Iskud’s Blog

Archive for the ‘BANTAHAN’ Category

Islamedia – Baru-baru ini Majalah Tempo (Rabu, 11/2) menurunkan sebuah artikel perihal nabi palsu. Dibawah judul “Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah” Akhmad Sahal mengkritik umat Islam yang dinilainya telah keliru dalam menghadapi fenomena nabi palsu khususnya Ahmadiyah karena sangat bertentangan dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Mengutip al-Thabari dalam kitabnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk atau lebih dikenal dengan Tarikh al-Thabari, Sahal mengatakan bahwa nabi palsu zaman dulu yang paling diperhitungkan, yakni Musailamah bin Habib, tidak mendapat satu tindak kekerasan apapun dari Rasulullah Saw. Katanya, “Menerima surat dari Musailamah yang mengaku nabi, Rasul tidak lantas memaksanya menyatakan diri keluar dari Islam dan mendirikan agama baru, apalagi memeranginya. Padahal gampang saja kalau beliau mau, karena saat itu kekuatan kaum muslim di Madinah nyaris tak tertandingi”.

Adapun peristiwa peperangan melawan nabi palsu yang terjadi di era kekhalifahan Abu Bakar Shiddiq ra, ditafsirkan olehnya sebagai sebuah penumpasan separatisme daripada sebuah penyimpangan aqidah. Menurutnya, “Perang Abu Bakr melawan kemurtadan mesti dibaca sebagai sebuah tindakan yang lebih bersifat politis ketimbang teologis, yakni berhubungan dengan penumpasan terhadap kelompok pemberontak”. Itulah sebabnya, semata-mata murtad menurutnya tidak bisa menjadi alasan terjadinya kekerasan jika tidak diiringi ancaman disintegrasi atau pemberontakan. Tulisnya, “Karena saat itu kemurtadan identik dengan pemberontakan yang mengancam kedaulatan khalifah dan integrasi umat”.

Lebih jauh lagi, dengan nada sinkretis Sahal ingin memberikan pembelaan pada keyakinan Ahmadiyah dengan cara menolak segala macam intervensi hukum di dunia, menurutnya “…karena Tuhanlah yang akan menjadi hakim atas perbuatannya di akhirat nanti”. Bahkan, secara halus Sahal hendak memberikan hak kebenaran pada Ahmadiyah dengan cara mengkritik kalangan Islam yang meyakini murtadnya sekte ini. Dengan bernada gugatan pada kalangan Islam tersebut dia menulis, “Jemaah Ahmadiyah dianggap telah murtad karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, dan karena itu mesti dikeluarkan secara paksa dari Islam”.

Diatas argumen ini, penulis tersebut membangun kritikan terhadap pemerintah, ulama dan ormas Islam. Khusus pada ulama dan umat Islam, dia mengatakan—tidak seperti dirinya—mereka semua memiliki pemahaman yang rendah terhadap agama. Dia berujar bahwa tindakan yang dilakukan terhadap Ahmadiyah selama ini adalah, “tanpa disertai pemahaman yang mumpuni terhadap duduk perkaranya”. MUI dan pemerintah telah gegabah dalam menyikapi Ahmadiyah karena telah menciderai prinsip demokrasi, HAM dan konstitusi. Meskipun sebenarnya tidak pernah melakukan kekerasan terhadap Ahmadiyah, namun MUI pun tak luput dianggap bagian dari kelompok pelaku kekerasan karena telah melakukan “pendekatan “perang melawan kemurtadan” secara gegabah”.

Walhasil, secara keseluruhan tulisan ini mengarah kepada apa yang selama ini dituju oleh para pembela nabi palsu dan aliran sesat yaitu, pertama, delegitimasi terhadap MUI, ormas Islam dan lembaga atau kalangan Islam lain yang terlibat dalam perkara pembendungan aliran sesat. Kedua, pembelaan terhadap hak kebebebasan beragama termasuk hak untuk menyimpang dari ajaran pokok Islam. Ketiga, penolakan terhadap segala intervensi negara baik secara hukum apalagi politis dalam penyimpangan aliran-aliran tersebut.

Tulisan ini, dengan demikian, telah menampilkan apa yang selama ini diulang-ulang oleh kalangan pembela aliran sesat. Bukan hanya dari segi kesimpulan dan hasil yang hendak dituju, secara metode dan kerangka berfikirnya pun juga sama. Aroma liberalisme sinkretis tulisan ini pun tercium jelas. Sama seperti para pendahulunya, meski tulisan ini dibungkus dengan retorika ilmiyah yang rapi, namun fakta manipulasi dan distorsinya tak dapat disembunyikan.
Kekeliruan fatal pertama tulisan ini akan mudah tertangkap manakala kita merujuk pada Tarikh al-Thabari tentang peristiwa nabi palsu Musailimah (bukan Musailamah). Kesimpulan Sahal bahwa Rasul Saw tidak memerangi nabi palsu dizamannya, adalah sebuah klaim yang bertentangan dengan laporan kitab tersebut.

Pertama, saat menerima utusan Musailimah yang membawa surat berisi deklarasi kenabiannya, Rasul Saw langsung bereaksi tegas dengan mengatakan, “Kalau saja para utusan boleh dibunuh, tentu akan aku potong leher kalian berdua”. Ungkapan “aku potong leher kalian berdua” merupakah terjemah harfiyah dari bunyi arabnya yaitu, “laqatha’tu a’naaqakuma”. Riwayat ini memberikan fakta bahwa Nabi bersikap tegas untuk menghukum mati pelaku aliran sesat. Namun, karena Rasul Saw menjunjung tinggi hak jaminan keamanan bagi para utusan, hukuman tersebut tidak beliau lakukan. Disitu tergambar jelas reaksi Nabi Saw. Tatakrama dan etika diplomasi yang beliau pegang, tidak menghalangi untuk menyatakan kebenaran bahwa nabi palsu serta pengikutnya wajib dihukum mati. Sayang sekali, Sahal meninggalkan potongan riwayat ini.

Kedua, riwayat al-Thabari ini juga memberikan kesimpulan bahwa yang menghalangi kedua pengikut nabi palsu itu untuk dihukum mati bukan karena kebebasan beragama (seperti yang dikatakan Sahal) tapi karena jabatan keduanya sebagai utusan. Artinya, jika mereka tidak jadi utusan mereka sudah pasti dihukum karena nabi tidak pernah mengatakan, “Kalau saja tidak ada kebebasan beragama, tentu aku akan potong leher kalian berdua”.
Dalam riwayat lain akhirnya ucapan Nabi ini terbukti. Salah satu dari dua utusan Musailimah tersebut akhirnya benar-benar dihukum mati. Nama utusan tersebut Ibnu Nuwahah. Abu Daud (hadits no. 2381), Al Nasa’i (Al Sunan Al Kubra, 2: 205) dan Al Darimi (Kitab Al Siyar, hadits no. 2391) menceritakan Ibnu Nuwahah ini masih setia menjadi pengikut Musailimah dan menyebarkan ajarannya. Ia akhirnya ditangkap dan dihukum mati oleh Ibnu Mas’ud yang saat itu menjadi hakim di era Umar bin Khattab ra. Sebelum dijatuhi hukuman mati, Ibnu Mas’ud menjelaskan alasannya. Ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw dulu bersabda “Kalau engkau bukan utusan, pasti aku akan penggal kamu”, nah, sekarang ini engkau tidak berstatus sebagai utusan”. Maka Ibn Mas’ud menyuruh petugas untuk melaksanakan hukuman mati terhadap Ibn Nuwahah. Ibn Mas’ud mengumumkan, “Siapa yang ingin melihat hukuman Ibn Nuwahah saksikan ia di pasar!”. Eksekusi itu akhirnya terjadi didepan khalayak ramai.

Ketiga, Sahal memang benar, bahwa Nabi Saw memang tidak pernah memberangkatkan pasukan dari Madinah untuk memerangi nabi palsu. Namun, hal itu disebabkan kemunculan nabi palsu disaat Rasul Saw tengah sakit keras yang berakhir dengan kewafatan beliau serta tidak tersisa pasukan yang cukup untuk diberangkatkan. Klaim Sahal bahwa di Madinah tersedia kekuatan besar utuk berperang tidak sesuai dengan fakta yang ditulis oleh al-Thabari sendiri. Laporana Ibnu Abbas membantah anggapan Sahal tersebut. Ibnu Abbas menyaksikan bahwa, “Rasulullah Saw telah mengirimkan pasukan Usamah bin Zaid menuju Syam dan beliau dalam keadaan sakit sehingga tidak sanggup mengultimatum Musailamah dan Al Aswad untuk bertaubat atau mengirimkan pasukan untuk memerangi mereka” (al-Thabari, jilid 3, hal. 186). Berangkatnya pasukan Usamah dalam jumlah besar serta sakit keras yang mendera menghalangi Rasul Saw menjalankan ekspedisi militer untuk memberangus nabi palsu. Maklum, nabi-nabi palsu itu menunggu waktu yang tepat untuk mendeklarasikan kenabiannya yaitu setelah beliau mengalami sakit keras sepulang haji penghabisan (haji wada).
Namun begitu, berbeda dengan perkataan Sahal, tekad Rasul Saw untuk memerangi nabi palsu tidak padam. Beliau akhirnya menulis surat kepada semua gubernurnya agar melakukan langkah sekuat mungkin untuk memerangi nabi palsu. Hal ini dicatat oleh al-Thabari sendiri melalui laporan shahabat nabi, Urwah bin Zubeir ra: “Rasul Saw memerangi para nabi palsu melalui misi diplomatik untuk seluruh gubernurnya” (jilid 3, hlm. 187). Perintah Rasul melalui para diplomatnya ini menyebabkan terbunuhnya nabi palsu Yaman bernama al-Aswad al-Ansi ditangan salah satu shahabat setianya, Fairuz al-Dilami ra. Menurut al-Thabari dalam riwayat tersebut, kabar kematian nabi palsu Yaman sampai pada Rasul Saw satu malam sebelum wafatnya beliau.

Sejarawan Ibnu Khaldun menguatkan, “Sepulangnya Nabi Saw dari Haji Wada’, beliau kemudian jatuh sakit. Tersebarlah berita tersebut sehingga muncullah Al Aswad Al Ansi di Yaman, Musailamah di Yamamah dan Thulaihah ibn al-Khuwailid dari Bani Asad; mereka semua mengaku nabi. Rasulullah Saw segera memerintahkan untuk memerangi mereka melalui edaran surat dan utusan-utusan kepada para gubernurnya di daerah-daerah dengan bantuan orang-orang yang masih setia dalam keislamannya. Rasulullah Saw menyuruh mereka semua bersungguh-sungguh dalam jihad memerangi para nabi palsu itu sehingga al-Aswad dapat ditangkap sebelum beliau wafat. Adapun sakit keras yang dialami tidak menyurutkan Rasulullah Saw untuk menyampaikan perintah Allah dalam menjaga agama-Nya. Beliau menyerukan orang-orang Islam di penjuru Arab yang dekat dengan wilayah para pendusta itu, menyuruh mereka untuk melakukan jihad (melawan kelompok murtad—pen)”.( Abdurrahman Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Beirut: Dar Al Kutub Al Ilmiyah, 1992 cet. 1 Jilid 1, hal 474-475.).

Berikutnya, anggapan Akhmad Sahal bahwa Abu Bakar hanya mengirimkan pasukan karena kasus nabi palsu telah berkembang menjadi ancaman disintegrasi juga tidak benar. Karena, jika melihat kepada surat yang ditulis Abu Bakar untuk seluruh nabi palsu saat itu, beliau menyatakan perang dengan alasan bukan pemberontakan tapi karena kemurtadan. Lebih jelasnya, al-Thabari mencatat bunyi surat Abu Bakar sebagai berikut:
“Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ini adalah pesan dari Abu Bakar khalifah Rasulullah Saw kepada orang yang diutusnya memimpin pasukan memerangi mereka yang keluar dari Islam. Telah sampai kepadaku berita mengenai keluarnya orang-orang diantara kalian dari agamanya setelah tadinya mengakui Islam dan mengamalkannya disebabkan lalai dari Allah, alpa dari perintah-Nya dan memenuhi seruan syaithan. Dan (karena itu) aku telah mengirimkan untuk kalian panglima perang dengan pasukan yang terdiri dari Muhajirin, Anshar serta orang-orang tabi’in. Aku telah memerintahkan pemimpin pasukan ini supaya tidak memerangi atau membunuh siapapun sebelum ia mengajak kepada ajakan penyeru Allah. Siapa yang memenuhi seruannya, mengakui (Islam), menyerah dan beramal shaleh, dia akan diampuni dan akan diberi perlindungan Tidak akan diterima alasan apapun selain Islam. Maka barangsiapa yang mengikuti Islam, itu adalah kebaikan bagi dirinya. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia tidak akan bisa melawan kekuatan Allah.” (jiid 3, hlm. 250).

Surat diplomatik Khalifah Abu Bakar ra ini berbunyi jelas, ketika menggambarkan alasan perang yang ia lakukan adalah: “…keluarnya orang-orang diantara kalian dari agamanya setelah tadinya mengakui Islam dan mengamalkannya”. Jadi alasannya adalah: “keluar dari agama” atau murtad. Jelas sekali dalam surat tersebut bahwa kemurtadan inilah yang membuat Abu Bakar ra memutuskan untuk. “mengirimkan untuk kalian panglima perang dengan pasukan yang terdiri dari Muhajirin, Anshar serta orang-orang tabi’in”. Demikian pula tugas yang diemban oleh komandan ekspedisi militer ini sangat tegas yaitu, “memimpin pasukan memerangi mereka yang keluar dari Islam”. Perintah diplomatik itu tidak menyebut sama sekali alasan disintegrasi, pemberontakan atau separatisme. Abu Bakar ra tidak membicarakan tentang masalah isu keamanan negara dan sejenisnya. Beliau hanya menyebutkan alasan utama perang adalah memberantas kemurtadan nabi palsu.

Ini belum ditambah dengan berbagai riwayat yang bertebaran dalam Tarikh al-Thabari tentang kesepakatan seluruh shahabat senior untuk memberantas nabi palsu dengan alasan murtad. Demikian seriusnya Abu Bakar ra dan para shahabat, sampai menurut hitungan Dr Hamidullah dalam penelitiannya sebagaimana yang beliau catat dalam kitab al-Watsaiq al-Siyasiyah fi ‘Ahdi al-Rasul wa al-Khilafah al-Rasyidah (Dokumen-dokumen politik era Rasul dan Khalifah Rasyidin), ekspedisi militer untuk menumbangkan kaum murtad ini berjumlah 11 pasukan.

Dengan fakta-fakta sederhana tersebut, jelas runtuhlah seluruh argumen dasar yang dibuat oleh Akhmad Sahal, penulis ini diikuti dengan seluruh analisa yang dibangun diatasnya. Maka, dengan sendirinya semua kritikan yang ia buat untuk mendiskreditkan langkah umat Islam selama ini dalam kasus nabi palsupun tidak bisa dipertahankan lagi.

Namun, perlu dicatat hal-hal yang perlu disayangkan dari penulis tersebut. Dengan meletakkan titel “Kandidat PhD dari Universitas Pennsylvania” dibelakang namanya, seharusnya Sahal memberikan jaminan bahwa bobot ilmiah tulisan ini begitu tinggi. Tanggung jawab ilmiyah ini cukup berangkat dari hal-hal yang sederhana seperti kejujuran dalam mengutip dan menyampaikan fakta dari buku. Sayang sekali, harapan itu tak tercapai manakala secara tidak jujur dan tidak terhormat, sang “kandidat PhD” tersebut memotong riwayat yang ia nukil dari Tarikh al-Rusul wa al-Muluk secara gegabah bahkan distorsif. Ia memutus isi riwayat hanya sampai teks yang sesuai dengan pendapatnya pribadi kemudian membangun argumen diatasnya. Secara tidak fair, ia enggan menyampaikan teks riwayat tersebut secara lengkap karena akan berlawanan dengan selera opininya yang ingin membela nabi palsu.

Dalam kasus nabi palsu di zaman Abu Bakar ra, Sahal yang kandidat PhD ini kembali melakukan distorsi. Dia mengabaikan berbagai fakta keseriusan Abu Bakar ra memberantas nabi palsu dengan alasan kemurtadan. Sebagai gantinya, isu disintegrasi dipilihnya. Dengan dasar manipulatif seperti ini, dia mengkritik tajam bahwa langkah umat Islam, MUI dan negara untuk menyelesaikan masalah nabi palsu tidak punya referensi dalam sejarah Islam. Lebih berani lagi, penulis ini menggunakan data sejarah tak otentik ini untuk disesuaikan dengan rumusan fiqih, “hukum berporos pada alasan” atau “al hukmu yaduru ma’a al-‘illah”. Mengkritik, dengan cara memanipulasi. Membangun argumen diatas dasar yang sengaja dikelirukan.

Faktanya, di Indonesia saat ini seluruh aliran sesat yang termasuk didalamnya kelompok nabi palsu telah kehilangan legitimasi dari segala arah. Baik dari segi konstitusi (ada SKB 3 menteri, ada pasal penodaan agama), penerimaan sosial apalagi argumen teologis, semuanya membantah dan menolak keberadaan nabi palsu. Sikap para pembela nabi palsu dan aliran sesat (kaum LSM, aktifis liberal dan seterusnya) yang gigih membela setiap kasus penodaan agama selalu dapat dipatahkan oleh kesadaran umat Islam di negeri ini.

Walhasil, usaha-usaha menghalalkan segala cara (termasuk memanipulasi dan mendistorsi sejarah) seperti yang dilakukan oleh Akhmad Sahal kandidat PhD dari Pennsylvania ini, akan berakhir sia-sia. Malah, semakin mempertajam bukti bagaimana untuk membela kesesatan, kaum akademik bertaraf tinggi melalui media seperti Tempo yang juga konsisten membela setiap tindak penodaan agama, ternyata tidak malu dan segan untuk berdusta kepada masyarakat Islam di negaranya sendiri.

Ahmad Rofiqi
Alumni Pasca Sarjana Ibnu Khaldun, Jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam

Advertisements

Setelah menerima penolakan mentah dari kaum cerdas muslim terhadap proyek yang lama bernama “Fikih Lintas Agama”, kini telah muncul proyek baru yang dirilis oleh kolaborasi baru namun masih mengusung lagu lama dengan judul “Metodologi Studi Al-Qur’an”.

Mungkin dahulu konsep Fikih Lintas Agama tidak banyak disambut oleh masyarakat karena tidak ilmiah dan terlalu kelihatan mengada-ada. Bagaimana mungkin terwujud sebuah “lintasan” fikih antar agama sedangkan “fikih” itu sendiri tidak terdapat kecuali dalam agama Islam?

Sungguh sebuah konsep yang sangat menggelikan namun susah untuk mengundang tawa. Oleh karenanya, mereka lalu menciptakan arasemen yang lebih kalem dengan judul yang lebih renyah sehingga diharapkan banyak orang yang welcome menerimanya. Hingga demikian, lahirlah buku “Metodologi Studi Al-Qur’an” tersebut.

Jika ditilik, tak banyak hal baru dalam buku ini. Secara garis besar masih mengangkat isu lama yang hanya ditambah sedikit polesan di sana-sini, seperti upaya desakralisasi Al-Qur’an dan penyamaannya dengan teks-teks lain, upaya penafsiran ayat muhkamat dengan “suka-suka gue”, dan juga upaya pemelintiran pendapat ulama dengan mencomot kosa-kata luarnya lalu meninggalkan kandungan maknanya. Semuanya hanya metode tempoe doeloe yang telah expired.

Buku yang ditulis oleh tiga personel JOL –Jaringan Orang Liberal– ini sebagaimana dinilai salah seorang aktivis mereka, Jadul Maula (bukan singkatan dari “jaman dulu”); layaknya sebuah novel silat dengan Tiga “Pendekar” yang menggunakan jurus-jurus untuk menaklukkan para pemuja teks.

Jadul juga secara terang-terangan menyebutkan nama sebuah gerakan di Indonesia yang berjuang menegakkan khilafah lalu menempatkannya sebagai tokoh antagonis yang harus dilawan. Tapi penulis pribadi lebih tertarik jika menamakan mereka bertiga dengan “Trio Kwek-Kwek”, selain lebih enak didengar, mungkin nama ini lebih cocok ketimbang “Pendekar”.

Lebih cocok karena dilihat dari argumen mereka yang tidak inovatif, hanya bisa membebek kepada segelintir orientalis dalam upaya meruntuhkan pondasi Islam. Sebagaimana tema yang di angkat oleh Luthfi –salah satu penulis buku ini– tentang pengkritisan terhadap sakralitas Al-Qur’an.

Sebenarnya ada apa dengan Al-Qur’an hingga harus dikritisi segala? Apakah kita tidak percaya dengan ayat; “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa [4]: 82).

Lalu permasalahan di atas dilanjutkan oleh Ulil –penulis kedua buku ini– saat membahas tentang “insiden gramatikal” dalam Al-Qur’an yang menurutnya menyalahi kaidah dasar Bahasa Arab. Seperti dalam surat Al-Maidah ayat 69 yang berbunyi “inna al-ladzina amanu wa al-ladzina hadu wa al-shabi’una”. Dalam pandangannya kata “wa al-shabi’una” telah menyalahi kaidah bahasa Arab yang seharusnya dibaca “wa al-shabi’ina” (bukan wa al-shabi’una).

Lagi-lagi penulis kedua ini juga tak lebih dari sekedar ber”kwek-kwek” dengan mengangkat isu kadaluwarsa dalam mengkritisi “sakralitas” Al-Qur’an. Tema di atas sebenarnya telah lama dibahas oleh para pakar bahasa, sebagaimana diterangkan oleh Prof. Dr Abdul Adzim al-Math’aniy dalam kitab “Haqaihu’l Islam fi Muwajahati’l Syubhat al-Musyakkikin” (Kebenaran Ajaran Islam dalam Menghadapi Argumen Kaum Skeptis), ia mengatakan bahwa terdapat setidaknya sembilan pendapat pakar Nahwu dan ahli Tafsir dalam menjelaskan kata “al-shabi’una” tersebut sehingga dibaca rafa’ (al-shabi’una) dan bukan manshub (al-shabi’ina).

Di antara sembilan pendapat tersebut adalah statement mayoritas pakar Nahwu di Bashrah –seperti Imam Sibawaih dan al-Khalil beserta para pengikut mereka– yang menjelaskan bahwa kata “al-shabi’una” berada dalam posisi mubtada’ dengan khabar-nya yang mahdzuf (tersembunyi) dan bukan dalam posisi manshub.

Mereka (para pakar Nahwu di Bashrah) kemudian memaparkan secara detail disertai argumen ilmiah berupa bukti kongkrit bahwa penerapan kaidah seperti itu tidaklah menyalahi gramatikal bahasa Arab karena bangsa Arab sejak dahulu telah mengenalnya dan bahkan menggunakannya dalam syair-syair mereka.

Ayat di atas adalah satu dari beberapa ayat yang mereka anggap tidak sesuai dengan lingustik bangsa Arab. Naifnya, mereka menyatakan itu semua sebagai sebuah kajian murni dari kitab “al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an” milik Imam Jalaluddin al-Suyuthi.

Padahal jika kita telaah kitab tersebut, Imam Suyuthi sama sekali tidak pernah mengatakan ini sebagai bentuk kontradiksi ayat Al-Qur’an, ia juga tidak menyatakan adanya “kecelakaan” dalam tata-bahasa Al-Qur’an. Yang artinya, Al-Qur’an adalah mukjizat sempurna tanpa kesalahan. Sebagaimana ia tegaskan sendiri dalam mukaddimah kitab tersebut; “…kitab paling berharga, paling banyak mengandung ilmu, paling indah tata-bahasanya, yaitu Al-Qur’an yang berbahasa Arab tanpa cela, (Al-Qur’an) bukanlah makhluk dan tiada yang menandinginya…”

Namun Ulil tak hanya berhenti dengan memfitnah Imam Suyuthi, ia bahkan menyatakan saat membedah buku ini di Teater Utan Kayu; bahwa studi Al-Qur’an yang dikembangkan oleh ulama kontemporer seperti Wahbah Zuhaily, Abdul Wahhab Khallaf dan Yusuf al-Qaradhawi dinilai kurang bahkan tidak berkembang sama sekali. Ia lalu menambahkan bahwa Studi ilmiah Al-Qur’an yang cukup menantang justru datang dari para orientalis.

Seperti Theodor Noldeke yang menawarkan penyusunan ulang kronologi surat-surat Al-Qur’an yang berbeda sama sekali dengan kronologi dalam mushaf kita sekarang.
Dari sini kelihatan jelas bahwa Ulil telah kehilangan daya kritisnya sampai titik nadir. Ia sampai gagap melihat para orientalis tersebut mengobok-obok Al-Qur’an yang dalam kaca-matanya mereka jauh lebih tinggi daripada Ulama sekelas al-Qaradhawi.

Di sisi lain Ulil terkesan pura-pura lupa. Jika benar ia telah mengkaji “al-Itqan” milik Imam Suyuthi dengan seksama tentu ia akan membaca pendapat Imam Suyuthi yang menyatakan bahwa penempatan Ayat dan Surat dalam Al-Qur’an merupakan hal tauqify yang tak bisa diotak-atik karena penyusunan tersebut berdasarkan wahyu dari Allah. Jadi sebenarnya Ulil hanya melakukan permainan “cover both sides” dengan melompat kesana-kemari sesuai kondisi psikologinya, tidak memiliki kosistensi yang teguh untuk berada dalam sebuah keyakinan pasti.

Di akhir buku ini tampillah Moqsith sebagai personel terakhir dengan menawarkan rumusan kaidah tafsir ala JOL (istilah baru pengganti “JIL”). Dalam acara diskusi membedah buku ini di UIN Sunan Kalijaga 21 Desember 2009 silam, Moqsith juga menjelaskan bahwa Maqashid al-Syariah (tujuan utama syariat) tidak bisa dijumpai dalam lipatan-lipatan huruf dalam Al-Qur’an. Ia lalu memberikan contoh penafsiran terhadap tonggak utama Maqashid al-Syariah yaitu Hifdz al-Din (menjaga agama) dan menafsirkannya dengan “kebebasan beragama”. Tentu pendapat ini merupakan interpretasi baru yang menyalahi kaidah dasar Maqashid al-Syariah sebagaimana telah disepakati oleh seluruh ulama’ otoritatif sepanjang masa.

Dan jika kita rujuk kepada pendapat bapak Maqashid al-Syariah itu sendiri, yaitu Imam Syatibi dalam kitabnya “al-Muwafaqat”, maka akan kita temui bahwa Hifdzu al-Din merupakan upaya menjaga kelanggengan agama Islam sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan terperinci dalam as-Sunnah. Imam Syatibi juga memberi contoh bahwa Hifdzu al-Din dapat diaplikasikan dalam bentuk mengikrarkan dua Syahadat, Shalat lima waktu, Zakat, Puasa, Haji dan seterusnya.

Hal di atas merupakan Hifdzu al-Din dalam tataran mempertahankan apa-apa yang telah mapan dalam agama (defensif), tapi dalam tataran menjaga kelanggengan Islam dari serangan luar (ofensif) Imam Syatibi juga menjelaskan bahwa Hifdzu al-Din dalam konteks ini dapat terwujud dalam bentuk Jihad melawan musuh yang telah memerangi Islam maupun memberikan sangsi kepada penyeru bid’ah. Dengan demikian “kebebasan beragama” ala Moqsith adalah penafsiran yang tak lebih dari sebuah “kwek-kwek” semata.

Selain itu, Moqsith juga menyatakan bahwa formalisasi syariat di Indonesia berdampak sangat berbahaya, ia lalu memberikan contoh bahwa Perda di Aceh memutuskan pezina muhshan (orang yang pernah menikah) dirajam, sementara pelaku perkosaan hanya dihukum 100 kali cambuk. “Tentu saja ini tidak fair”, katanya. Di sini Moqshit pura-pura tidak tahu bahwa sesungguhnya pelaku perkosaan yang muhshan juga mendapat hukuman rajam.

Justru sebenarnya Moqsith yang tidak fair dan tidak proporsional dalam memahami kasus rajam. Karena sesungguhnya seluruh hukuman yang disyariatkan Allah di dunia termasuk rajam merupakan kafarat (penghapus dosa) bagi pelakunya, sebagaimana dikatakan Rasulullah setelah merajam Ma’iz bin Malik al-Aslamiy –salah seorang sahabat yang muhshan namun masih melakukan zina– bahwa; “Aku melihat Ma’iz kini tengah berendam di sungai-sungai Surga”. Artinya, “siksaan” yang harus diterima oleh Ma’iz di akhirat telah ia bayar di dunia dengan rajam yang jauh lebih ringan. Beginilah keadilan dalam Islam itu, namun hal ini tentu akan susah dipahami oleh orang yang tidak percaya akan ahkirat.

Sebenarnya, “Trio Kwek-Kwek” bukanlah kolaborasi pertama yang datang untuk mengiris-iris Al-Qur’an, dan mungkin mereka juga bukan komplotan terakhir yang akan menyelesaikan misi ini. Walaupun ditulis dengan judul “Metodologi Studi Al-Qur’an” namun sesungguhnya buku yang dibedah dan diluncurkan pada 30 November 2009 di Teater Utan Kayu tersebut sangat jauh dari semangat melestarikan Al-Qur’an.

Dengan demikian, butuh kacamata kritis dalam membaca buku hasil kerjasama JOL (Jaringan Orang Liberal) dengan GPU (Gramedia Pustaka Utama) ini. Hingga kita terhindar dari jebakan dalam kata-kata mereka yang terkesan “ilmiah” namun sejatinya hanyalah suara gaung tak bermutu. “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras”. (QS. Al-Baqarah [2]: 204). Wallahu a’lam Bi-s-Shawab.

MS. Yusuf al-Amien
Mahasiswa Jurusan Ushul Fiqh Universitas Al-Azhar Cairo

eramuslim.com

Bismillah…

Pada tanggal 26 April 2010 kemarin saya membaca tulisan Syamsul Balda, Direktur Eksekutif Smart Leadership Institute pada rubric analisa yang berjudul kan “Islam dan Demokrasi” di situs eramuslim.com.

Pada kesempatan ini saya mencoba untuk menanggapi tulisan tersebut dengan maksud meluruskan beberapa hal yang jujur saya lihat penulis terkesan memaksakan beberapa hal untuk membenarkan pendapatnya seputar demokrasi agar sejalan dengan Islam, padahal faktanya Demokrasi adalah sebuah ide yang bertolak belakang dengan Islam baik dari segi lahirnya maupun ide secara keseluruhan.

Untuk menjawab beberapa pernyataan oleh penulis, maka saya akan mencoba menguraikan apa yang telah beliau tulis dan kemudian akan saya tanggapi dengan hujjah yang ada.

Pertama, pada tulisan tersebut beliau menjelaskan substantif dari ide atau faham demokrasi, yakni dengan mengatakan

”Terlepas dari definisi akademis tentang demokrasi, pada hakikatnya demokrasi dalam aspek politik adalah dihormatinya hak setiap individu dalam sebuah bangsa untuk memilih pemimpin sesuai dengan aspirasinya. Tidak boleh ada yang memaksakan kehendak kepada mereka untuk memilih seorang pemimpin tertentu yang tidak dikehendaki.

Ketentuan ini pada dasarnya sesuai dengan ajaran yang digariskan oleh Islam melalui perangkat syura (permusyawaratan) dan bai’at (kontrak politik yang mengikat rakyat untuk berkomitmen tunduk dan taat pada pemimpin yang dipilihnya.

Kesesuaian antara Islam dengan demokrasi juga terlihat ketika Islam mengutuk dan mengecam para diktator; sementara di sisi lain mengedepankan pemimpin yang kuat, amanah, kredibel, kapabel serta mampu mengayomi rakyatnya. Islam memerintahkan umatnya untuk mematuhi keputusan mayoritas.”

Komentar : penjelasan di atas bukanlah ide substantif dari faham yang bernama demokrasi, kalo menggunakan penjelasan di atas, jelas sekali telah menyalahi arti dari demokrasi itu secara utuh, baik secara ide maupun aplikasinya. Terlebih lagi penulis mengutip kata syura’ dan bai’at dalam mendukung kesimpulannya.

Dalam membahas demokrasi, maka kita harus membelah faham tersebut secara utuh, seridaknya ada 5 hal yang harus di kaji atau di urai dalam faham demokrasi, yakni

  1. Asal-usul demokrasi,
  2. Aqidah demokrasi,
  3. Ide dasar demokrasi,
  4. Standar demokrasi (yaitu mayoritas), dan
  5. Kebebasan dalam demokrasi, sebagai prasyarat agar rakyat dapat mengekspresikan kehendak dan kedaulatannya tanpa paksaan dan tekanan.

Berdasarkan kelima aspek ini, penjelasan ringkas tentang demokrasi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

Terkait asal ushul demokrasi maka kita akan menemukan bahwa demokrasi adalah buatan akal manusia, bukan berasal dari Allah SWT. Demokrasi adalah ide yang muncul dari akal manusia yang lemah, serba kurang dan serba terbatas.

Dari segi aqidah, demokrasi lahir dari aqidah pemisahan agama dari kehidupan, yang selanjutnya melahirkan pemisahan agama dari negara. Sebuah aqidah yang mengambil jalan tengah ketika terjadi konflik antara kaum gerejawan dan kaum bangsawan, kaum bangsawan menolak hak gereja secara absoulut yang ikut campur dalam urusan pemerintahan, akhirnya diambilah jalan tengah yakni yang terkenal dengan kalimat, ”berikanlah hak kaisar untuk kaisar (bangsawan) dan hak tuhan untuk tuhan (kaum gerejawan), maka lahirlah faham sekulerisme.

Dari segi ide, demokrasi berlandaskan dua ide :

  1. Kedaulatan di tangan rakyat.
  2. Rakyat sebagai sumber kekuasaan.

Ini jelas bertentangan dengan Islam, dalam Islam memang kekuasaan berada di tangan umat/rakyat, yang mana nanti dengan kekuasaan itu umat memilih seorang khalifah untuk mengatur umat itu sendiri, sedangkan perkara kedaulatan bukanlah ditangan umat/rakyat, melainkan berada ditangan Allah sang khalik yang memilki otoritas tunggal dalam rangka membuat hukum-hukum. Intinya kedaulatan di dalam Islam berada pada syara’.

Islam menetapkan bahwa kekuasaan itu ada di tangan umat Islam. Artinya, bahwa umat memiliki hak memilih penguasa, agar penguasa itu dapat menegakkan pelaksanaan perintah dan larangan Allah atas umat.

Prinsip ini diambil dari hadits-hadits mengenai bai’at, yang menetapkan adanya hak mengangkat Khalifah di tangan kaum muslimin dengan jalan bai’at untuk mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Rasulullah saw bersabda :

مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa mati sedang di lehernya tak ada bai’at (kepada Khalifah) maka dia mati jahiliyah.” (HR. Muslim)

Islam menyatakan bahwa kedaulatan adalah di tangan syara’, bukan di tangan umat. Sebab, Allah SWT sajalah yang layak bertindak sebagai Musyarri’ (pembuat hukum). Umat secara keseluruhan tidak berhak membuat hukum, walau pun hanya satu hukum. Allah SWT berfirman :

إِنِ الحُكْمُ إلاّ للهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS. Al An’aam: 57)

Demokrasi adalah sistem pemerintahan mayoritas. Pemilihan penguasa dan anggota dewan perwakilan, serta pengambilan keputusan dalam lembaga-lembaga tersebut diambil berdasarkan pendapat mayoritas. Ini adalah prinsip dasar demokrasi, yakni terletak pada suara mayoritas. Sedang dalam Islam, tidaklah demikian. Rinciannya adalah sebagai berikut :

  1. Untuk masalah yang berkaitan dengan hukum syara’, yang menjadi kriteria adalah kekuatan dalil, bukan mayoritas. Dalilnya adalah peristiwa pada Perjanjian Hudaibiyah.
  2. Untuk masalah yang menyangkut keahlian, kriterianya adalah ketepatan atau kebenarannya, bukan suara mayoritas. Peristiwa pada perang Badar merupakan dalil untuk ini.
  3. Sedang untuk masalah teknis yang langsung berhubungan dengan amal (tidak memerlukan keahlian), kriterianya adalah suara mayoritas. Peristiwa pada Perang Uhud menjadi dalilnya.

Dalam demokrasi, ada empat macam kebebasan, yaitu :

  1. Kebebasan beragama (freedom of religion)
  2. Kebebasan berpendapat (fredom of speech)
  3. Kebebasan kepemilikan (freedom of ownership)
  4. Kebebasan bertingkah laku (personal freedom).

Ini bertentangan dengan Islam, sebab dalam Islam seorang muslim wajib terikat dengan hukum syara’ dalam segala perbuatannya. Tidak bisa bebas dan seenaknya. Terikat dengan hukum syara’ bagi seorang muslim adalah wajib dan sekaligus merupakan pertanda adanya iman padanya. Allah SWT berfirman :

فَلاَ وَ رَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An Nisaa’: 65)

Inilah penjelasan secara kaffah terkait ide atau faham demokrasi yang benar-benar merujuk pada fakta dan kemudian fakta tersebut dihukumi dengan dalil-dalil yang terkait, sebagaimana proses tahqiqul manath dalam hal menghukumi sebuah fakta.

Kemudian, penulis kemudian menyatakan : ”Rakyat juga mempunyai kewajiban untuk taat kepada penguasa selama kebijakan yang diambilnya adalah kebaikan. Sebaliknya, rakyat berhak menolak ketika diperintah untuk melakukan perbuatan yang dilarang menurut kesepakatan kaum Muslimin dan atau melakukan kemaksiatan yang nyata. Karena, tidak boleh menaati siapa pun untuk melakukan maksiat kepada Allah. Hal seperti ini juga berlaku dalam sistem demokrasi.”

Komentar : memang benar bahwa tidak ada ketaatan kepada perkara maksiat yang diperintahkan oleh penguasa, namun benarkah didalam demokrasi pun sama? Jelas tidak. Misalnya, dalam demokrasi kita bisa mengambil contoh pemerintah yang menyuruh membayar pajak, bahkan termasuk perkara wajib, bukankah di dalam Islam pajak merupakan sesuatu yang diharmkan di dalam Islam, kecuali jika dalam hal kas negara dalam hal ini baitul mal mengalami definisit anggaran maka negara boleh mengambil pajak dari rakyat, kalau tidak terjadi demikian maka hukumnya haram.

“Sesungguhnya pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka” [HR Ahmad 4/109, Abu Dawud kitab Al-Imarah :

Artinya dengan mengambil contoh tentang dharibah (pajak) kita bisa melihat bahwa ini sebuah bentuk kemaksiatan, pemerintah menyuruh rakyatnya untuk membayar pajak, sdengkan jelas sekali di dalam Islam adalah diharamkan, lantas dimanakah katanya bahwa di dalam demokrasi tidak ada ketaatan kepada maksiyat? Bukahkah di dalam hukum Indonesia akan dikenakan sanksi bagi orang yang tidak membayar pajak. Kita ambil contoh negeri kita, salah satu kewajiban bagi warga negara adalah membayar pajak. Sarana untuk mem-bayar pajak tersebut adalah NPWP Warga negara yang telah memiliki NPWP dinamakan Wajib Pajak (WP). Kewajiban utama WP adalah membayar pajak, atau bagi wajib pajak tertentu-juga bertindak sebagai pemotong pajak. Pajak menurut Pasal 1 UU No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan umum dan tata cara perpajakan adalah “kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Kemudian penulis menyatakan bahwa, ”Walau tetap memiliki beberapa kelemahan, sistem ini masih lebih baik dari sistem buatan manusia lainnya. Yang perlu diantisipasi adalah menjaga berjalannya sistem ini agar tidak dimanfaatkan oleh para penipu atau penjahat.”

Komentar : penulis sendiri menyadari bahwa ide demokrasi ini memiliki kelemahan, namun tetap mengatakan bahwa sistem tersebut lebih baik dari sistem yang lain yang juga dibuat oleh manusia. Pertanyaan saya, apakah tidak ada sistem alternatif lain lagi sehingga hanya melihat dan membandingkan dengan sistem yang juga dibuat oleh manusia yakni sistem sosialis komunis? Kenapa tidak melirik kepada sistem Islam? Kenapa tetap mencoba memaksakan pendapat seolah-olah sistem tersebut masih sesuai dengan Islam? Yang tidak difahami oleh penulis adalah tentang kata sistem itu sendiri, penulis mengatakan bahwa demokrasi selaras dengan Islam, namun tidak mengatakan bahwa demokrasi selaras dengan SISTEM ISLAM, ini menunjukan bahwa penulis sepertinya mencoba menhkerdillkan makna akan Islam itu sendiri. Padahal jelas sekali bahwa Islam itu adalah agama sekaligus sebagai sebuah ideologi (sistem aturan hidup). Islam adalah agama sempurna. Kesempurnaannya sebagai sebuah sistem hidup dan sistem hukum meliputi segala perkara yang dihadapi oleh umat manusia. Firman Allah Swt:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu..” (QS. An-Nahl [16]: 89)

Ini berarti, perkara apapun ada hukumnya, dan problematika apa saja, atau apapun tantangan yang dihadapi kaum Muslim, akan dapat dipecahkan dan dijawab oleh Dinul Islam.

Ada 3 pendapat yang penulis angkat terkait pendapat beberapa kalangan mengenai demokrasi, yang pertama yakni :

  1. Mereka yang menolak demokrasi dengan mengatasnamakan Islam.
  2. Mereka yang menerima demokrasi secara total tanpa reserve.
  3. Mereka yang menerima demokrasi secara moderat.

Penulis tidak ada memberikan bantahan ilmiah terkait mereka yang menolak demokrasi atas nama Islam, dan hanya memberikan penjelasan sekaligus ”pembelaan” bagi mereka yang menerima demokrasi secara moderat.

Menurut penulis Dalam sistem demokrasi, terdapat hal-hal yang selaras dengan ajaran Islam, seperti: musyawarah, amar ma’ruf nahi munkar yang diterjemahkan dalam mekanisme check and balance, pengawasan (mutaba’ah), kontrol (muraqabah) dan evaluasi, saling menasehati (taushiyah), mencari mashlahat dan menghindari madharat, menegakkan keadilan dan melawan kezhaliman dan diktatorisme, dan aspek-aspek lainnya.

Pendapat seperti ini muncul karena ketidaktahuan akan demokrasi itu sendiri, saya telah menggambarkan ide demokrasi ini secara menyeluruh mulai dari kemunculannya hingga faham kebebasan yang dibawa oleh demokrasi itu sendiri. Syura’ atau musyawarah dalam Islam tidaklah bisa didentikan dengan demokrasi, jelas seperti langit dan bumi perbandingan antara syura’ dan demokrasi.

Penggalan ayat ini: Wa amruhum syûrâ baynahum (sedang urusan mereka [diputuskan] dengan musyawarah antara mereka) sering diambil untuk melegitimasi demokrasi. Syûrâ yang diperintahkan dalam ayat ini disamakan dengan demokrasi. Padahal di antara keduanya terdapat kontradiksi mendasar. Demokrasi merupakan pandangan hidup dan sistem pemerintahan yang menjadikan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Prinsip ini meniscayakan, seluruh perundang-undangan harus bersumber dari rakyat. Pelaksana praktisnya adalah parlemen yang dianggap sebagai representasi rakyat. Konsekuensinya, undang-undang apa pun yang telah dilegislasi oleh parlemen harus diterapkan dan ditaati oleh rakyat; terlepas apakah undang-undang itu sejalan dengan syariah atau tidak. Konsekuensi lainnya, kebebasan (freedom) harus dijunjung tinggi dalam masyarakat yang menerapkan dePrinsip lainnya dalam demokrasi adalah suara mayoritas. Oleh karena kehendak rakyat harus ditaati, sementara jumlah rakyat amat banyak dengan keinginan yang berbeda-beda, bahkan bertentangan satu sama lainnya, maka yang harus diikuti adalah yang didukung dengan suara mayoritas rakyat. Ini fakta yang juga diakui oleh penulis itu sendiri.

Kata syûrâ merupakan bentuk mashdar dari kata syâwara. Dikemukakan oleh Raghib al-Asfhani, at-tasâwur wa al-musyâwarah wa al-masyûrah berarti mengeluarkan pendapat dengan cara, sebagian orang meminta pedapat atau nasihat kepada sebagian lainnya. Pengertian tersebut diambil dari ucapan mereka, “Syurtu al-‘asl,” ketika engkau mengambil dan mengeluarkan madu dari tempatnya.

Pengertian lebih spesifik dikemukakan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabahani. Suatu pengambilan pendapat (akhdz al-ra’yi) baru bisa disebut sebagai syûrâ jika dilakukan oleh khalifah, amir, atau pemilik otoritas, seperti ketua, komandan, atau penanggung jawab kepada orang yang dipimpinnya. Bisa juga dilakukan antara suami-istri. Ketika hendak melakukan penyapihan anak sebelum dua tahun, mereka diperintahkan untuk memusyawarahkannya (lihat QS al-Baqarah [2]: 233). Adapun menyampaikan pendapat (ibdâ’ al-ra’y) kepada pemilik otoritas, baik penguasa, komandan, atau pemimpin, maka itu disebut sebagai nasihat; suatu aktivitas yang juga diperintahkan oleh syariah. Nasihat disampaikan kepada para pemimpin kaum Muslim dan kaum Muslim secara umum.

Dhamîr hum (kata ganti mereka) pada ayat ini merujuk kepada kaum Muslim. Itu menunjukkan bahwa pengambilan pendapat itu hanya dilakukan kepada kaum Muslim. Perintah yang sama juga disampaikan dalam firman Allah Swt. yang lain (lihat: QS Ali Imran [3]: 159).

Berdasarkan kedua ayat ini, Syaikh Taqiyuddin an-Nabahani menyimpulkan bahwa syûrâ khusus dilakukan terhadap kaum Muslim secara qath’i. Hal ini berbeda dengan ibdâ’ al-ra’y yang bisa didengarkan dari semua orang, baik Muslim maupun non-Muslim.

Kemudian penulis mengatakan, ”Secara substanif tidak ada perbedaan antara sistem syura dengan sistem demokrasi. Bahkan bersesuaian. Yang membedakan adalah ‘ruh’ atau spirit dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sistem syura berspiritkan ”rabbaniyyah”, sedang sistem demokrasi berspiritkan “insaniyyah”. Sistem syura bernilai “religiuitas”, sedang sistem demokrasi “bebas nilai”.

Komentar : sekali lagi, saya menduga dengan dugaan yang kuat bahwa penulis memang tidak faham dari realitas demokrasi itu sendiri, hanya melihat demokrasi dari ”penerapan” yang terlihat manis, namun melupakan pondasi dasar yang membangun faham demokrasi itu sendiri. Ini terlihat sekali bahwa tulisan terkesan dipaksakan sehingga seolah-olah demokrasi selaras dengan Islam. Apalagi penulis ”memuji” faham demokrasi dengan mengatakan bahwa, ”Dalam sistem demokrasi inilah kita mendapatkan derivatif sistemnya berupa: sistem kepartaian, sistem pemilihan umum untuk Dewan Perwakilan (lembaga legislatif), sistem pemilihan umum untuk pemerintahan pusat dan pemerintahan Daerah untuk memilih Presiden hingga Kepala Daerah (lembaga eksekutif), sistem pemilihan untuk lembaga Yudikatif, sistem ketata-negaraan yang meliputi pemisahan kekuasaan dan kewenangan antara ketiga lembaga tersebut agar berjalan mekanisme check and balances, bentuk negara, bentuk pemerintahan, sistem parlemen, sistem fiskal dan moneter, sistem keuangan negara dan perbendaharaan negara, sistem sosial, sistem pendidikan, dan sebagainya. Dimana seluruh sistem itu dirumuskan dalam Undang-Undang Dasar negara dan Undang-undang yang terkait dengan setiap sistem yang dibutuhkan dalam menjalankan roda pemerintahan.”

Sungguh penulis telah mengkerdilkan Islam dalam hal ini syariat Islam, penulis seolah ingin mengatkan bahwa di dalam syura’ kita tidak akan menemui apa yang telah ia sampaikan terkait struktur negara, sistem kepartaian dan lainnya, ini karena yang penulis lihat adalag sebatas syura’, padahal syura’ hanyalah merupkan suatu tempat dalam pengambil keputusan yang tidak terkait dengan sistem, kalau ingin mendapatkan apa yang ada maka menolehlah pada Islam sebagai sebuah sistem, bukan pada syura’nya, di di dalam Islam akan didapati aturan hidup yang mengatur urusan manusia dengan pencpitanya, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan dirinya sendiri, di dalam Islam ada aturan tentang, bentuk negara, struktur negara, sistem ketatanegaraan, aturan pembetukan partai, sistem ekonomi, bahkan dalam hal UUD dan UU pun telah ada rumusannya.

Penulis terjebak pada mainstrean demokrasi, sehingga pola fikir yang dijadikan penilaian adalah hidup di didalam alam demokrasi, bukan didalam sistem Islam, sehingga membuat pemikiran penulis hanya berkutat pada ide demokrasi itu sendiri dan menguraikanya secara tidak sesuai dengan fakta akan demokrasi itu sendiri yang jelas bertantang dengan Islam.

Bahkan sebagai seorang Muslim, mengambil istilah demokrasi pun sudah termasuk suatu dosa karena jelas sekali diharamkan mengadopsi istilah tersebut. Menurut Taqiyuddin An-Nabhani, jika suatu istilah asing mempunyai makna yang bertentangan dengan Islam, istilah itu tidak boleh digunakan. Sebaliknya jika maknanya terdapat dalam khazanah pemikiran Islam, istilah tersebut boleh digunakan. Dalam hal ini, Islam telah melarang umatnya untuk menggunakan istilah-istilah yang menimbulkan kerancuan, apalagi kerancuan yang menghasilkan pengertian-pengertian yang bertolak belakang antara pengertian yang Islami dan yang tidak Islami. Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad),’Raa’ina’, tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS Al Baqarah : 104)

“Raa’ina” artinya adalah “sudilah kiranya Anda memperhatikan kami.” Di kala para shahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudi pun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut “Raa’ina”, padahal yang mereka katakan adalah “Ru’uunah” yang artinya “kebodohan yang sangat.” Itulah sebabnya Allah menyuruh supaya para shahabat menukar perkataan “Raa’ina” dengan “Unzhurna” yang sama artinya dengan “Raa’ina”. Oleh Ihsan Sammarah dalam kitabnya Mafhum Al-Adalah Al-Ijtimaiyah fi Al-Fikri Al-Islami Al-Mu’ashir (1991), ayat ini dijadikan dalil untuk menolak penggunaan istilah yang dapat menimbulkan kerancuan atau bias, yang pengertiannya kemungkinan berupa makna Islami atau makna yang tidak Islami.

Syekh Abdul Qadim Zallum menarik 2 (dua) kesimpulan yang sangat tegas, jelas, dan tanpa bsa-basi. Tujuannya adalah agar umat Islam terhindar dari kekufuran dan kesesatan sistem demokrasi. Dua kesimpulan utama itu sebagai berikut :

Pertama, Demokrasi yang telah dijajakan Barat yang kafir ke negeri-negeri Islam itu sesungguhnya adalah sistem kufur. Tidak ada hubungannya dengan Islam sama sekali, baik langsung maupun tidak langsung. Demokrasi sangat bertentangan dengan hukum-hukum Islam dalam garis besar dan perinciannya, dalam sumber kemunculannya, aqidah yang melahirkannya atau asas yang mendasarinya, serta berbagai ide dan peraturan yang dibawanya.

Kedua, Maka dari itu, kaum muslimin haram mengambil dan menyebarluaskan demokrasi serta mendirikan partai-partai politik yang berasaskan demokrasi. Haram pula bagi mereka menjadikan demokrasi sebagai pandangan hidup dan menerapkannya; atau menjadikannya sebagai asas bagi konstitusi dan undang-undang atau sebagai sumber bagi konstitusi dan undang-undang; atau sebagai asas bagi sistem pendidikan dan penentuan tujuannya. Syekh Abdul Qadim Zallum menegaskan, “Kaum muslim wajib membuang demokrasi sejauh-jauhnya karena demokrasi adalah najis dan merupakan hukum thaghut.”

Wallahu’alam bis showab.

Adi Victoria (al_ikhwan1924@yahoo.com

Di  sini akan dipaparkan kesaksian positif para ulama dunia kepadanya, di tengah fitnah terorisme yang diarahkan ke Islam oleh barat, namun justru diaminkan oleh segelintir da’i Islam yang juga ikut menuduh aktifis Islam dan ulamanya ,sebagai teroris, termasuk Sayyid Quthb -rahmatullah ‘alaih. Bahkan begitu tega mereka katakan bahwa Sayyid Quthb merupakan investor dan kontributor terbesar secara fikrah, atas berbagai aksi kekerasan atas nama Islam pada hari ini.

Berikut ini paparan para Ulama yang memberikan kesaksian positif tersebut, dan pembaca akan dapatkan betapa jauh berbeda antara para ulama ini dengan pandangan sinis dan skeptis dari kalangan bukan ulama. Sehingga layak kita bertanya, ulama mana yang diikutinya?

1.Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin -rahimahullah.

Anggota Hai’ah Kibar al Ulama di Saudi Arabia. Silahkan lihat kesaksian dan pembelaan beliau terhadap Sayyid Quthb dan Hasan al Banna dalam rubrik Tsaqafah edisi 17, atau lihat kitab Al Ikhwan Al Muslimun Kubra Al Harakat Al Islamiyah Syubhat wa,Rudud karya Al Ustadz Dr. Taufiq al Wa’iy,hal. 515-516. Cet.1, 2001M/1421H. Maktabah Al Manar Al Islamiyah, Kuwait.

2.Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah.

Juga anggota Hai’ah Kibar al Ulama. Ia telah membela Sayyid Quthb -rahimahullah- dari serangan Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhaly. Ia mengirim surat kepada Syaikh Rabi’ sebagai nasehat untuknya. Silakan lihat surat tersebut – sangat panjang- yang sebagiannya telah kami terjemahkan dari kitab berjudul Sayyid Quthb karya Shalah Abdul Fattah al Khalidi, hal. 593-600, penerbit Darul Qalam, Damaskus, yang kami lampirkan dalam buku Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, hal. 411-418 (edisi lengkap). Lihat juga Al Ikhwan Al Muslimun Kubra Al Harakat Al Islamiyah Syubaht wa Rudud, hal. 508- 514.

3.Syaikh Abdullah bin Al Hasan al Qu’ud -rahimahullah.

Seorang ulama Saudi Arabia yang juga menjadi rujukan kaum Salafiyyin. Syaikh Ibnu Qu’ud telah menasehati Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhali.

Ia berkata, “Telah membawa berita kepadaku lebih dari seorang, tentang perkataanmu di suatu pertemuan baik-baik -semoga demikian adanya- bahwa engkau mengatakan buku Ma’alim fi Ath Thariq adalah buku terlaknat. Subhanallah!! Sebuah buku yang dibayar mahal oleh penulisnya (yakni Sayyiq Quthb) dengan mati di jalan Allah karena menentang penguasa komunis Jamal Abdul Nashir, sebagaimana diketahui oleh orang-orang pada masa itu. Padahal buku tersebut telah diedarkan oleh banyak pihak di Kerajaan Saudi ini selama bertahun¬tahun, di mana mereka adalah orang-orang berilmu dan berdakwah kepada Allah. Bahkan, banyak di antara mereka adalah para syaikh dari syaikh-syaikhmu. Dan, tidak ada seorang pun di antara mereka mengatakan seperti yang engkau katakan.

Akan tetapi, engkau ini -wallahu a’lam- tidak mau memahami lebih mendalam apa yang engkau bicarakan sebelum marah, terutama untuk tema-tema semacam: Jail Qur’ani Farid (Satu-satunya Generasi Da’wah), Jihad, Laa Ilaaha Illallah manhaj kehidupan, Jinsiyyatu Al Muslim Aqidatuhu (Warga negara/Identitas seorang Muslim adalah Aqidahnya), Isti’la Al Iman (Kesombongan/ Ketinggian Iman), Hadza Huwa Ath Tharid (Inilah Dia Jalan -yang benar), …. Dan lain-lain dimana maknanya secara keseluruhan adalah keberagamaanmu kepada Allah? Bagaimana engkau nanti jika berdiri di hadapan Allah ketika orang ini (Sayyid Quthb) mendebatmu? Padahal, orang ini telah bertahun-tahun lamanya secara berturut¬turut disifati oleh media massa Saudi sebagai syahidul Islam?” (Abduh Zlfidar Akaha, Siapa Teroris? Siapa Khawarij?, hal. 325-326)

4.Syaikh al ‘Allamah Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh -hafizhahullah.

Mufti Kerajaan Saudi Arabia saat ini, pemgganti Syaikh bin Baz. Syaikh ini mengkritik balik orang-orang yang mengkritik Sayyid Quthb.

Beliau berkata, “Kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an adalah kitab yang bermanfaat. Penulisnya menuliskannya agar Al Qur’an ini dijadikan sebagai undang-undang kehidupan. Kitab ini bukanlah tafsir dalam arti kata harfiyah, tetapi penulisnya banyak menampilkan ayat-ayat Al Qur’an yang dibutuhkan oleh seorang muslim dalam hidupnya … Di sana ada orang yang mengkritik sebagian istikah yang terdapat dalam kitab ini. Namun, sesungguhnya hal-hal yang dianggap kesalahan ini adalah dikarenakan indahnya perkataan Sayyid Quthb dan tingginya gaya bahasa yang beliau pergunakan di atas gaya bahasa pembaca. Inilah sebetulnya yang tidak dipahami oleh sebagian orang yang mengkritiknya. Kalau saja mereka mau menyelaminya lebih dalam dan mengulangi bacaannya, sungguh akan jelas bagi mereka kesalahan mereka, dan kebenaran Sayyid Quthb.” (Ibid, hal. 326)

Ucapan Syaikh ini mengingatkan kami kepada Andi Abu Thalib al Atsary (nama aslinya Andi Bangkit), penulis Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwahul Muslimin, Penerbit Darul Qalam, pada hal. 73 catatan kaki no. 56 yang begitu tega menyebut Sayyid Quthb tidak mengetahui seluk beluk bahasa Arab.

Kami tidak tahu, kira-kira apa yang akan dikatakan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh kepada Andi Abu Thalib, kalau dia tahu ada omongan pemuda Indonesia -tentu tidak menjadikan bahasa Arab sebagai pengantar komunikasinya- yang tega menyebut Sayyid Quthb tidak mengerti bahasa Arab. Padahal kritikan Syaikh di atas diarahkan untuk para pengkritik Sayyid Quthb dari kalangan orang Arab (tentu berbahasa Arab) bahkan syaikh-syaikhnya. Sungguh, amat berbeda antara ucapan orang berilmu seperti syaikh yang mulia ini, dibanding ucapan penuntut ilmu itu. Bahkan Syaikh Bakr Abu Zaid ketika membela Sayyid Quthb dari celaan. Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan bahwa perbedaan bahasa yang digunakan Sayyid Quthb dan Syaikh Rabi’ seperti perbedaan bahasa antara mahasiswa dan anak I’dadi (persiapan bahasa), sehingga si anak I’dadi tidak begitu paham dengan bahasa si mahasiswa.(Ibid, hal. 322)

Itu perbandingan dari Syaikh Bakr Abu Zaid tentang kemampuan berbahasa Arab antara Sayyid Quthb dan Syaikh Rabi’ (yang seorang guru besar, Profesor di Universitas Islam Madinah), lalu bagaimana perbandingan antara Sayyid Quthb dengan Andi Abu Thalib yang orang Indonesia, mantan santri di pesantren Jawa Timur dan kuliah di Sastra Jepang UI angkatan 1999M. Jangan sampai pembaca Tatsqif mengumpamakannya seperti perbedaan Mahasiswa dengan balita!

Maka, wahai pembaca, bukankah selayaknya ini disebut kesombongan penulis Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin, agar ia bisa berbangga- bangga dengan ilmunya di depan ulama.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ‘Alaihi Shalatu was Salam bersabda: “Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk membanggakannya kepada para ulama dan melecehkan orang-orang bodoh, dan janganlah kalian memilih-milih majlis dengan ilmu itu, barangsiapa melakukan hal tersebut maka api neraka, api neraka (baginya).” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan al Baihaqi. Semuanya dari jalur Yahya bin Ayyub al Ghafiqi dari Ibnu Juraij, dari Abuz Zubair, dari jabir. Yahya initerpercaya. Asy Syaikhan dan lainnya berhujjah dengannya, dan tidak dianggap orang yang ganjil (syadz) dalam riwayat ini. Ibnu Majah meriwayatkan pula dari Hudzaifah. Syaikh al Albany menshahihkan hadits ini dalam Shahih Targhib wa Tarhib 1/119)

5.Syaikh Manna’ Khalil al Qaththan -rahimahullah.

Pakar Tafsir dan Hadits, dosen pasca sarjana di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud Al Islamiyah, Riyadh. Mantan Ketua Mahkamah Tinggi di Riyadh. Dia juga seorang anggota Ikhwan, seangkatan dengan Yusuf al Qaradhawy. Posisinya di Saudi yang demikian tinggi menunjukkan penerimaan ulama Saudi terhadap tokoh-tokoh Ikhwan, begitu pula Yusuf al Qaradhawy pernah menjadi anggota Majelis Tinggi Universitas Islam Madinah yang direktori Syaikh bin Baz.

Kami ringkas ucapan Syaikh Manna’, dia berkata, “Di antara tokoh jamaah ini yang paling menoniol adalahseorang alim yang sulit dicari bandingannya dan pemikir cemerlang, Asy Syahid Sayyid Quthb, yang telah memfilsafatkan pemikiran Islam dan menyingkapkan ajaran¬ajarannya yang benar dengan jelas dan gamblang. Tokoh yang menemui Tuhannya, sebagai syahid dalam membela akidah ini telah meninggalkan warisan pemikiran sangat bermutu, terutama kitabnya dalam bidang tafsir yang diberi nama Fi Zhilalil Qur’an.

Kitab tersebut merupakan sebuah tafsir sempurna tentang kehidupan di bawah sinar Qur’an dan petunjuk Islam. Pengarangnya hidup di bawah naungan Qur’an yang bijaksana sebagaimana dapat dipahami dari penamaan kitabnya. Ia meresapi keindahan Qur’an dan mampu mengungkapkan perasaannya dengan jujur ….dst.

Kitab ini terdiri atas delapan jilid besar dan telah mengalami cetak ulang beberapa kali hanya dalam beberapa tahun saja, karena mendapat sambutan hangat dari kaum terpelajar (ilmuwan).” (Ibid, hal. 326-327. Manna Khalil al Qaththan, Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an, hal. 506-507)

6. Syaikh Umar Sulaiman al Asyqar. Seorang ulama Quwait, dosen Fakultas Syariah di Universitas Quwait

Dia berkata, “Sayyid Quthb -rahimahullah mendalami Islam secara orisinil sehingga beliau mencapai masalah secara mendasar seperti manhaj salaf, pemisahan total antara manhaj Al Qur’an dan filsafat, memurnikan sumber ajaran Islam dari lainnva. membatasi standar hukum hanya dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan bukan pada pribadi atau tokoh tertentu. Sayyid Quthb menerapkan cara istimbath langsung dari nash seperti yang dilakukan salaf. Akan tetapi, sayangnya beliau tidak memiliki kesempatan mempelajari manhaj Islam. oleh karena itu, terkadana ada beberapa titik rancu dalam tulisannya meskipun beliau sudah berupaya mengkaji secara serius untuk berlepas dari kerancuan. Pastinya, Sayyid Quthb tidak melakukan hal tersebut karena hawa nafsunya.” (Jasim al Muhalhil, Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Jawaban, Tuduhan, dan Harapan, hal. 124)

Siapa saja bisa berbuat salah sebab yang ma’shum hanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Namun demikian seharusnya, kita berbaik sangka terhadap kerancuan yang ada tulisan atau pemikiran ulama, siapapun dia. Kesalahan yang dilakukan oleh Hasan al Banna, Sayyid Quthb, Yusuf al Qaradhawy, Muhammad al Ghazaly, kita yakini bukanlah kesalahan yang mereka niatkan dengan sengaja bertujuan merusak agama sebagaimana yang sering dituduhkan sebagian orang kepada mereka. Mungkin kesalahan itu sekedar lupa, atau kesalahan yang masih bisa dimaafkan atau masih bisa didiskusikan. Pastinya, bukan karena kejahatan dan penistaan terhadap ajaran agama.

http://ulwani.tripod.com/kesaksian_ulama.htm

Khithab Adz-Dzahabi (Surat Emas) Syaikh Bakr Bin AbduLLAAH Abu Zaid untuk DR Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Atas Tuduhan-Tuduhannya terhadap Sayyid Quthb

الخطاب الذهبي

Khithab Adz-Dzahabi (Surat Emas) Syaikh Bakr Bin AbduLLAAH Abu Zaid [1] –rahimahuLLAAH- untuk DR Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Atas Tuduhan-Tuduhan DR Rabi’ terhadap Sayyid Quthb –rahimahuLLAAH-

بقلم الشيخ بـكــــر أبـــو زيـــد حفظه الله

فضيلة الأخ الشيخ / ربيع بن هادي المدخلي .. الموقر
السلام عيكم ورحمة الله وبركاته.. وبعد

فأشير إلى رغبتكم قراءة الكتاب المرفق ((أضواء إسلامية على عقيدة سيد قطب وفكره)).. هل من ملاحظات عليه ثم هذه الملاحظات هل تقضي على هذا المشروع فيطوى ولا يروى، أم هي مما يمكن تعديلها فيترشح الكتاب بعد الطبع والنشر ويكون ذخيرة لكم في الأخرى، بصيرة لمن شاء الله من عباده في الدنيا، لهذا أبدي ما يلي..

Yang Terhormat Saudaraku

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi

Assalamu’alaikum Wr Wb

Merujuk kepada permintaan saudaraku –Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi- agar aku sudi membaca buku yang engkau kirim: “Sorotan Islam Terhadap Aqidah dan Fikrah Sayyid Quthb”.. untuk dilihat apakah aku punya catatan terhadap buku tersebut, dan apabila ada catatan apakah sampai menggagalkan proyek penerbitannya sehingga harus disingkirkan dan tidak perlu dilihat-lihat lagi, atau catatan tersebut masih memungkinkan untuk direvisi sehingga buku tersebut setelah dicetak dan diterbitkan bisa lebih berbobot, dan menjadi tabungan kebaikan antum di akhirat kelak, menjadi lentera penerang bagi kehidupan hamba yang dikehendaki Allah saat masih di alam dunia? Oleh karena itu aku ingin mengungkapkan bagaimana pendapatku:

1 – نظرت في أول صفحة من (فهرس الموضوعات فوجدتها عناوين قد جمعت في سيد قطب رحمه الله، أصول الكفر والإلحاد والزندقة، القول بوحدة الوجود، القول بخلق القرآن، يجوز لغير الله أن يشرع، غلوه في تعظيم صفات الله تعالى، لا يقبل الأحاديث المتواترة، يشكك في أمور العقيدة التي يجب الجزم بها، يكفر المجتمعات ..إلى أخر تلك العناوين التي تقشعر منها جلود المؤمنين..

Setelah melihat halaman pertama yang di dalamnya terdapat daftar isi buku, aku dapati dari daftar isi tersebut berbagai judul tulisan yang semuanya tertuju kepada Sayyid Quthb rahimahuLLAAH; Sayyid Quthb akar kekufuran, atheisme dan zindiq; Sayyid Quthb mengatakan adanya wihdatul wujud; mengatakan Al Qur’an itu makhluk ; selain Allah boleh membuat syariat; berlebihan dalam mengagungkan sifat Allah; menolak hadits-hadits mutawattir; meragukan masalah-masalah aqidah yang jelas wajib diyakini; mengkafirkan masyarakat… dan judul tulisan lainnya yang membuat merinding kulit orang-orang yang beriman..

وأسفت على أحوال علماء المسلمين في الأقطار الذين لم ينبهوا على هذه الموبقات.. وكيف الجمع بين هذا وبين انتشار كتبه في الآفاق انتشار الشمس، وعامتهم يستفيدون منها، حتى أنت في بعض ما كتبت، عند هذا أخذت بالمطابقة بين العنوان والموضوع، فوجدت الخبر يكذبه الخبر، ونهايتها بالجملة عناوين استفزازية تجذب القارئ العادي، إلى الوقيعة في سيد رحمه الله، وإني أكره لي ولكم ولكل مسلم مواطن الإثم والجناح، وإن من الغبن الفاحش إهداء الإنسان حسناته إلى من يعتقد بغضه وعداوته.

Bila hal ini benar, aku menyayangkan kondisi ulama-ulama umat Islam di berbagai negeri yang tidak memperhatikan kebejatan ini… Tapi, bagaimana mungkin hal ini terjadi sementara buku-buku Sayyid Quthb sudah tersebar luas ke seluruh penjuru dunia, dan umumnya umat Islam mengambil manfaat dari buku-buku tersebut, termasuk engkau sendiri, dalam beberapa tulisan engkau menukil dari buku Sayyid Quthb. Hal ini membuat aku segera mengecek kesesuaian judul-judul tersebut dengan materi bahasan di dalamnya, ternyata pernyataan yang satu dibantah dengan pernyataan lainnya. Kesimpulannya judul dan tema yang dibahas sangat provokatif yang dapat mendorong pembaca biasa untuk mencederai pribadi Sayyid Quthb. Sungguh aku membenci diriku, engkau dan setiap muslim terperosok kedalam lembah dosa dan kesalahan. Merupakan kerugian besar bila seseorang menghadiahkan kebaikannya kepada orang yang dibenci dan dimusuhi.

2 – نظرت فوجدت هذا الكتاب يـفـتـقــد:

(أصـول البحث العلمي، الحيـدة العلمية، منهـج النقد، أمانـة النقل والعلم، عـدم هضم الحق).
أما أدب الحوار وسمو الأسلوب ورصانة العرض فلا تمت إلى الكتاب بهاجس.. وإليك الدليل…

2. Setelah aku perhatikan, buku ini mengabaikan prinsip-prinsip penulisan ilmiah, obyektifitas dan metodologi kritik ilmiah, mengabaikan kejujuran dalam mengutip tulisan dan tidak memihak kebenaran. Adapun adab berdialog, kwalitas bahasa dan cara pengungkapannya lebih parah lagi. Hal tersebut dapat kita buktikan sebagai berikut:

أولاً: رأيت الاعتماد في النقل من كتب سيد رحمه الله تعالى من طبعات سابقة مثل الظلال والعدالة الاجتماعية مع علمكم كما في حاشية ص 29 وغيرها، أن لها طبعات معدلة لاحقة، والواجب حسب أصول النقد والأمانة العلمية، تسليط النقد إن كان على النص من الطبعة الأخيرة لكل كتاب، لأن ما فيها من تعديل ينسخ ما في سابقتها وهذا غير خاف إن شاء الله تعالى على معلوماتكم الأولية، لكن لعلها غلطة طالب حضر لكم المعلومات ولما يعرف هذا ؟؟، وغير خاف لما لهذا من نظائر لدى أهل اعلم، فمثلاً كتاب الروح لابن القيم لما رأى بعضهم فيما رأى قال: لعله في أول حياته وهكذا في مواطن لغيره، وكتاب العدالة الاجتماعية هو أول ما ألفه في الإسلاميات والله المستعان.

Pertama: Setelah aku perhatikan, kutipan-kutipan dari buku-buku Sayyid Quthb engkau mengandalkan pada cetakan lama seperti buku Fi Zhilalil Qur’an dan ‘Adaalah Ijtima’iyah, padahal engkau mengetahui bahwa buku-buku tersebut memiliki cetakan edisi revisi sebagaimana tercantum dalam catatan kaki di halaman-29 dan halaman lainnya. Seharusnya sesuai standar ilmiyah dalam memberikan kritik dan penilaian, yang dijadikan obyek kritik terfocus pada buku-buku yang dicetak terakhir, sebab sangat dimungkinkan ada revisi-revisi yang menghapus apa yang ada dalam cetakan sebelumnya dan tentu hal ini sudah menjadi pengetahuan dasar engkau, kecuali bila buku ini merupakan hasil kerja murid engkau yang menyerap pengetahuanmu, mungkin ia tidak mengetahui standar ilmiyah tersebut?!

ثانيًا: لقد اقشعر جلدي حينما قرأت في فهرس هذا الكتاب قولكم (سيد قطب يجوز لغير الله أن يشرع)، فهرعت إليها قبل كل شيء فرأيت الكلام بمجموعه نقلاً واحدًا لسطور عديدة من كتابه العدالة الاجتماعية) وكلامه لا يفيد هذا العنوان الاستفزازي، ولنفرض أن فيه عبارة موهمة أو مطلقة، فكيف نحولها إلى مؤاخذة مكفرة، تنسف ما بنى عليه سيد رحمه الله حياته ووظف له قلمه من الدعوة إلى توحيد الله تعالى (في الحكم والتشريع) ورفض سن القوانين الوضعية والوقوف في وجوه الفعلة لذلك، إن الله يحب العدل والإنصاف في كل شيء ولا أراك إن شاء الله تعالى إلا في أوبة إلى العدل والإنصاف.

Kedua: Sungguh merinding kulitku ketika aku membaca di Daftar Isi ucapanmu (Sayyid Quthb membolehkan kepada selain ALLAH untuk membuat syariat) maka aku segera mengeceknya sebelum melakukan yang lain, maka kulihat kata-kata Sayyid Quthb secara keseluruhan dalam beberapa baris dari kitabnya Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah. Dan ucapan beliau sama sekali tidak menunjukkan judul tsb, seandainya kita ingin menyimpulkan bahwa di dalam ucapannya ada ungkapan yang belum jelas, bagaimana mungkin kita menghukumi beliau dengan vonis mengkafirkannya?!

Hendaknya kita mengingat apa yang telah dilakukan Sayyid Quthb di dalam hidupnya, dan bagaimana beliau menggunakan penanya mengajak orang kepada Tauhid dalam hukum & perundang-undangan dan bahwa beliau menolak pemberlakuan hukum buatan manusia & berdiri menghadang orang-orang yang melakukannya. Sesungguhnya ALLAH SWT mencintai sikap adil & obyektif dalam setiap hal & aku melihat engkau insya ALLAH mau kembali kepada keadilan & sikap obyektif tsb.

ثالثًا: ومن العناوين الاستـفـزازيـــة قولكم (قول سيد قطب بوحدة الوجود).

إن سيدًا رحمه الله قال كلامًا متشابهًا حلق فيه بالأسلوب في تفسير سورتي الحديد والإخلاص وقد اعتمد عليه بنسبة القول بوحدة الوجود إليه، وأحسنتم حينما نقلتم قوله في تفسير سورة البقرة من رده الواضح الصريح لفكرة وحدة الوجود، ومنه قوله: (( ومن هنا تنتفي من التفكير الإسلامي الصحيح فكرة وحدة الوجود)) وأزيدكم أن في كتابه (مقومات التصور الإسلامي) ردًا شافيًا على القائلين بوحدة الوجود، لهذا فنحن نقول غفر الله لسيد كلامه المتشابه الذي جنح فيه بأسلوب وسع فيه العبارة.. والمتشابه لا يقاوم النص الصريح القاطع من كلامه، لهذا أرجو المبادرة إلى شطب هذا التكفير الضمني لسيد رحمه الله تعالى وإني مشفق عليكم

Ketiga: Dan diantara judul dalam Daftar Isi yang mengerikan adalah kata-kata-mu bahwa Sayyid Quthb mengatakan Wihdatul Wujud… Sesungguhnya Sayyid rahimahuLLAAH mengucapkan kata-kata yang mutasyabih (multi interpretatif), dengan uslub atau gaya tertentu dalam menafsirkan surat Al-Hadid & surat Al-Ikhlas yang membuat engkau menisbahkan Wihdatul Wujud itu kepadanya. Padahal engkau telah berbuat baik ketika engkau menukil perkataan Sayyid saat menafsirkan surat Al-Baqarah bahwa Sayyid menolak dengan jelas fikrah Wihdatul Wujud, dan di antara ucapan Sayyid tsb adalah (Dan dari sinilah berakhir pemikiran Wihdatul Wujud dalam fikrah Islamiyah yang benar). Dan aku tambahkan pada engkau bahwa dalam kitabnya Muqawwimat Tashawwur Islamiy terdapat bantahan yang cukup jelas terhadap orang-orang yang mengatakan Wihdatul Wujud. Oleh sebab itu kami berkata semoga ALLAH mengampuni Sayyid Quthb atas ucapannya atau kalimatnya yang mutasyabih dengan uslub yang memungkinkan disalah-fahami. Dan mutasyabih tidak dapat mengalahkan ungkapan yang tegas dari tulisan Sayyid, oleh karena itu aku berharap agar engkau segera mencoret vonis takfir tersembunyi kepada Sayyid rahimahuLLAHu Ta’ala & aku benar-benar menyayangi engkau.

رابعًا: وهنا أقول لجنابكم الكريم بكل وضوح إنك تحت هذه العناوين (مخالفته في تفسير لا إله إلا الله للعلماء وأهل اللغة وعدم وضوح الربوبية والألوهية عند سيد) .

أقول أيها المحب الحبيب، لقد نسفت بلا تثبت جميع ما قرره سيد رحمه الله تعالى من معالم التوحيد ومقتضياته، ولوازمه التي تحتل السمة البارزة في حياته الطويلة فجميع ما ذكرته يلغيه كلمة واحدة، وهي أن توحيد الله في الحكم والتشريع من مقتضيات كلمة التوحيد، وسيد رحمه الله تعالى ركز على هذا كثيرًا لما رأى من هذه الجرأة الفاجرة على إلغاء تحكيم شرع الله من القضاء وغيره وحلال القوانين الوضعية بدلاً عنها ولا شك أن هذه جرأة عظيمة ما عاهدتها الأمة الإسلامية في مشوارها الطويل قبل عام (1342هـ ).

Keempat: Dan tentang judul yang kau tulis “Penyelisihannya dalam menafsirkan LailahaillaLLAAH terhadap pendapat para ulama & ahli bahasa serta ketidakjelasan Tauhid Rububiyyah & Uluhiyyah pada diri Sayyid. Aku mengatakan wahai kekasihku, sungguh engkau telah sembrono tanpa melakukan tabayyun terhadap semua yang telah dinyatakan oleh Sayyid rahimahuLLAH tentang rambu-rambu tauhid & konsekuensinya yang semua itu bahkan menjadi ciri beliau yang menonjol di sepanjang kehidupannya, sedangkan apa yang kau sebutkan dengan 1 kalimat telah menghapus semua itu. Dan ucapan beliau bahwa TauhiduLLAAH dalam hukum & tasyri’ termasuk konsekuensi kalimat tauhid, adalah karena Sayyid melihat keberanian yang kurang ajar dari sebagian orang menghilangkan tahkim dengan syariat ALLAH & menghalalkan hukum buatan manusia sebagai ganti syariat ALLAH, semua itu yang tidak pernah dikenal oleh ummat Islam sepanjang sejarahnya sebelum tahun 1342-H.

خامسًا: ومن عناوين الفهرس (قول سيد بخلق القرآن وأن كلام الله عبارة عن الإرادة)..
لما رجعت إلى الصفحات المذكورة لم أجد حرفًا واحدًا يصرح فيه سيد رحمه الله تعالى بهذا اللفظ (القرآن مخلوق) كيف يكون هذا الاستسهال للرمي بهذه المكفرات، إن نهاية ما رأيت له تمدد في الأسلوب كقوله (ولكنهم لا يملكون أن يؤلفوا منها ـ أي الحروف المقطعة ـ مثل هذا الكتاب لأنه من صنع الله لا من صنع الناس) ..وهي عبارة لا شك في خطأها ولكن هل نحكم من خلالها أن سيدًا يقول بهذه المقولة الكفرية (خلق القرآن) اللهم إني لا أستطيع تحمل عهدة ذلك.. لقد ذكرني هذا بقول نحوه للشيخ محمد عبد الخالق عظيمة رحمه الله في مقدمة كتابه دراسات في أسلوب القرآن الكريم والذي طبعته مشكورة جامعة الإمام محمد بن سعود الإسلامية، فهل نرمي الجميع بالقول بخلق القرآن اللهم لا، واكتفي بهذا من الناحية الموضوعية وهي المهمة.

ومن جهات أخرى أبدي ما يلي:

Kelima: Di bawah judul (ucapan Sayyid bahwa Qur’an adalah makhluq & bahwasanya KalamuLLAAH adalah ungkapan iradah ALLAAH). Ketika aku merujuk ke halaman yang disebutkan aku tidak menemukan 1 hurufpun yang mengungkapkan bahwa Sayyid mengatakan Qur’an tersebut makhluk, bagaimana mungkin begitu gampang terjadi tuduhan yang mengkafirkan ini?! Yang bisa aku lihat dari ucapan Sayyid Quthb adalah luasnya uslub beliau ketika mengatakan (tetapi mereka tidak akan bisa menyusun huruf-huruf di awal surat seperti yang terdapat dalam Qur’an ini, karena Al-Qur’an termasuk perbuatan ALLAAH & bukan perbuatan manusia). Ungkapan ini jelas keliru akan tetapi apakah langsung dengan hal tsb kita dapat memvonis bahwa Sayyid mengatakan Qur’an makhluq? Ya ALLAAH aku sungguh tidak dapat melakukannya. Hal ini mengingatkan aku dengan ucapan sejenis dari Syaikh Muhammad Abdul Khaliq ‘Azimah rahimahuLLAAH dalam muqaddimmah kitabnya Dirasat fi Uslubil Qur’anil Kariem yang dicetak oleh Universitas Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islmiyyah, apakah kita menuduh semuanya telah mengatakan Quran itu makhluq, Ya ALLAH sungguh tidak demikian. Dan aku cukupkan hal ini tapi dari sisi lain aku ingin mengungkapkan hal-hal berikut ini:

1 – مسودة هذا الكتاب تقع في 161 صفحة بقلم اليد، وهي خطوط مختلفة، ولا أعرف منه صفحة واحدة بقلمكم حسب المعتاد، إلا أن يكون اختلف خطكم، أو اختلط علي، أم أنه عُهد بكتب سيد قطب رحمه الله لعدد من الطلاب فاستخرج كل طالب ما بدا له

تحت إشرافكم، أو بإملائكم.

لهذا فلا أتحقق من نسبته إليكم إلا ما كتبته على طرته أنه من تأليفكم، وهذا عندي كاف في التوثيق بالنسبة لشخصكم الكريم.

Draft kitab ini terdiri dari 161 halaman dengan tulisan tangan, dengan khath yang berbeda (tidak 1 orang yang menulis) & tidak ada 1 halamanpun yang aku kenal sebagai tulisan engkau, kecuali jika tulisan engkau sudah berubah atau aku sudah tidak kenal lagi tulisanmu atau tulisan ini sengaja dibuat oleh murid-muridmu sehingga masing-masing murid menulis tentang apa yang menjadi pendapatnya tentang Sayyid di bawah bimbingan engkau atau engkau diktekan pada mereka. Oleh sebab itu aku tidak mengecek nisbah buku ini kepadamu, kecuali dari apa yang tertulis di halaman muka naskah ini & ini cukup bagi aku.

2 – مع اختلاف الخطوط إلا أن الكتاب من أوله إلى أخره يجري على وتيرة واحدة وهي: أنه بنفس متوترة وتهيج مستمر، ووثبة تضغط على النص حتى يتولد منه الأخطاء الكبار، وتجعل محل الاحتمال ومشتبه الكلام محل قطع لا يقبل الجدال…وهذا نكث لمنهج النقد: الحيدة العلمية .

Meskipun tulisan tangannya berbeda tetapi kitab ini dari awal hingga akhir punya kesamaan yaitu jiwa yang menggebu-gebu, melonjak-lonjak yang emosional sehingga melahirkan kesalahan-kesalahan besar, yang menjadikan hal-hal yang ucapan-ucapan yang mutasyabih langsung dianggap qath’i (tanpa perlu diperdebatkan), dan ini adalah kesalahan menurut metode kritik yang obyektif & ilmiah.

3 – من حيث الصيغة إذا كان قارنًا بينه وبين أسلوب سيد رحمه الله، فهو في نزول، سيد قد سَمَا، وإن اعتبرناه من جانبكم الكريم فهو أسلوب (إعدادي) لا يناسب إبرازه من طالب علم حاز على العالمية العالية، لا بد من تكافؤ القدرات في الذوق الأدبي، والقدرة على البلاغة والبيان، وحسن العرض، وإلا فليكسر القلم.

Dari sudut ungkapan-ungkapan buku ini jika dibandingkan dengan uslub & ungkapan Sayyid rahimahuLLAAH tergolong rendah, ungkapan Sayyid tinggi & jika dibandingkan dengannya ungkapan engkau seperti ungkapan anak-anak I’dad (sedang belajar bahasa Arab), tidak sesuai dengan ungkapan pelajar yang telah mendapat ijazah pendidikan tinggi. Padahal seharusnya perlu ada kesamaan kemampuan untuk merasakan bahasa & adab yang tinggi, kemampuan ilmu balaghah & ilmu bayan & kemampuan mengungkapkan & menjelaskan, jika tidak maka akan terjadi kekeliruan.

4 – لقد طغى أسلوب التهيج والفزع على المنهج العلمي النقدي…. ولهذا افتقد الرد أدب الحوار.

Metode & ungkapan emosional yang keras itu sudah sangat berlebihan, sehingga mengalahkan manhaj ilmiah dalam mengkritik, oleh sebab itu bantahan dalam tulisan ini kehilangan etika dialog.

5 – في الكتاب من أوله إلى آخره تهجم وضيق عطن وتشنج في العبارات فلماذا هذا…؟

Dalam kitab ini, dari awal sampai akhir berisi serangan, sempit dada, ungkapan-ungkapan yang kasar, maka untuk apa semua ini..?

6 – هذا الكتاب ينشط الحزبية الجديدة التي أنشئت في نفوس الشبيبة جنوح الفكر بالتحريم تارة، والنقض تارة وأن هذا بدعة وذاك مبتدع، وهذا ضلال وذاك ضال.. ولا بينة كافية للإثبات، وولدت غرور التدين والاستعلاء حتى كأنما الواحد عند فعلته هذه يلقي حملاً عن ظهره قد استراح من عناء حمله، وأنه يأخذ بحجز الأمة عن الهاوية، وأنه في اعتبار الآخرين قد حلق في الورع والغيرة على حرمات الشرع المطهر، وهذا من غير تحقيق هو في الحقيقة هدم، وإن اعتبر بناء عالي الشرفات، فهو إلى التساقط، ثم التبرد في أدراج الرياح العاتية .

Kitab ini justru menggairahkan “hizbiyyah jenis baru” yang menumbuhkan kecendrungan pemikiran pengharaman, penolakan, pembid’ahan, penyesatan pada diri para pemuda, tanpa ada dalil yang cukup. Kitab ini juga melahirkan ghurur dalam beragama, sombong, sehingga seolah-olah saat salah seorang melakukan tuduhan-tuduhan itu seolah-olah seperti orang yang melemparkan beban berat dari punggungnya lalu setelah itu ia merasa lega, seperti membawa…. , atau seperti orang yang menganggap orang lain telah kehilangan sikap wara’ & ghirah terhadap kehormatan syariat yang suci ini. Semua ini dilakukan tanpa tahqiq yang berarti menghancurkan, bukan malah membangun, meskipun ia menganggap sedang membangun bangunan tinggi, padahal hakikatnya sedang menghancurkannya & jatuh ke bawah lalu membeku tertiup angin yang kencang.

** هذه سمات ست تمتع بها هذا الكتاب فآل غـيـر مـمـتـع، هذا ما بدا إلي حسب رغبتكم، وأعتذر عن تأخر الجواب، لأنني من قبل ليس لي عناية بقراءة كتب هذا الرجل وإن تداولها الناس، لكن هول ما ذكرتم دفعني إلى قراءات متعددة في عامة كتبه، فوجدت في كتبه خيرًا كثيرًا وإيمانًا مشرفًا وحقًا أبلج، وتشريحًا فاضحًا لمخططات العداء للإسلام، على عثرات في سياقاته واسترسال بعبرات ليته لم يفه بها، وكثير منها ينقضها قوله الحق في مكان أخر والكمال عزيز، والرجل كان أديبًا نقادة، ثم اتجه إلى خدمة الإسلام من خلال القرآن العظيم والسنة المشرفة، والسيرة النبوية العطرة، فكان ما كان من مواقف في قضايا عصره، وأصر على موقفه في سبيل الله تعالى، وكشف عن سالفته، وطلب منه أن يسطر بقلمه كلمات اعتذار وقال كلمته الإيمانية المشهورة، إن أصبعًا أرفعه للشهادة لن أكتب به كلمة تضارها… أو كلمة نحو ذلك، فالواجب على الجميع … الدعاء له بالمغفرة … والاستفادة من علمه، وبيان ما تحققنا خطأه فيه، وأن خطأه لا يوجب حرماننا من علمه ولا هجر كتبه.. اعتبر رعاك الله حاله بحال أسلاف مضوا أمثال أبي إسماعيل الهروي والجيلاني كيف دافع عنهما شيخ الإسلام ابن تيمية مع ما لديهما من الطوام لأن الأصل في مسلكهما نصرة الإسلام والسنة، وانظر منازل السائرين للهروي رحمه الله تعالى، ترى عجائب لا يمكن قبولها ومع ذلك فابن القيم رحمه الله يعتذر عنه أشد الاعتذار ولا يجرمه فيها، وذلك في شرحه مدارج السالكين، وقد بسطت في كتاب (تصنيف الناس بين الظن واليقين ) ما تيسر لي من قواعد ضابطة في ذلك .

Inilah 6 ciri dari kitab ini yang nikmat, tetapi karena seperti itu ia menjadi tidak nikmat. Inilah yang tampak di hadapanku sesuai permintaanmu & aku mohon maaf atas keterlambatan jawaban ini, karena sebelumnya aku tidak punya perhatian cukup untuk membaca buku-buku Sayyid meskipun banyak beredar di tengah masyarakat. Tetapi kegoncangan yang engkau sebutkan di sana menyebabkan aku terdorong untuk banyak membaca kitab-kitab beliau, lalu aku temukan di dalamnya kebaikan yang banyak, iman yang membara & kebenaran yang jelas, penjelasan yang tegas terhadap rencana-rencana musuh terhadap Islam, meskipun terdapat ketergelinciran beliau dalam ungkapan-ungkapannya, namun banyak diantara kesalahan-kesalahan tsb terkoreksi oleh ungkapannya yang benar di tempat yang lain & mencapai kesempurnaan itu sungguh amat sulit. Dan Sayyid sebelumnya adalah seorang sastrawan yang kritikus, lalu ia beralih membela Islam melalui Al-Qur’an & As-Sunnah, serta Sirah Nabi yang harum, maka terlihatlah sikap beliau dalam berbagai problematika zamannya, dan beliau terus-menerus konsisten teradap sikapnya di jalan ALLAH Ta’ala. Dan ketika ia diminta untuk menulis permintaan maaf & penyesalan terhadap sikapnya, Sayyid mengungkapkan kalimat imaniyyahnya yang terkenal: “Sungguh jari-jari yang telah kugunakan untuk membela kalimah syahadah ini tidak akan pernah kugunakan untuk membatalkannya”, atau ungkapan beliau yang semisal itu. Maka menjadi kewajiban semuanya untuk mendokan beliau dengan ampunan, mengambil manfaat dari ilmunya, menjelaskan beberapa kesalahannya, dan bahwa kesalahannya jangan sampai membuat kita mengharamkan diri kita dari ilmunya & meninggalkan kitab-kitabnya. Ambillah pelajaran -semoga ALLAH melindungimu- dari kisah orang-orang terdahulu, seperti Abu Ismail Al-Harawi & Al-Jailani, sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah membela mereka berdua, meskipun mereka berdua memiliki beberapa kekeliruan, karena pada dasarnya jalan yang ditempuh oleh mereka berdua adalah membela Islam & Sunnah. Lihat pula kitab Manazilu As-Sa’irin karangan Al-Harawi rahimahuLLAAH Ta’ala, engkau lihat ada hal-hal yang tidak mungkin dapat kita terima, namun demikian Ibnul Qayyim rahimahuLLAAHu Ta’ala memaklumi beliau dengan permakluman yang sangat & tidak menzhaliminya & itu kita temukan dalam syarah beliau Madarijus Salikin. Dan aku sendiri telah menjelaskan dalam kitabku Tashnifun Nas Bayna Zhanni wal Yaqin (Penggolongan Manusia antara Dugaan & Keyakinan) beberapa kaidah-kaidah & pedoman dalam masalah ini.

وفي الختام فأني أنصح فضيلة الأخ في الله بالعدول عن طبع هذا الكتاب (أضواء إسلامية) وأنه لا يجوز نشره ولا طبعه لما فيه من التحامل الشديد والتدريب القوي لشباب الأمة على الوقيعة في العلماء، وتشذيبهم، والحط من أقدارهم والانصراف عن فضائلهم.. واسمح لي بارك الله فيك إن كنت قسوت في العبارة، فإنه بسبب ما رأيته من تحاملكم الشديد وشفقتي عليكم ورغبتكم الملحة بمعرفة ما لدي نحوه… جرى القلم بما تقدم سدد الله خطى الجميع.. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته،،

أخوكم بكر أبو زيد.

Dan pada akhirnya aku memberi nasihat kepada saudaraku fiLLAAH, yang mulia untuk TIDAK MENCETAK KITAB INI (Cahaya-Cahaya Islam), dan TIDAK BOLEH MENYEBARKANNYA & MENCETAKNYA, karena di dalamnya ada ’sikap antipati yang sangat’ & pelatihan yang kuat bagi para pemuda untuk menyerang para ulama, merendahkan mereka, menghina kedudukan mereka, menghindar dari keutamaan mereka. Maafkan aku, semoga ALLAH memberkatimu jika aku keras dalam ungkapanku kepadamu, semua itu karena sikap antipati pada dirimu yang kulihat & justru karena sikap sayangku kepadamu, dan juga karena keinginanmu yang sangat untuk mengetahui pendapatku dalam masalah ini. Demikian tulisan ini semoga ALLAH meluruskan semua langkah kita, Salamu ‘alaykum warahmatuLLAAHi wabarakatuh.

Saudaramu Bakr Abu Zaid

Belum lama ini saya menerima kiriman berupa sebuah buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Judulnya cukup panjang: ”Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)” Penulisnya adalah Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI, Pondok Pesantren Sidogiri, yang dipimpin seorang anak muda bernama Ahmad Qusyairi Ismail.

Membaca buku ini halaman demi halaman, muncul rasa syukur yang sangat mendalam. Bahwa, dari sebuah pesantren yang berlokasi di pelosok Jawa Timur, terlahir sebuah buku ilmiah yang bermutu tinggi, yang kualitas ilmiahnya mampu menandingi buku karya Prof. Dr. Quraish Shihab yang dikritik oleh buku ini. Buku dari Pesantren Sidogiri ini terbilang cukup cepat terbitnya. Cetakan pertamanya keluar pada September 2007. Padahal, cetakan pertama buku Quraish Shihab terbit pada Maret 2007. Mengingat banyaknya rujukan primer yang dikutip dalam buku ini, kita patut mengacungi jempol untuk para penulis dari Pesantren tersebut.

Salah satu kesimpulan Quraish Shihab dalam bukunya ialah, bahwa Sunni dan Syiah adalah dua mazhab yang berbeda. ”Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada kedua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab – dimana pun ditemukan – adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul (prinsip-prinsip dasar) keimanan, tidak juga dan Rukun-rukun Islam.” (Cetakan II, hal. 265).

Berbeda dengan Quraish Shihab, pada bagian sampul belakang buku terbitan Pesantren Sidogiri, dikutip sambutan KH. A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pesantren Sidogiri yang menegaskan: ”Mungkin saja, Syiah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlusunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syiah.”

Berikut ini kita kutip sebagian kritik dari Pesantren Sidogiri terhadap Quraish Shihab (selanjutnya Quraish Shihab disingkat ”QS” dan Pondok Pesantren Sidogiri disingkat ”PPS”). Kutipan dan pendapat QS dan PPS diambil dari buku mereka masing-masing.

1. Tentang Abdullah bin Saba’.

QS: ”Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65).

PPS: Bukan hanya sejarawan Sunni yang mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sejumlah tokoh Syiah yang diakui ke-tsiqah-annya oleh kaum Syiah juga mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sa’ad al-Qummi, pakar fiqih Syiah abad ke-3, misalnya, malah menyebutkan dengan rinci para pengikut Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan sekte Saba’iyah. Dalam bukunya, al-Maqalat wa al-Firaq, (hal. 20), al-Qummi menyebutkan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang memunculkan ide untuk mencintai Sayyidina Ali secara berlebihan dan mencaci maki para sahabat Nabi lainnya, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a. Kisah tentang Abdullah bin Saba’ juga dikutip oleh guru besar Syiah, An-Nukhbati dan al-Kasyi, yang menyatakan, bahwa, para pakar ilmu menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang kemudian masuk Islam. Atas dasar keyahudiannya, ia menggambarkan Ali r.a. setelah wafatnya Rasulullah saw sebagai Yusya’ bin Nun yang mendapatkan wasiat dari Nabi Musa a.s. Kisah Abdullah bin Saba’ juga ditulis oleh Ibn Khaldun dalam bukunya, Tarikh Ibn Khaldun. (hal. 44-46).

2. Tentang hadits Nabi saw dan Abu Hurairah r.a.:

QS: ”Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah r.a. menyangkut Nabi saw berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah r.a.” (hal. 160).

QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena sementara pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadits-haditsnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).

PPS: “Sejatinya, melancarkan suara-suara miring terhadap sahabat pemuka hadits sekaliber Abu Hurairah r.a. dengan menggunakan pendekatan apa pun, tidak akan pernah bisa meruntuhkan reputasi dan kebesaran beliau, sebab sudah pasti akan bertentangan dengan dalil-dalil hadits, pengakuan para pemuka sahabat dan pemuka ulama serta realitas sejarah. Jawaban untuk secuil sentilan terhadap Abu Hurairah r.a. sejatinya telah dilakukan oleh para ulama secara ilmiah dan rasional. Banyak buku-buku yang ditulis oleh para ulama khusus untuk membantah tudingan miring terhadap sahabat senior Nabi saw tersebut, diantaranya adalah al-Burhan fi Tabri’at Abi Hurairah min al-Buhtan yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ali an-Nash, Dr. Al-A’zhami dalam Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyatih, Muhammad Abu Shuhbah dalam Abu Hurairah fi al-Mizan, Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib dengan bukunya Abu Hurairah Riwayat al-Islam dan lain-lain.”

Dalam Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir mengatakan, bahwa Abu Hurairah r.a. merupakan sahabat yang paling kuat hafalannya, kendati beliau bukan yang paling utama. Imam Syafii juga menyatakan, “Abu Hurairah r.a. adalah orang yang memiliki hafalan paling cemarlang dalam meriwayatkan hadits pada masanya.” (hal. 320-322).

Karena kuatnya bukti-bukti keutamaan Abu Hurairah, maka PPS menegaskan: “Dengan demikian, maka keagungan, ketekunan, kecerdasan dan daya ingat Abu Hurairah tidak perlu disangsikan, dan karena itulah posisi beliau di bidang hadits demikian tinggi tak tertandingi. Yang perlu disangsikan justru kesangsian terhadap Abu Hurairah r.a. seperti ditulis Dr. Quraish Shihab: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan.” (hal. 322).

“Pernyataan seperti yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Shihab tersebut sebetulnya hanya muncul dari asumsi-asumsi tanpa dasar dan tidak memiliki landasan ilmiah sama sekali. Sebab jelas sekali jika beliau telah mengabaikan dalil-dalil tentang keutamaan Abu Hurairah dalam hadits-hadits Nabi saw, data-data sejarah dan penelitian sekaligus penilaian ulama yang mumpuni di bidangnya (hadits dan sejarah). Kekurangcakapan Dr. Quraish Shihab di bidang hadits semakin tampak, ketika beliau justru menjadikan buku Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ‘ala Sunnah Muhammadiyah, sebagai rujukan dalam upaya menurunkan reputasi Abu Hurairah r.a. Padahal, semua pakar hadits kontemporer paham betul akan status dan pemikiran Abu Rayyah dalam hadits.” (hal. 322-323).

Tentang banyaknya hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., Dr. al-A’zhami melakukan penelitian, bahwa jumlah 5.000 hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah jika dihitung hadits yang substansinya diulang-ulang. Jika penghitungan dilakukan dengan mengabaikan hadits-hadits yang diulang-ulang substansinya, maka hadits dari Abu Hurairah yang ada dalam Musnad dan Kutub as-Sittah tinggal 1336 saja. “Nah, kadar ini, kata Ali as-Salus, bisa dihafal oleh pelajar yang tidak terlalu cerdas dalam waktu kurang dari satu tahun. Bagaimana dengan Abu Hurairah, yang merupakan bagian dari mu’jizat kenabian?” (hal. 324).

Memang dalam pandangan Syiah, seperti dijelaskan oleh Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha’ (tokoh Syiah kontemporer yang menjadi salah satu rujukan kaum Syiah masa kini), yang juga dikutip oleh QS: “Syiah tidak menerima hadits-hadits Nabi saw kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahlul bait. Sementara hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi semacam Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin Ash dan sesamanya, maka dalam pandangan Syiah Imamiyah, mereka tidak memiliki nilai walau senilai nyamuk sekalipun.” (hal. 313).

PPS juga menjawab tuduhan bahwa Ahlusunnah diskriminatif, karena tidak mau meriwayatkan hadits dari Imam-imam Syiah. Pernyataan semacam itu hanyalah suatu prasangka belaka dan tidak didasari penelitian ilmiah apa pun. Dalam kitab-kitab Ahlusunnah, riwayat-riwayat Ahlul Bait begitu melimpah. Imam Bukhari memang tidak meriwayatkan hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq, dengan berbagai alasan, terutama karena banyaknya hadits palsu yang disandarkan kaum Syiah kepada Ja’far ash-Shadiq. Bukan karena Imam Bukhari membencinya. Bukhari juga tidak meriwayatkan hadits dari Imam Syafii dan Ahmad bin Hanbal, bukan karena beliau membenci mereka. (hal. 324-330).

3. Tentang pengkafiran Ahlusunnah:

QS: “Apa yang dikemukakan di atas sejalan dengan kenyataan yang terlihat, antara lain di Makkah dan Madinah, di mana sekian banyak penganut aliran Syiah Imamiyah yang shalat mengikuti shalat wajib yang dipimpin oleh Imam yang menganut mazhab Sunni yang tentunya tidak mempercayai imamah versi Syiah itu. Seandainya mereka menilai orang-orang yang memimpin shalat itu kafir, maka tentu saja shalat mereka tidak sah dan tidak juga wajar imam itu mereka ikuti.” (hal. 120).

PPS: “Memperhatikan tulisan Dr. Quraish Shihab di atas, seakan-akan Syiah yang sesungguhnya memang seperti apa yang digambarkannya (tidak menganggap Ahlusunnah kafir dan najis). Akan tetapi siapa mengira bahwa faktanya tidak seperti penggambaran Dr. Quraish Shihab? Jika kita merujuk langsung pada fatwa-fatwa ulama Syiah, maka akan tampak bahwa sebetulnya Dr. Quraish Shihab hendak mengelabui pemahaman umat Islam akan hakikat Syiah. Bahwa sejatinya, Syiah tetap Syiah. Apa yang mereka yakini hari ini tidak berbeda dengan keyakinan para pendahulu mereka.

Dalam banyak literatur Syiah dikemukakan, bahwa orang-orang Syiah yang shalat di belakang (menjadi makmum) imam Sunni tetap dihukumi batal, kecuali dengan menerapkan konsep taqiyyah… “Suatu ketika, tokoh Syiah terkemuka, Muhammad al-Uzhma Husain Fadhlullah, dalam al-Masa’il Fiqhiyyah, ditanya: “Bolehkah kami (Syiah) shalat bermakmum kepada imam yang berbeda mazhab dengan kami, dengan memperhatikan perbedaa-perbedaan di sebagian hukum antar shalat kita dan shalat mereka?” Muhammad Husain Fadhlullah menjawab: “Boleh, asalkan dengan menggunakan taqiyyah.” (348-349).

Seorang dai Syiah, Muhammad Tijani, mengungkapkan, bahwa “Mereka (orang-orang Syiah) seringkali shalat bersama Ahlusunnah wal Jama’ah dengan menggunakan taqiyyah dan bergegas menyelesaikan shalatnya. Dan barangkali kebanyakan mereka mengulangi shalatnya ketika pulang.” (hal. 350-351).

Banyak sekali buku-buku referensi utama kaum Syiah yang dirujuk dalam buku terbitan PPS ini. Karena itu, mereka juga menolak pernyataan Dr. Quraish Shihab bahwa yang mengkafirkan Ahlusunnah hanyalah pernyataan orang awam kaum Syiah. PPS juga mengimbau agar umat Islam berhati-hati dalam menerima wacana ”Persatuan umat Islam” dari kaum Syiah. Sebab, mereka yang mengusung persatuan, ternyata dalam kajiannya justru memojokkan Ahlusunnah dan memposisikannya di posisi zalim, sementara Syiah diposisikan sebagai “yang terzalimi”.

Buku terbitan PPS ini memang banyak memuat fakta dan data tentang ajaran Syiah, baik klasik maupun kontemporer. Terhadap Imam mazhab yang empat, misalnya, dikutip pendapat dalam Kitab Kadzdzabu ‘ala as-Syiah, “Andai para dai Islam dan Sunnah mencintai Ahlul Bait, niscaya mereka mengikuti jejak langkah Ahlul Bait dan tidak akan mengambil hokum-hukum agama mereka dari para penyeleweng, seperti Abu Hanifah, asy-Syafii, Imam Malik dan Ibnu Hanbal.” (hal. 366).

Terlepas dari fakta tentang Syiah dan kritik terhadap Quraish Shihab, terbitnya buku ini telah menjadi momen penting bagi PPS untuk turut berkiprah dalam peningkatan khazanah keilmuan Islam di Indonesia. PPS memang telah didirikan pada tahun 1745. Jadi, usianya kini telah mencapai lebih dari 260 tahun. Jumlah muridnya kini lebih dari 5000 orang. Sejumlah prestasi ilmiah tingkat nasional juga pernah diraihnya. Diantaranya, pada Ramadhan 1425 H, PPS berhasil meraih juara I dan III lomba karya ilmiah berbahasa Arab yang diselenggarakan oleh Depdiknas RI.

Dalam Jurnal Laporan Tahunan 1425/1426 H, disebutkan bahwa PPS juga cukup sering mendapat kunjungan tamu-tamu dari luar negeri. Termasuk dari kedutaan Australia dan Amerika Serikat. Mereka selalu menerima tamunya dengan baik. Tetapi, dengan sangat berhati-hati, selama ini, PPS senantiasa menolak dana bantuan dan hibah dari Australia dan Amerika.

PPS juga termasuk salah satu pesantren di Jawa Timur yang sangat gigih dalam melawan penyebaran paham Liberal. Ditulis dalam Laporan Tahunan tersebut: ”Tahun ini, PPS menggerakkan piranti dunia maya untuk melestarikan dan menyelamatkan ajaran Ahlusunnah dari serbuan berbagai aliran sesat. Di website http://www.sidogiri.com secara khusus disediakan rubrik ”Islam Kontra Liberal”. Rubrik ini digunakan oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk meng-counter wacana-wacana pendangkalan akidah yang ramai berkembang saat ini. Liberalisme, humanisme, rasionalisme, pluralisme, feminisme, sekularisme, dekonstruksi syariah dan paham-paham destruktif modern lainnya, menjadi bidikan yang terus ditangkal dengan wacana-wacana salaf yang dipegang Pondok Pesantren Sidogiri.”

Kita berdoa, mudah-mudahan akan terus lahir karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi dari PPS. Begitu juga dari berbagai pesantren lainnya. [Depok, 13 Rabiulawwal 1429 H/21 Maret 2008/www.hidayatullah.com]

Adian Husaini, M.A

Dalam debat di Today’s Dialogue Metro TV, salah satu pembicara yang dikenal dari kelompok liberal dengan arogan mengatakan bahwa dasar teologis kewajiban khilafah rapuh. Pernyataan seperti ini bisa dimengerti karena muncul dari seorang yang selama ini dikenal alergi dan getol menyerang syariah Islam.

Sementara itu para ulama yang diakui dan terpandang dalam Islam dalam berbagai kitab mereka justru dengan tegas menyatakan kewajiban penegakan Khilafah ini. Wajibnya khilafah bukanlah pendapat Hizbut Tahrir saja, atau Syekh Taqiyuddin an Nabhani saja. Jadi pandangan Khilafah tidak wajib, tidak punya landasan teologis justru pandangan aneh dan asing.

Perlu dicatat disamping menggunakan istilah Khilafah, para ulama juga menggunakan istilah Imam atau Imamah yang maknanya adalah sama. Pendapat Imam Ar-Razi mengenai istilah Imamah dan Khilafah dalam kitab Mukhtar Ash-Shihah hal. 186 :

الخلافة أو الإمامة العظمى ، أو إمارة المؤمنين كلها يؤدي معنى واحداً ، وتدل على وظيفة واحدة و هي السلطة العيا للمسلمين

“Khilafah atau Imamah ‘Uzhma, atau Imaratul Mukminin semuanya memberikan makna yang satu [sama], dan menunjukkan tugas yang satu [sama], yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum muslimin.” (Lihat Muslim Al-Yusuf, Daulah Al-Khilafah Ar-Rasyidah wa Al-‘Alaqat Ad-Dauliyah, hal. 23; Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Juz 8/270).

Pendapat serupa dari Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah hal. 190 :

وإذ قد بينا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام

“Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini [khalifah] dan bahwa ia adalah pengganti dari Pemilik Syariah [Rasulullah SAW] dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. [Kedudukan ini] dinamakan Khilafah dan Imamah, dan orang yang melaksanakannya [dinamakan] khalifah dan imam.” (Lihat Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-‘Uzhma ‘Inda Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah, hal. 34).

Berikut ini kami kutipkan beberapa pendapat ulama tentang wajibnya Khilafah :

Imam an Nawawi dalam Syarh Shohih muslim menulis :

أَجمعوا عَلَى اَنَّهُ يَجِب عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ نَصْب خَلِيْفَة.

Mereka (para Imam Madzhab) sepakat wajib bagi kaum muslimin mengangkat Kholifah

Imam al Mawardi mengatakan :

قال الإمام الماوردي في الأحكام السلطانية ص 5: عقد الامامة لمن يقومُ بها في الأمة واجب بالاجماع

Mengangkat Imam (Kholifah) bagi yang menegakkanya ditengah-tengah umat merupakan kewajiban berdasarkan ijma’

Al-imam Al-qurthubi ketika menafsirkan ayat 30 dari surah Al-baqarah:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Menulis :

… هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الامة ولا بين الائمة إلا ما روي عن الاصم (1) حيث كان عن الشريعة أصم، وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه ومذهبه،

…ayat ini pokok (yang menegaskan) bahwa mengangkat imam dan khalifah untuk didengar dan dita’ati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan, melalui khalifah, hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal tersebut diantara umat, tidak pula diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-asham[1], yang menjadi syariat Asham, dan begitu pula setiap orang yang berkata dengan perkataannya serta orang yang mengikuti pendapat dan madzhabnya

[1] Al-asham adalah salah satu tokoh senior Mu’tazilah, nama lengkapnya adalah Abu Bakar Al-asham

Adapun tentang kewajiban ditengah kaum muslimin terdapat satu Kholifah ditegaskan juga oleh para ulama antara lain :

ونعيد هنا ما قرره كتاب (الفقه على المذاهب الأربعة) 5/416: (اتفق الأئمة رحمهم الله تعالى على أن الإمامة فرض، وأنه لا بد للمسلمين من إمام يقيم شعائر الدين وينصف، المظلومين من الظالمين، وعلى أنه لا يجوز أن يكون على المسلمين في وقت واحد في جميع الدنيا إمامان، لا متفقان ولا مفترقان).

Penulis buku الفقه على المذاهب الأربعة) )mengatakan : telah sepakat para Imam Madzhab semoga Allah merahmati mereka tentang kewajiban imamah (khilafah)…dan tidak boleh bagi kaum muslimin dalam waktu yang sama di seluruh dunia terdapat dua imam..

وقال النووي في شرح مسلم ج 12/232: (واتفق العلماء على أنه لا يجوز أن يعقَدَ لخليفتين في عصر واحد سواء اتسعت دار الإسلام أم لا)

Imam An Nawawi dalam syarh shohih muslim mengatakan :

Telah sepakat para ‘ulama bahwa tidak boleh diangkat dua orang kholifah dalam waktu yang sama , sama saja apakah Darul Islam itu luas atau tidak

Kutipan diatas hanya sebagian saja dari pendapat ulama yang mereka gali berdasarkan al Qur’an, As Sunnah serta ijma’ sahabat.

http://hizbut-tahrir.or.id/2010/01/02/kewajiban-khilafah-landasan-teologisnya-rapuh/

Sejumlah pimpinan Ikhwan al-Muslimin di antaranya Muhammad Mursi menyatakan Sayyid Quthub tidak pernah keluar dari golongan Ahlussunnah wal Jamaah. Mereka juga menegaskan semua pemikiran Sayyid Quthub, baik tertulis maupun terucap, secara keseluruhan tetap selaras dengan manhaj Ikhwan al-Muslimin, tidak ada satu pun yang menyalahi kaidah dan dasar kelompok tersebut. Quthub juga dianggap tidak pernah mengkafirkan kelompok Islam lain dan tidak pernah mendakwahkan perlawanan kepada pemerintahan sah.

Muhammad Mursi yang menjabat Direktur Politik Ikhwanul Muslimin ini pun menegaskan bahwa apa yang dikatakan oleh Syekh Yusuf Qardhawi tentang buku-buku Sayyid Quthub dan pemikirannya di penghujung usianya dan bahwa Quthub telah keluar dari manhaj Ahlussnah wal Jamah, semua itu bertentangan dengan apa yang disaksikan langsung oleh orang-orang sezamanya.

“Orang-orang yang pernah bergaul dengan Quthub bahkan yang bukan Ikhwan sekalipun tak akan mengatakan hal seperti ini. Almarhum Makmun al-Hudhaibi menceritakan bahwa menjelang eksekusi matinya tahun 1965, Quthub memintanya untuk menyampaikan pesan kepada ayahnya al-Mursyid Hasan al-Hudhaibi bahwa dirinya tidak pernah mengkafirkan siapa pun, dan dia masih tetap memegang janji,” ujar Mursi seraya menjelaskan arti janji yang dimaksud Quthub adalah Islam.

Pernyataan sejumlah tokoh Ikhwan ini merupakan bantahan terhadap pernyataan Syekh Yusuf al-Qardhawi terkait dengan pemikiran takfir yang dituangkan Quthub dalam buku-buku terakhirnya. Menurut Qardhawi, Quthub dengan pemikiran tersebut telah keluar dari manhaj Ahlusunnah wal Jamaah yang dianut mayoritas umat Islam.

Pernyataan Qardhawi tersebut disampaikan dalam dialog bersama Dr Dhia Rishwan, wakil direktur al-Ahram, bidang studi politik dan strategi, dalam program acara televisi “Manabir wa Madafi” (Mimbar dan Debat) yang disiarkan oleh kanal al-Fara”in Mesir pada Jumat (7/8) lalu. (islamonline/sbl/em)


KALENDER HIJRIYAH

KATEGORI

ARSIP

ONLINE

Counter Powered by  RedCounter
Advertisements