pengantar komunikasinya- yang tega menyebut Sayyid Quthb tidak mengerti bahasa Arab. Padahal kritikan Syaikh di atas diarahkan untuk para pengkritik Sayyid Quthb dari kalangan orang Arab (tentu berbahasa Arab) bahkan syaikh-syaikhnya. Sungguh, amat berbeda antara ucapan orang berilmu seperti syaikh yang mulia ini, dibanding ucapan penuntut ilmu itu. Bahkan Syaikh Bakr Abu Zaid ketika membela Sayyid Quthb dari celaan. Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan bahwa perbedaan bahasa yang digunakan Sayyid Quthb dan Syaikh Rabi’ seperti perbedaan bahasa antara mahasiswa dan anak I’dadi (persiapan bahasa), sehingga si anak I’dadi tidak begitu paham dengan bahasa si mahasiswa.(Ibid, hal. 322)

Itu perbandingan dari Syaikh Bakr Abu Zaid tentang kemampuan berbahasa Arab antara Sayyid Quthb dan Syaikh Rabi’ (yang seorang guru besar, Profesor di Universitas Islam Madinah), lalu bagaimana perbandingan antara Sayyid Quthb dengan Andi Abu Thalib yang orang Indonesia, mantan santri di pesantren Jawa Timur dan kuliah di Sastra Jepang UI angkatan 1999M. Jangan sampai pembaca Tatsqif mengumpamakannya seperti perbedaan Mahasiswa dengan balita!

Maka, wahai pembaca, bukankah selayaknya ini disebut kesombongan penulis Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin, agar ia bisa berbangga- bangga dengan ilmunya di depan ulama.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ‘Alaihi Shalatu was Salam bersabda: “Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk membanggakannya kepada para ulama dan melecehkan orang-orang bodoh, dan janganlah kalian memilih-milih majlis dengan ilmu itu, barangsiapa melakukan hal tersebut maka api neraka, api neraka (baginya).” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan al Baihaqi. Semuanya dari jalur Yahya bin Ayyub al Ghafiqi dari Ibnu Juraij, dari Abuz Zubair, dari jabir. Yahya initerpercaya. Asy Syaikhan dan lainnya berhujjah dengannya, dan tidak dianggap orang yang ganjil (syadz) dalam riwayat ini. Ibnu Majah meriwayatkan pula dari Hudzaifah. Syaikh al Albany menshahihkan hadits ini dalam Shahih Targhib wa Tarhib 1/119)

5.Syaikh Manna’ Khalil al Qaththan -rahimahullah.

Pakar Tafsir dan Hadits, dosen pasca sarjana di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud Al Islamiyah, Riyadh. Mantan Ketua Mahkamah Tinggi di Riyadh. Dia juga seorang anggota Ikhwan, seangkatan dengan Yusuf al Qaradhawy. Posisinya di Saudi yang demikian tinggi menunjukkan penerimaan ulama Saudi terhadap tokoh-tokoh Ikhwan, begitu pula Yusuf al Qaradhawy pernah menjadi anggota Majelis Tinggi Universitas Islam Madinah yang direktori Syaikh bin Baz.

Kami ringkas ucapan Syaikh Manna’, dia berkata, “Di antara tokoh jamaah ini yang paling menoniol adalahseorang alim yang sulit dicari bandingannya dan pemikir cemerlang, Asy Syahid Sayyid Quthb, yang telah memfilsafatkan pemikiran Islam dan menyingkapkan ajaran¬ajarannya yang benar dengan jelas dan gamblang. Tokoh yang menemui Tuhannya, sebagai syahid dalam membela akidah ini telah meninggalkan warisan pemikiran sangat bermutu, terutama kitabnya dalam bidang tafsir yang diberi nama Fi Zhilalil Qur’an.

Kitab tersebut merupakan sebuah tafsir sempurna tentang kehidupan di bawah sinar Qur’an dan petunjuk Islam. Pengarangnya hidup di bawah naungan Qur’an yang bijaksana sebagaimana dapat dipahami dari penamaan kitabnya. Ia meresapi keindahan Qur’an dan mampu mengungkapkan perasaannya dengan jujur ….dst.

Kitab ini terdiri atas delapan jilid besar dan telah mengalami cetak ulang beberapa kali hanya dalam beberapa tahun saja, karena mendapat sambutan hangat dari kaum terpelajar (ilmuwan).” (Ibid, hal. 326-327. Manna Khalil al Qaththan, Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an, hal. 506-507)

6. Syaikh Umar Sulaiman al Asyqar. Seorang ulama Quwait, dosen Fakultas Syariah di Universitas Quwait

Dia berkata, “Sayyid Quthb -rahimahullah mendalami Islam secara orisinil sehingga beliau mencapai masalah secara mendasar seperti manhaj salaf, pemisahan total antara manhaj Al Qur’an dan filsafat, memurnikan sumber ajaran Islam dari lainnva. membatasi standar hukum hanya dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan bukan pada pribadi atau tokoh tertentu. Sayyid Quthb menerapkan cara istimbath langsung dari nash seperti yang dilakukan salaf. Akan tetapi, sayangnya beliau tidak memiliki kesempatan mempelajari manhaj Islam. oleh karena itu, terkadana ada beberapa titik rancu dalam tulisannya meskipun beliau sudah berupaya mengkaji secara serius untuk berlepas dari kerancuan. Pastinya, Sayyid Quthb tidak melakukan hal tersebut karena hawa nafsunya.” (Jasim al Muhalhil, Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Jawaban, Tuduhan, dan Harapan, hal. 124)

Siapa saja bisa berbuat salah sebab yang ma’shum hanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Namun demikian seharusnya, kita berbaik sangka terhadap kerancuan yang ada tulisan atau pemikiran ulama, siapapun dia. Kesalahan yang dilakukan oleh Hasan al Banna, Sayyid Quthb, Yusuf al Qaradhawy, Muhammad al Ghazaly, kita yakini bukanlah kesalahan yang mereka niatkan dengan sengaja bertujuan merusak agama sebagaimana yang sering dituduhkan sebagian orang kepada mereka. Mungkin kesalahan itu sekedar lupa, atau kesalahan yang masih bisa dimaafkan atau masih bisa didiskusikan. Pastinya, bukan karena kejahatan dan penistaan terhadap ajaran agama.

http://ulwani.tripod.com/kesaksian_ulama.htm

Khithab Adz-Dzahabi (Surat Emas) Syaikh Bakr Bin AbduLLAAH Abu Zaid untuk DR Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Atas Tuduhan-Tuduhannya terhadap Sayyid Quthb

الخطاب الذهبي

Khithab Adz-Dzahabi (Surat Emas) Syaikh Bakr Bin AbduLLAAH Abu Zaid [1] –rahimahuLLAAH- untuk DR Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Atas Tuduhan-Tuduhan DR Rabi’ terhadap Sayyid Quthb –rahimahuLLAAH-

بقلم الشيخ بـكــــر أبـــو زيـــد حفظه الله

فضيلة الأخ الشيخ / ربيع بن هادي المدخلي .. الموقر
السلام عيكم ورحمة الله وبركاته.. وبعد

فأشير إلى رغبتكم قراءة الكتاب المرفق ((أضواء إسلامية على عقيدة سيد قطب وفكره)).. هل من ملاحظات عليه ثم هذه الملاحظات هل تقضي على هذا المشروع فيطوى ولا يروى، أم هي مما يمكن تعديلها فيترشح الكتاب بعد الطبع والنشر ويكون ذخيرة لكم في الأخرى، بصيرة لمن شاء الله من عباده في الدنيا، لهذا أبدي ما يلي..

Yang Terhormat Saudaraku

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi

Assalamu’alaikum Wr Wb

Merujuk kepada permintaan saudaraku –Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi- agar aku sudi membaca buku yang engkau kirim: “Sorotan Islam Terhadap Aqidah dan Fikrah Sayyid Quthb”.. untuk dilihat apakah aku punya catatan terhadap buku tersebut, dan apabila ada catatan apakah sampai menggagalkan proyek penerbitannya sehingga harus disingkirkan dan tidak perlu dilihat-lihat lagi, atau catatan tersebut masih memungkinkan untuk direvisi sehingga buku tersebut setelah dicetak dan diterbitkan bisa lebih berbobot, dan menjadi tabungan kebaikan antum di akhirat kelak, menjadi lentera penerang bagi kehidupan hamba yang dikehendaki Allah saat masih di alam dunia? Oleh karena itu aku ingin mengungkapkan bagaimana pendapatku:

1 – نظرت في أول صفحة من (فهرس الموضوعات فوجدتها عناوين قد جمعت في سيد قطب رحمه الله، أصول الكفر والإلحاد والزندقة، القول بوحدة الوجود، القول بخلق القرآن، يجوز لغير الله أن يشرع، غلوه في تعظيم صفات الله تعالى، لا يقبل الأحاديث المتواترة، يشكك في أمور العقيدة التي يجب الجزم بها، يكفر المجتمعات ..إلى أخر تلك العناوين التي تقشعر منها جلود المؤمنين..

Setelah melihat halaman pertama yang di dalamnya terdapat daftar isi buku, aku dapati dari daftar isi tersebut berbagai judul tulisan yang semuanya tertuju kepada Sayyid Quthb rahimahuLLAAH; Sayyid Quthb akar kekufuran, atheisme dan zindiq; Sayyid Quthb mengatakan adanya wihdatul wujud; mengatakan Al Qur’an itu makhluk ; selain Allah boleh membuat syariat; berlebihan dalam mengagungkan sifat Allah; menolak hadits-hadits mutawattir; meragukan masalah-masalah aqidah yang jelas wajib diyakini; mengkafirkan masyarakat… dan judul tulisan lainnya yang membuat merinding kulit orang-orang yang beriman..

وأسفت على أحوال علماء المسلمين في الأقطار الذين لم ينبهوا على هذه الموبقات.. وكيف الجمع بين هذا وبين انتشار كتبه في الآفاق انتشار الشمس، وعامتهم يستفيدون منها، حتى أنت في بعض ما كتبت، عند هذا أخذت بالمطابقة بين العنوان والموضوع، فوجدت الخبر يكذبه الخبر، ونهايتها بالجملة عناوين استفزازية تجذب القارئ العادي، إلى الوقيعة في سيد رحمه الله، وإني أكره لي ولكم ولكل مسلم مواطن الإثم والجناح، وإن من الغبن الفاحش إهداء الإنسان حسناته إلى من يعتقد بغضه وعداوته.

Bila hal ini benar, aku menyayangkan kondisi ulama-ulama umat Islam di berbagai negeri yang tidak memperhatikan kebejatan ini… Tapi, bagaimana mungkin hal ini terjadi sementara buku-buku Sayyid Quthb sudah tersebar luas ke seluruh penjuru dunia, dan umumnya umat Islam mengambil manfaat dari buku-buku tersebut, termasuk engkau sendiri, dalam beberapa tulisan engkau menukil dari buku Sayyid Quthb. Hal ini membuat aku segera mengecek kesesuaian judul-judul tersebut dengan materi bahasan di dalamnya, ternyata pernyataan yang satu dibantah dengan pernyataan lainnya. Kesimpulannya judul dan tema yang dibahas sangat provokatif yang dapat mendorong pembaca biasa untuk mencederai pribadi Sayyid Quthb. Sungguh aku membenci diriku, engkau dan setiap muslim terperosok kedalam lembah dosa dan kesalahan. Merupakan kerugian besar bila seseorang menghadiahkan kebaikannya kepada orang yang dibenci dan dimusuhi.

2 – نظرت فوجدت هذا الكتاب يـفـتـقــد:

(أصـول البحث العلمي، الحيـدة العلمية، منهـج النقد، أمانـة النقل والعلم، عـدم هضم الحق).
أما أدب الحوار وسمو الأسلوب ورصانة العرض فلا تمت إلى الكتاب بهاجس.. وإليك الدليل…

2. Setelah aku perhatikan, buku ini mengabaikan prinsip-prinsip penulisan ilmiah, obyektifitas dan metodologi kritik ilmiah, mengabaikan kejujuran dalam mengutip tulisan dan tidak memihak kebenaran. Adapun adab berdialog, kwalitas bahasa dan cara pengungkapannya lebih parah lagi. Hal tersebut dapat kita buktikan sebagai berikut:

أولاً: رأيت الاعتماد في النقل من كتب سيد رحمه الله تعالى من طبعات سابقة مثل الظلال والعدالة الاجتماعية مع علمكم كما في حاشية ص 29 وغيرها، أن لها طبعات معدلة لاحقة، والواجب حسب أصول النقد والأمانة العلمية، تسليط النقد إن كان على النص من الطبعة الأخيرة لكل كتاب، لأن ما فيها من تعديل ينسخ ما في سابقتها وهذا غير خاف إن شاء الله تعالى على معلوماتكم الأولية، لكن لعلها غلطة طالب حضر لكم المعلومات ولما يعرف هذا ؟؟، وغير خاف لما لهذا من نظائر لدى أهل اعلم، فمثلاً كتاب الروح لابن القيم لما رأى بعضهم فيما رأى قال: لعله في أول حياته وهكذا في مواطن لغيره، وكتاب العدالة الاجتماعية هو أول ما ألفه في الإسلاميات والله المستعان.

Pertama: Setelah aku perhatikan, kutipan-kutipan dari buku-buku Sayyid Quthb engkau mengandalkan pada cetakan lama seperti buku Fi Zhilalil Qur’an dan ‘Adaalah Ijtima’iyah, padahal engkau mengetahui bahwa buku-buku tersebut memiliki cetakan edisi revisi sebagaimana tercantum dalam catatan kaki di halaman-29 dan halaman lainnya. Seharusnya sesuai standar ilmiyah dalam memberikan kritik dan penilaian, yang dijadikan obyek kritik terfocus pada buku-buku yang dicetak terakhir, sebab sangat dimungkinkan ada revisi-revisi yang menghapus apa yang ada dalam cetakan sebelumnya dan tentu hal ini sudah menjadi pengetahuan dasar engkau, kecuali bila buku ini merupakan hasil kerja murid engkau yang menyerap pengetahuanmu, mungkin ia tidak mengetahui standar ilmiyah tersebut?!

ثانيًا: لقد اقشعر جلدي حينما قرأت في فهرس هذا الكتاب قولكم (سيد قطب يجوز لغير الله أن يشرع)، فهرعت إليها قبل كل شيء فرأيت الكلام بمجموعه نقلاً واحدًا لسطور عديدة من كتابه العدالة الاجتماعية) وكلامه لا يفيد هذا العنوان الاستفزازي، ولنفرض أن فيه عبارة موهمة أو مطلقة، فكيف نحولها إلى مؤاخذة مكفرة، تنسف ما بنى عليه سيد رحمه الله حياته ووظف له قلمه من الدعوة إلى توحيد الله تعالى (في الحكم والتشريع) ورفض سن القوانين الوضعية والوقوف في وجوه الفعلة لذلك، إن الله يحب العدل والإنصاف في كل شيء ولا أراك إن شاء الله تعالى إلا في أوبة إلى العدل والإنصاف.

Kedua: Sungguh merinding kulitku ketika aku membaca di Daftar Isi ucapanmu (Sayyid Quthb membolehkan kepada selain ALLAH untuk membuat syariat) maka aku segera mengeceknya sebelum melakukan yang lain, maka kulihat kata-kata Sayyid Quthb secara keseluruhan dalam beberapa baris dari kitabnya Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah. Dan ucapan beliau sama sekali tidak menunjukkan judul tsb, seandainya kita ingin menyimpulkan bahwa di dalam ucapannya ada ungkapan yang belum jelas, bagaimana mungkin kita menghukumi beliau dengan vonis mengkafirkannya?!

Hendaknya kita mengingat apa yang telah dilakukan Sayyid Quthb di dalam hidupnya, dan bagaimana beliau menggunakan penanya mengajak orang kepada Tauhid dalam hukum & perundang-undangan dan bahwa beliau menolak pemberlakuan hukum buatan manusia & berdiri menghadang orang-orang yang melakukannya. Sesungguhnya ALLAH SWT mencintai sikap adil & obyektif dalam setiap hal & aku melihat engkau insya ALLAH mau kembali kepada keadilan & sikap obyektif tsb.

ثالثًا: ومن العناوين الاستـفـزازيـــة قولكم (قول سيد قطب بوحدة الوجود).

إن سيدًا رحمه الله قال كلامًا متشابهًا حلق فيه بالأسلوب في تفسير سورتي الحديد والإخلاص وقد اعتمد عليه بنسبة القول بوحدة الوجود إليه، وأحسنتم حينما نقلتم قوله في تفسير سورة البقرة من رده الواضح الصريح لفكرة وحدة الوجود، ومنه قوله: (( ومن هنا تنتفي من التفكير الإسلامي الصحيح فكرة وحدة الوجود)) وأزيدكم أن في كتابه (مقومات التصور الإسلامي) ردًا شافيًا على القائلين بوحدة الوجود، لهذا فنحن نقول غفر الله لسيد كلامه المتشابه الذي جنح فيه بأسلوب وسع فيه العبارة.. والمتشابه لا يقاوم النص الصريح القاطع من كلامه، لهذا أرجو المبادرة إلى شطب هذا التكفير الضمني لسيد رحمه الله تعالى وإني مشفق عليكم

Ketiga: Dan diantara judul dalam Daftar Isi yang mengerikan adalah kata-kata-mu bahwa Sayyid Quthb mengatakan Wihdatul Wujud… Sesungguhnya Sayyid rahimahuLLAAH mengucapkan kata-kata yang mutasyabih (multi interpretatif), dengan uslub atau gaya tertentu dalam menafsirkan surat Al-Hadid & surat Al-Ikhlas yang membuat engkau menisbahkan Wihdatul Wujud itu kepadanya. Padahal engkau telah berbuat baik ketika engkau menukil perkataan Sayyid saat menafsirkan surat Al-Baqarah bahwa Sayyid menolak dengan jelas fikrah Wihdatul Wujud, dan di antara ucapan Sayyid tsb adalah (Dan dari sinilah berakhir pemikiran Wihdatul Wujud dalam fikrah Islamiyah yang benar). Dan aku tambahkan pada engkau bahwa dalam kitabnya Muqawwimat Tashawwur Islamiy terdapat bantahan yang cukup jelas terhadap orang-orang yang mengatakan Wihdatul Wujud. Oleh sebab itu kami berkata semoga ALLAH mengampuni Sayyid Quthb atas ucapannya atau kalimatnya yang mutasyabih dengan uslub yang memungkinkan disalah-fahami. Dan mutasyabih tidak dapat mengalahkan ungkapan yang tegas dari tulisan Sayyid, oleh karena itu aku berharap agar engkau segera mencoret vonis takfir tersembunyi kepada Sayyid rahimahuLLAHu Ta’ala & aku benar-benar menyayangi engkau.

رابعًا: وهنا أقول لجنابكم الكريم بكل وضوح إنك تحت هذه العناوين (مخالفته في تفسير لا إله إلا الله للعلماء وأهل اللغة وعدم وضوح الربوبية والألوهية عند سيد) .

أقول أيها المحب الحبيب، لقد نسفت بلا تثبت جميع ما قرره سيد رحمه الله تعالى من معالم التوحيد ومقتضياته، ولوازمه التي تحتل السمة البارزة في حياته الطويلة فجميع ما ذكرته يلغيه كلمة واحدة، وهي أن توحيد الله في الحكم والتشريع من مقتضيات كلمة التوحيد، وسيد رحمه الله تعالى ركز على هذا كثيرًا لما رأى من هذه الجرأة الفاجرة على إلغاء تحكيم شرع الله من القضاء وغيره وحلال القوانين الوضعية بدلاً عنها ولا شك أن هذه جرأة عظيمة ما عاهدتها الأمة الإسلامية في مشوارها الطويل قبل عام (1342هـ ).

Keempat: Dan tentang judul yang kau tulis “Penyelisihannya dalam menafsirkan LailahaillaLLAAH terhadap pendapat para ulama & ahli bahasa serta ketidakjelasan Tauhid Rububiyyah & Uluhiyyah pada diri Sayyid. Aku mengatakan wahai kekasihku, sungguh engkau telah sembrono tanpa melakukan tabayyun terhadap semua yang telah dinyatakan oleh Sayyid rahimahuLLAH tentang rambu-rambu tauhid & konsekuensinya yang semua itu bahkan menjadi ciri beliau yang menonjol di sepanjang kehidupannya, sedangkan apa yang kau sebutkan dengan 1 kalimat telah menghapus semua itu. Dan ucapan beliau bahwa TauhiduLLAAH dalam hukum & tasyri’ termasuk konsekuensi kalimat tauhid, adalah karena Sayyid melihat keberanian yang kurang ajar dari sebagian orang menghilangkan tahkim dengan syariat ALLAH & menghalalkan hukum buatan manusia sebagai ganti syariat ALLAH, semua itu yang tidak pernah dikenal oleh ummat Islam sepanjang sejarahnya sebelum tahun 1342-H.

خامسًا: ومن عناوين الفهرس (قول سيد بخلق القرآن وأن كلام الله عبارة عن الإرادة)..
لما رجعت إلى الصفحات المذكورة لم أجد حرفًا واحدًا يصرح فيه سيد رحمه الله تعالى بهذا اللفظ (القرآن مخلوق) كيف يكون هذا الاستسهال للرمي بهذه المكفرات، إن نهاية ما رأيت له تمدد في الأسلوب كقوله (ولكنهم لا يملكون أن يؤلفوا منها ـ أي الحروف المقطعة ـ مثل هذا الكتاب لأنه من صنع الله لا من صنع الناس) ..وهي عبارة لا شك في خطأها ولكن هل نحكم من خلالها أن سيدًا يقول بهذه المقولة الكفرية (خلق القرآن) اللهم إني لا أستطيع تحمل عهدة ذلك.. لقد ذكرني هذا بقول نحوه للشيخ محمد عبد الخالق عظيمة رحمه الله في مقدمة كتابه دراسات في أسلوب القرآن الكريم والذي طبعته مشكورة جامعة الإمام محمد بن سعود الإسلامية، فهل نرمي الجميع بالقول بخلق القرآن اللهم لا، واكتفي بهذا من الناحية الموضوعية وهي المهمة.

ومن جهات أخرى أبدي ما يلي:

Kelima: Di bawah judul (ucapan Sayyid bahwa Qur’an adalah makhluq & bahwasanya KalamuLLAAH adalah ungkapan iradah ALLAAH). Ketika aku merujuk ke halaman yang disebutkan aku tidak menemukan 1 hurufpun yang mengungkapkan bahwa Sayyid mengatakan Qur’an tersebut makhluk, bagaimana mungkin begitu gampang terjadi tuduhan yang mengkafirkan ini?! Yang bisa aku lihat dari ucapan Sayyid Quthb adalah luasnya uslub beliau ketika mengatakan (tetapi mereka tidak akan bisa menyusun huruf-huruf di awal surat seperti yang terdapat dalam Qur’an ini, karena Al-Qur’an termasuk perbuatan ALLAAH & bukan perbuatan manusia). Ungkapan ini jelas keliru akan tetapi apakah langsung dengan hal tsb kita dapat memvonis bahwa Sayyid mengatakan Qur’an makhluq? Ya ALLAAH aku sungguh tidak dapat melakukannya. Hal ini mengingatkan aku dengan ucapan sejenis dari Syaikh Muhammad Abdul Khaliq ‘Azimah rahimahuLLAAH dalam muqaddimmah kitabnya Dirasat fi Uslubil Qur’anil Kariem yang dicetak oleh Universitas Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islmiyyah, apakah kita menuduh semuanya telah mengatakan Quran itu makhluq, Ya ALLAH sungguh tidak demikian. Dan aku cukupkan hal ini tapi dari sisi lain aku ingin mengungkapkan hal-hal berikut ini:

1 – مسودة هذا الكتاب تقع في 161 صفحة بقلم اليد، وهي خطوط مختلفة، ولا أعرف منه صفحة واحدة بقلمكم حسب المعتاد، إلا أن يكون اختلف خطكم، أو اختلط علي، أم أنه عُهد بكتب سيد قطب رحمه الله لعدد من الطلاب فاستخرج كل طالب ما بدا له

تحت إشرافكم، أو بإملائكم.

لهذا فلا أتحقق من نسبته إليكم إلا ما كتبته على طرته أنه من تأليفكم، وهذا عندي كاف في التوثيق بالنسبة لشخصكم الكريم.

Draft kitab ini terdiri dari 161 halaman dengan tulisan tangan, dengan khath yang berbeda (tidak 1 orang yang menulis) & tidak ada 1 halamanpun yang aku kenal sebagai tulisan engkau, kecuali jika tulisan engkau sudah berubah atau aku sudah tidak kenal lagi tulisanmu atau tulisan ini sengaja dibuat oleh murid-muridmu sehingga masing-masing murid menulis tentang apa yang menjadi pendapatnya tentang Sayyid di bawah bimbingan engkau atau engkau diktekan pada mereka. Oleh sebab itu aku tidak mengecek nisbah buku ini kepadamu, kecuali dari apa yang tertulis di halaman muka naskah ini & ini cukup bagi aku.

2 – مع اختلاف الخطوط إلا أن الكتاب من أوله إلى أخره يجري على وتيرة واحدة وهي: أنه بنفس متوترة وتهيج مستمر، ووثبة تضغط على النص حتى يتولد منه الأخطاء الكبار، وتجعل محل الاحتمال ومشتبه الكلام محل قطع لا يقبل الجدال…وهذا نكث لمنهج النقد: الحيدة العلمية .

Meskipun tulisan tangannya berbeda tetapi kitab ini dari awal hingga akhir punya kesamaan yaitu jiwa yang menggebu-gebu, melonjak-lonjak yang emosional sehingga melahirkan kesalahan-kesalahan besar, yang menjadikan hal-hal yang ucapan-ucapan yang mutasyabih langsung dianggap qath’i (tanpa perlu diperdebatkan), dan ini adalah kesalahan menurut metode kritik yang obyektif & ilmiah.

3 – من حيث الصيغة إذا كان قارنًا بينه وبين أسلوب سيد رحمه الله، فهو في نزول، سيد قد سَمَا، وإن اعتبرناه من جانبكم الكريم فهو أسلوب (إعدادي) لا يناسب إبرازه من طالب علم حاز على العالمية العالية، لا بد من تكافؤ القدرات في الذوق الأدبي، والقدرة على البلاغة والبيان، وحسن العرض، وإلا فليكسر القلم.

Dari sudut ungkapan-ungkapan buku ini jika dibandingkan dengan uslub & ungkapan Sayyid rahimahuLLAAH tergolong rendah, ungkapan Sayyid tinggi & jika dibandingkan dengannya ungkapan engkau seperti ungkapan anak-anak I’dad (sedang belajar bahasa Arab), tidak sesuai dengan ungkapan pelajar yang telah mendapat ijazah pendidikan tinggi. Padahal seharusnya perlu ada kesamaan kemampuan untuk merasakan bahasa & adab yang tinggi, kemampuan ilmu balaghah & ilmu bayan & kemampuan mengungkapkan & menjelaskan, jika tidak maka akan terjadi kekeliruan.

4 – لقد طغى أسلوب التهيج والفزع على المنهج العلمي النقدي…. ولهذا افتقد الرد أدب الحوار.

Metode & ungkapan emosional yang keras itu sudah sangat berlebihan, sehingga mengalahkan manhaj ilmiah dalam mengkritik, oleh sebab itu bantahan dalam tulisan ini kehilangan etika dialog.

5 – في الكتاب من أوله إلى آخره تهجم وضيق عطن وتشنج في العبارات فلماذا هذا…؟

Dalam kitab ini, dari awal sampai akhir berisi serangan, sempit dada, ungkapan-ungkapan yang kasar, maka untuk apa semua ini..?

6 – هذا الكتاب ينشط الحزبية الجديدة التي أنشئت في نفوس الشبيبة جنوح الفكر بالتحريم تارة، والنقض تارة وأن هذا بدعة وذاك مبتدع، وهذا ضلال وذاك ضال.. ولا بينة كافية للإثبات، وولدت غرور التدين والاستعلاء حتى كأنما الواحد عند فعلته هذه يلقي حملاً عن ظهره قد استراح من عناء حمله، وأنه يأخذ بحجز الأمة عن الهاوية، وأنه في اعتبار الآخرين قد حلق في الورع والغيرة على حرمات الشرع المطهر، وهذا من غير تحقيق هو في الحقيقة هدم، وإن اعتبر بناء عالي الشرفات، فهو إلى التساقط، ثم التبرد في أدراج الرياح العاتية .

Kitab ini justru menggairahkan “hizbiyyah jenis baru” yang menumbuhkan kecendrungan pemikiran pengharaman, penolakan, pembid’ahan, penyesatan pada diri para pemuda, tanpa ada dalil yang cukup. Kitab ini juga melahirkan ghurur dalam beragama, sombong, sehingga seolah-olah saat salah seorang melakukan tuduhan-tuduhan itu seolah-olah seperti orang yang melemparkan beban berat dari punggungnya lalu setelah itu ia merasa lega, seperti membawa…. , atau seperti orang yang menganggap orang lain telah kehilangan sikap wara’ & ghirah terhadap kehormatan syariat yang suci ini. Semua ini dilakukan tanpa tahqiq yang berarti menghancurkan, bukan malah membangun, meskipun ia menganggap sedang membangun bangunan tinggi, padahal hakikatnya sedang menghancurkannya & jatuh ke bawah lalu membeku tertiup angin yang kencang.

** هذه سمات ست تمتع بها هذا الكتاب فآل غـيـر مـمـتـع، هذا ما بدا إلي حسب رغبتكم، وأعتذر عن تأخر الجواب، لأنني من قبل ليس لي عناية بقراءة كتب هذا الرجل وإن تداولها الناس، لكن هول ما ذكرتم دفعني إلى قراءات متعددة في عامة كتبه، فوجدت في كتبه خيرًا كثيرًا وإيمانًا مشرفًا وحقًا أبلج، وتشريحًا فاضحًا لمخططات العداء للإسلام، على عثرات في سياقاته واسترسال بعبرات ليته لم يفه بها، وكثير منها ينقضها قوله الحق في مكان أخر والكمال عزيز، والرجل كان أديبًا نقادة، ثم اتجه إلى خدمة الإسلام من خلال القرآن العظيم والسنة المشرفة، والسيرة النبوية العطرة، فكان ما كان من مواقف في قضايا عصره، وأصر على موقفه في سبيل الله تعالى، وكشف عن سالفته، وطلب منه أن يسطر بقلمه كلمات اعتذار وقال كلمته الإيمانية المشهورة، إن أصبعًا أرفعه للشهادة لن أكتب به كلمة تضارها… أو كلمة نحو ذلك، فالواجب على الجميع … الدعاء له بالمغفرة … والاستفادة من علمه، وبيان ما تحققنا خطأه فيه، وأن خطأه لا يوجب حرماننا من علمه ولا هجر كتبه.. اعتبر رعاك الله حاله بحال أسلاف مضوا أمثال أبي إسماعيل الهروي والجيلاني كيف دافع عنهما شيخ الإسلام ابن تيمية مع ما لديهما من الطوام لأن الأصل في مسلكهما نصرة الإسلام والسنة، وانظر منازل السائرين للهروي رحمه الله تعالى، ترى عجائب لا يمكن قبولها ومع ذلك فابن القيم رحمه الله يعتذر عنه أشد الاعتذار ولا يجرمه فيها، وذلك في شرحه مدارج السالكين، وقد بسطت في كتاب (تصنيف الناس بين الظن واليقين ) ما تيسر لي من قواعد ضابطة في ذلك .

Inilah 6 ciri dari kitab ini yang nikmat, tetapi karena seperti itu ia menjadi tidak nikmat. Inilah yang tampak di hadapanku sesuai permintaanmu & aku mohon maaf atas keterlambatan jawaban ini, karena sebelumnya aku tidak punya perhatian cukup untuk membaca buku-buku Sayyid meskipun banyak beredar di tengah masyarakat. Tetapi kegoncangan yang engkau sebutkan di sana menyebabkan aku terdorong untuk banyak membaca kitab-kitab beliau, lalu aku temukan di dalamnya kebaikan yang banyak, iman yang membara & kebenaran yang jelas, penjelasan yang tegas terhadap rencana-rencana musuh terhadap Islam, meskipun terdapat ketergelinciran beliau dalam ungkapan-ungkapannya, namun banyak diantara kesalahan-kesalahan tsb terkoreksi oleh ungkapannya yang benar di tempat yang lain & mencapai kesempurnaan itu sungguh amat sulit. Dan Sayyid sebelumnya adalah seorang sastrawan yang kritikus, lalu ia beralih membela Islam melalui Al-Qur’an & As-Sunnah, serta Sirah Nabi yang harum, maka terlihatlah sikap beliau dalam berbagai problematika zamannya, dan beliau terus-menerus konsisten teradap sikapnya di jalan ALLAH Ta’ala. Dan ketika ia diminta untuk menulis permintaan maaf & penyesalan terhadap sikapnya, Sayyid mengungkapkan kalimat imaniyyahnya yang terkenal: “Sungguh jari-jari yang telah kugunakan untuk membela kalimah syahadah ini tidak akan pernah kugunakan untuk membatalkannya”, atau ungkapan beliau yang semisal itu. Maka menjadi kewajiban semuanya untuk mendokan beliau dengan ampunan, mengambil manfaat dari ilmunya, menjelaskan beberapa kesalahannya, dan bahwa kesalahannya jangan sampai membuat kita mengharamkan diri kita dari ilmunya & meninggalkan kitab-kitabnya. Ambillah pelajaran -semoga ALLAH melindungimu- dari kisah orang-orang terdahulu, seperti Abu Ismail Al-Harawi & Al-Jailani, sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah membela mereka berdua, meskipun mereka berdua memiliki beberapa kekeliruan, karena pada dasarnya jalan yang ditempuh oleh mereka berdua adalah membela Islam & Sunnah. Lihat pula kitab Manazilu As-Sa’irin karangan Al-Harawi rahimahuLLAAH Ta’ala, engkau lihat ada hal-hal yang tidak mungkin dapat kita terima, namun demikian Ibnul Qayyim rahimahuLLAAHu Ta’ala memaklumi beliau dengan permakluman yang sangat & tidak menzhaliminya & itu kita temukan dalam syarah beliau Madarijus Salikin. Dan aku sendiri telah menjelaskan dalam kitabku Tashnifun Nas Bayna Zhanni wal Yaqin (Penggolongan Manusia antara Dugaan & Keyakinan) beberapa kaidah-kaidah & pedoman dalam masalah ini.

وفي الختام فأني أنصح فضيلة الأخ في الله بالعدول عن طبع هذا الكتاب (أضواء إسلامية) وأنه لا يجوز نشره ولا طبعه لما فيه من التحامل الشديد والتدريب القوي لشباب الأمة على الوقيعة في العلماء، وتشذيبهم، والحط من أقدارهم والانصراف عن فضائلهم.. واسمح لي بارك الله فيك إن كنت قسوت في العبارة، فإنه بسبب ما رأيته من تحاملكم الشديد وشفقتي عليكم ورغبتكم الملحة بمعرفة ما لدي نحوه… جرى القلم بما تقدم سدد الله خطى الجميع.. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته،،

أخوكم بكر أبو زيد.

Dan pada akhirnya aku memberi nasihat kepada saudaraku fiLLAAH, yang mulia untuk TIDAK MENCETAK KITAB INI (Cahaya-Cahaya Islam), dan TIDAK BOLEH MENYEBARKANNYA & MENCETAKNYA, karena di dalamnya ada ’sikap antipati yang sangat’ & pelatihan yang kuat bagi para pemuda untuk menyerang para ulama, merendahkan mereka, menghina kedudukan mereka, menghindar dari keutamaan mereka. Maafkan aku, semoga ALLAH memberkatimu jika aku keras dalam ungkapanku kepadamu, semua itu karena sikap antipati pada dirimu yang kulihat & justru karena sikap sayangku kepadamu, dan juga karena keinginanmu yang sangat untuk mengetahui pendapatku dalam masalah ini. Demikian tulisan ini semoga ALLAH meluruskan semua langkah kita, Salamu ‘alaykum warahmatuLLAAHi wabarakatuh.

Saudaramu Bakr Abu Zaid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIYAH

KATEGORI

ARSIP

ONLINE

Counter Powered by  RedCounter
%d bloggers like this: