Iskud’s Blog

Ulama Salaf dan Ikhlas dalam Beramal

Posted on: 3 December 2010

Oleh : Muhammad Setiawan

Lelaki itu baru saja menempuh perjalanan jauh. Perjalanan yang bukan hanya menguras tenaga, namun juga fikiran. Penat dan letih mendera hingga ke sumsum tulangnya. Ditemani oleh seorang sahabat, ia beristirahat malam itu. Tiga puluh menit setelah keduanya merebahkan tubuh, tiba-tiba lelaki itu berbisik, memanggil temannya, “Umar, sudah tidurkah engkau … ?” Temannya menjawab, “Belum.” Lelaki itupun terdiam. Tiga puluh menit pun berlalu. Dalam keheningan malam, lelaki itu kembali berbisik, “Umar, sudah tidurkah engkau … ?”. Temannya kembali menjawab, “Belum, wahai saudaraku … “. Lantas keduanya kembali terdiam. Malam pun kembali senyap.

Setelah satu jam dalam keheningan, lelaki itu kembali berbisik, “Umar, engkau sudah tidur …?” Kali ini, temannya yang sesungguhnya belum tidur hanya terdiam. Tidak menjawab sepatah katapun. Lelaki itu pun mengira, bahwa sahabatnya telah tidur. Sejurus kemudian, ia pun bangkit dari peraduannya. Bersuci dan menghadap qiblat. Lantas, menghabiskan malam itu dengan isakan di hadapan Rabb-nya. Ia baru menyelesaikan qiyamul lail-nya malam itu, saat memperkirakan bahwa sahabatnya akan bangun.

Kisah ini diceritakan dengan penuh rasa haru oleh salah seorang tokoh pergerakan Islam abad ini, Umar at-Tilmisani, untuk menggambarkan perilaku sahabat sekaligus murabbi-nya yang sering menyembunyikan amal ibadahnya. Siapakah lelaki dalam kisah itu? Dialah Imam as-Syahiid Hasan al-Banna (Allahu yarham). Umar at-Tilmisani menceritakan kisah tersebut kepada Dr. Said Ramadhan al-Buthy, menantu sekaligus murid dari Imam Hasan al-Banna. Saya sendiri mengutip kisah ini dari tulisan Thariq Ramadhan, cucu Hasan Al-Banna, yang dimuat dalam kata pengantar buku al-Ma’tsurat terbitan Mizaania.

Saat membaca kisah ini, terkenanglah saya (penulis) akan perilaku ulama-ulama salaf (zaman dahulu) yang sering menyembunyikan amal sholihnya. Terkenanglah saya akan kisah Imam al-Mawardi seorang ulama sunnah yang terkenal, yang sampai akhir hidupnya tidak pernah mempublikasikan tulisan-tulisannya. Hingga ketika ia telah sakit keras dan merasa ajalnya telah dekat, ia memanggil seseorang yang dipercayainya, sambil berkata, “Buku-buku yang terdapat di tempat itu semuanya adalah karanganku. Jika kamu melihat tanda-tanda kematianku, dan aku sudah berada dalam sakaratul maut, maka masukkanlah tanganmu dalam genggaman tanganku. Jika tanganku menggenggam erat tanganmu dan meremasnya, itu tandanya karangan-karanganku tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Karena itu, segeralah ambil semua buku-buku itu dan buang semuanya ke sungai Dajlah pada malam hari. Tapi, jika tanganku membuka dan tidak menggenggam tanganmu, maka ketahuilah bahwa karangan-karanganku diterima oleh Allah azza wa jalla, dan aku akan memperoleh apa yang selama ini aku harapkan dari niat yang ikhlas.”

Orang kepercayaan Imam al-Mawardi itu pun bercerita, “Ketika kematian al-Mawardi telah dekat, saya letakkan tanganku di atas tangannya. Ternyata dia membentangkan telapak tangannya dan tidak meremas tanganku. Tahulah aku, bahwa itu pertanda karangan-karanganya telah diterima oleh Allah Ta’ala. Maka sepeninggalnya, aku perlihatkan buku-bukunya itu kepada orang-orang.”

Terkenanglah pula saya akan ungkapan Imam Syafi’i rahimahullah ta’ala, saat berkata kepada murid-muridnya, “Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu ini, tanpa sedikitpun menisbatkan ilmu ini kepada diriku. Agar aku memperoleh pahala darinya, dan mereka tidak menyanjungku.”

Mereka inilah para akhfiyaa. Orang-orang yang misterius. Orang-orang yang menyembunyikan amalnya. Orang-orang yang tidak suka dengan popularitas. Mereka adalah orang-orang yang berusaha menjaga dengan keras nilai keikhlasan dari setiap amal yang dilakukan. Tidak ada yang paling mereka takuti kecuali jika amal ibadahnya ditolak di hadapan Allah Ta’ala, karena dipenuhi virus popularitas, berupa riyaa (ingin diperhatikan) dan sum’ah (ingin dibicarakan) Kita akan dapati kisah-kisah mengenai mereka ini, saat membaca kisah ulama-ulama terdahulu (salaf). Dan sangat jarang kita dapati kisah-kisah seperti mereka pada tokoh-tokoh masa kini (khalaf). Wajarlah jika kemudian Allah Ta’ala memuji generasi yang lalu dengan ungkapan, “ulaaikal muqarrabuun.” (mereka itulah orang-orang yang dekat dengan Allah). Dan balasan mereka adalah jannah (syurga) yang termewah. (Bukalah al-Qur’an surat al-Waqi’ah ayat 10 -14).

Mereka (para akhfiyaa) inilah orang-orang yang berusaha menghayati sabda Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, “Sedikit saja riyaa adalah syirik. Barangsiapa yang memusuhi para kekasih Allah, berarti dia benar-benar menantang Allah untuk berperang. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan, bertaqwa, yang merahasiakan diri (al-akhfiyaa). Yaitu, mereka yang apabila tidak ada, tidak dicari. Dan bila adapun mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan lampu-lampu pemberi petunjuk (mercusuar). Mereka muncul dari setiap tempat berdebu yang gelap.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shagir, 24/45). Mereka juga adalah kaum yang berusaha untuk merenungkan firman Allah subhanahu wa ta’ala, dalam surat al-Baqarah ayat 271, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Demikian menakjubkannya, amal yang tersembunyi karena ikhlash kepada Allah Ta’ala, hingga Allah ‘azza wa jalla menjadikan pelakunya sebagai dua golongan dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak. Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang mendapat naungan Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam keta’atan kepada Allah ‘azza wa jalla, (3) orang yang hatinya senantiasa tertambat dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah, (5) laki-laki yang dirayu oleh wanita yang cantik dan berkedudukan, namun ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah,’ (6) orang yang bersedekah dengan merahasiakan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan (7) orang yang berdzikir kepada Allah di kala sendirian, lalu berlinanglah air matanya. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).

Karena itulah, Imam Abul Hasan ibn Basyar rahimahullah ta’ala saat ditanya oleh seorang muridnya, tentang cara mendekat kepada Allah ta’ala, jawabnya adalah, “Sebagaimana kamu bermaksiat kepada Allah dengan sembunyi-sembunyi, hendaklah kamu ta’at pula kepada-Nya dengan sembunyi-sembunyi juga, supaya Allah memasukkan ke dalam hatimu rahasia-rahasia kebaikan.”

Ikhwani al-ahibba’….Para pembaca yang budiman. Jika kita renungkan kisah-kisah dan keutamaan menyembunyikan amal yang terpapar di atas, tentu bergetarlah hati kita saat ini. Patutlah detik ini kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Sudahkah kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjaga keikhlasan amal-amal kita? Mampukah kita mengusir jauh-jauh keinginan untuk populer (riyaa’ & sum’ah) saat kita menjalankan keta’atan kepada Allah Ta’ala? Padahal masa ini adalah masa di mana popularitas menjadi sesuatu yang sangat diagung-agungkan oleh banyak orang. Semua orang berusaha untuk terkenal.

 

Memang, adakalanya suatu amal lebih berdampak kebaikan (maslahat) jika dilakukan secara terang-terangan. Namun pernahkah kita bertanya dengan jujur dalam hati kita masing-masing, berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi? Dan berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan secara terang-terangan? Apakah amal yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi lebih banyak daripada amal yang kita lakukan secara terang-terangan? Jika ternyata, amal ibadah kita yang terang-terangan lebih banyak kuantitas dan kualitasnya daripada amal ibadah kita yang sembunyi-sembunyi, maka percayalah bahwa virus riyaa, yang merupakan bentuk kemusyrikan kepada Allah, telah menyelusup ke dalam hati kita.

Ali Ibn Abi Thalib radhiyyaLlahu anhu berkata, “Orang yang riyaa itu memiliki beberapa ciri, (1) malas, jika seorang diri, (2) giat jika di tengah-tengah orang banyak, (3) bertambah semangat dalam beramal jika mendapatkan pujian, (4) berkurang frekwensi amalnya jika mendapatkan celaan.”

WaLlahu a’lam bish showwaab

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIYAH

KATEGORI

ARSIP

ONLINE

Counter Powered by  RedCounter
%d bloggers like this: